Hal-hal yang Jungkir Balik Di Akhir Ramadhan

Hal-hal yang Jungkir Balik Di Akhir Ramadhan

hal hal yang jungkir balik di akhir ramadhan

colourbox.com

Sholat tarawihnya berapa rokaat, Bro-Sist?

Kebetulan di tempatku selalu melaksanakan sholat tarawihnya 23 rokaat (+witir). Jadi ceritanya tadi malam (Rabu, 15 Juni 2015), seperti biasa daku dan warga sholat tarawih, yang kemungkinan terakhir di Ramadhan tahun ini.

Ada hikmahnya daku enggak buru-buru berdiri ketika sudah waktunya sholat witir. Niatnya mau sedikit istirahat. 😀 tapi rupanya jemaah yang sudah berdiri pun duduk kembali. Imam malah menghadap ke arah jemaah, tanda ada sesuatu – atau tepatnya ceramah – yang hendak beliau sampaikan.

Imam atau sebut saja Pak Kyai Haji menyampaikan beberapa hal terkait Ramadhan, akhir Ramadhan serta bonus dongeng tentang orang yang jatuh cinta berat sama dunia. Namun kali ini daku akan mengemasnya dengan versi sendiri. Fokus pada hal-hal terkait akhir Ramadhan. Sedikit pahit, tapi menarik. 

sedih dan bahagia

awakenbeyond.com

Sesuai judul postingan kali ini, ternyata memang ada hal-hal yang kontradiktif di akhir bulan puasa. Fakta dan realitanya jungkir-balik. Mestinya begini, malah begitu. Harusnya begitu, eh jadinya begini. Duh, sorry sudah membingungkan. 😀

Nah berikut ini hal-hal yang jungkir balik jelang lebaran atau di akhir Ramadhan:

#1. Di akhir Ramadhan, kita justeru berbahagia. Padahal makhluk Allah Swt yang lain malah berduka. Seperti isi hadist yang disampaikan Pak Kyai semalam. Dari Jabir RA, dari Nabi Muhammad Saw:

“Begitu datang malam di akhir Bulan Ramadhan… langit, bumi dan para malaikat menangis karena umat Islam ditimpa musibah.”

Sahabat bertanya,

“Musibah apa ya, Rasulullah?”

“Berlalunya Bulan Ramadhan. Sebab di bulan itu… segala doa dikabulkan, sedekah diterima, pahala kebaikan dilipatgandakan dan siksaan diistirahatkan. Maka apa yang jadi musibah terbesar jika semua itu sudah berakhir?”

Phew!

#2. Kita justeru menganggap akhir Ramadhan itu sebagai anugerah, padahal musibah (hadistnya di nomor #1). Hal ini dikarenakan kita kurang tulus dan sabar dalam beribadah. Kita juga masih dangkal akan pengetahuan terkait keutamaan Ramadhan, sehingga lebih ingat pada ‘ujian-ujian’ Ramadhannya saja.

#3. Di akhir ramadhan, kita justeru banyak tertawa dan sedikit menangis. Kita tertawa karena ‘merasa’ lega segala pantangan Ramadhan akan berlalu, segala anjuran Ramadhan akan berakhir, banyak makanan, kumpulan keluarga, dsb. Sampai lupa, bahwa akhir Ramadhan berarti tak ada lagi bulan penuh anugerah dan kemuliaan. Sebab tahun depan, siapa yang tahu kita masih sempat berjumpa dengan Ramadhan (lagi).

#4. Kita justeru antusias mengharapkan bulan-bulan lain yang datang. Padahal mestinya kita mengharapkan Ramadhan itu tinggal. Hal ini juga sempat disabdakan Nabi Muhammad Saw. Hadistnya diriwayatkan Abu Ya’la Ath thabrani dan Ad Dailami:

“Sekiranya umatku mengetahui kebajikan-kebajikan yang dikandung bulan Ramadhan, niscaya umatku mengharapkan Ramadhan terus ada sepanjang tahun.”

#5. Kita justeru menyalakan mercon dengan meriah di tengah isak-tangis alam semesta. Ini juga sesuatu yang kontras. Banyak yang saking gembiranya sampai membeli mercon mahal atau membunyikan sesuatu yang lain sebagai luapan kebahagiaan. Tanpa kita tahu alam justeru sesenggukan karena berpisah dengan Ramadhan.

#6. Air mata haru kita vs air mata sedih alam semesta. Sekalipun manusia menangis, sebagian besar disebabkan karena rasa haru akan menyambut lebaran. Jarang yang airmatanya keluar karena benar-benar berduka mesti berpisah dengan Ramadhan.

#7. Alasan kesedihan akhir ramadhan justeru karena sesuatu yang bersifat duniawi. Ada lagi beberapa orang yang memang menangis sedih di akhir Ramadhan. Sayang faktor kesedihan itu bukan karena perginya bulan Ramadhan, melainkan lebih karena… belum beli baju baru, tidak punya alat sholat yang baik untuk sholat ied, tidak sempat membuat kue lebaran dsb.

#8. Pikiran kita justeru disibukkan dengan “balas dendam atas Ramadhan”. Misalnya ketika Ramadhan jarang menikmati bakso, kita sudah ancang-ancang untuk menikmati makanan olahan tersebut saat lebaran. Atau kita juga ‘balas dendam’ dengan tidur sampai agak siang, sebab ketika Ramadhan mesti bangun untuk sahur.

#9. Betapa mudahnya kita “melupakan” Ramadhan dan lebih mementingkan hal-hal lain di luar Ramadhan. Begitu Ramadhan berlalu, maka berlalu juga ‘kebaikan khas Ramadhan’ yang kita tunaikan. Di bulan Ramadhan kita sering bersedekah, mulai sholat tahajud, mulai tadarus, dsb. Begitu Ramadhan berakhir, kita seolah-olah lupa kebiasaan-kebiasaan baik tersebut. Sebagian memutuskan untuk konsisten melaksakannya, sebagian lain lagi malah kembali melalaikannya.

#10. Kita justeru menganggap “sudah lulus” dan “sudah bebas”. Selama sebulan lamanya ditempa oleh bulan puasa, kita jarang mengevaluasi diri. Yang ada, kita malah menganggap diri sudah bebas atau lulus. Padahal akhir Ramadhan justeru menjadi awal bagi kita untuk terus mengendalikan diri, layaknya yang diajarkan bulan suci itu.

Duh…

Daku tidak bermaksud “mengusik” momen lebaran ya, Bro-Sist. Daku juga tidak menyamaratakan kalau orang puasa semuanya begitu. Hanya saja sebagai pengingat kita bersama, sekalian menjadi penyambung lidah dari apa yang disampaikan oleh Pak Kyai.

Kita hanya manusia biasa; yang lemah, yang punya hawa nafsu, yang kadang lupa bersyukur, yang terlalu banyak menuntut, yang brengsek dan yang tidak sempurna.

Mudah-mudahan Allah Swt mengampuni kita semua. Aamiin… #RD

3 Comments
  1. prajuritkecil99
    • deeann
  2. Rusminah Qumainah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *