Ketika Orang Menyangka yang Tidak-Tidak Terhadap Keluarga Kita

Ketika Orang Menyangka yang Tidak-Tidak Terhadap Keluarga Kita

Yoona menebak nebak “Ih takut saya mah, masa pedagang kayak Mbak membangun rumahnya bisa sekaligus?!”

kata seorang ibu-ibu (sebut saja Bu A) ketika beliau mendatangi rumah kami,

“Kalau enggak pake sesuatu, pasti enggak mungkin bisa kayak gini,” lanjutnya sambil melihat ke sekitar.

“Ya iyalah,” sahut Mimihku, “Segala sesuatu juga pake sesuatu…”

Beliau mengakui waktu itu ucapannya sarkastik. Soalnya sedikit terusik juga ketika Bu A berkomentar sambil bergidik. Entah tujuannya bercanda atau memang bagaimana, namun Mimih tetap saja tidak enak. Tapi masih beruntung sebab Bu A bilang begitu secara live.

~

Kurang lebih begitulah percakapan antara Mimih dan Bu A. Mimih bilang begitu padaku akhir-akhir ini, padahal kejadiannya sudah sangat lama. Ya tepatnya ketika rumah kami baru selesai dibangun dan bisa ditempati. Itu artinya ketika daku masih sekolah. Daku baru tahu sekarang…

Mimih menceritakan hal itu karena ada penyebabnya. Kalau sekarang kejadiannya masih terbilang baru. Jadi ceritanya, ada yang membeli kain kebaya pada Mimih. Sebut saja Bu B. Dia kemudian balik lagi ke kios kecil kami.

Di kios, ada beberapa pelanggan yang masuk. Mimih melayani Bu B dan daku menghadapi pembeli lainnya. Daku juga sempat mendengar sekilas, namun kemudian bertanya lagi pada Mimih begitu pelanggan kami sudah keluar.

“Tadi Bu B bilang apa?”

“Katanya… jangan-jangan di sini pake pengasihan atau apa,” Mimih menirukan bagaimana Bu B mengatakan hal itu di depan pembeli lain, “Pas di sini sih kainnya kelihatan bagus, tapi pas datang ke rumah kok kainnya jadi biasa-biasa aja?!” sambung beliau dengan wajah yang… ‘enggak percaya, kok ada orang yang sampai hati bilang begitu di depan muka sendiri dan disaksikan orang lain’.

Demikian halnya denganku.

“Lalu kenapa Bu B balik lagi dan membeli kain sama kita lagi?” Daku tersinggung.

Mimih mengangkat bahu. Crap! Daku salah tanya.

Dari sana, kemudian Mimih menceritakan yang kasus Bu A. Lalu ada juga Bu C, yang komentarnya hampir sama dengan Bu A. Namun yang satu ini sedikit asem juga. Katanya,

“Dagang cuma gitu kok bisa sampai bangun rumah dan naik haji?!”

Secara tidak langsung mereka sudah men-judge Mimih, ‘kan? Mereka juga mengejek, ‘kan? Dan daku sebagai salah-satu anak beliau wajar kalau tidak terima, ‘kan?

[Baca Juga: Ketika Jadi Bahan Gosip, Kita Harus Bagaimana?]

Jujur, daku sulit lupa komentar Bu A dan Bu C. Lebih lagi mereka berdua terbilang dekat. Jadinya tiap kali bertemu suka ‘agak berbeda’. Ya… enggak terlalu pengin ber-ramah tamah atau bagaimana. Kalau sama Bu B sih, rumahnya agak jauh. Bahkan daku sudah lupa lagi wajahnya.

Nah ternyata hal seperti dialami juga oleh besan Mimih. Kebetulan beliau juga pedagang di pasar. Nah ada orang yang bilang begini,

“Cuma pedagang sayur kok bisa bangun rumah mewah sih?!”

Yang satu ini makin bikin daku geleng-geleng kepala. Orang itu, siapapun dia, pasti tidak tahu. Anak-anak besan Mimihku itu pada bekerja. Kemungkinan besar uang untuk membangun rumah mewahnya berasal dari anak beliau yang bekerja di luar negeri (Arab Saudi). Ada juga anaknya yang bekerja di Korea Selatan, serta yang satunya di kapal pesiar.

Orang kadang terlalu cepat menyimpulkan

Kembali lagi pada apa yang dialami Mimih. Mungkin orang-orang memang heran, soalnya Mimih ini single parent. Namun beliau bisa menunaikan rukun Islam ke-5, membangun rumah dan menyekolahkan anak-anaknya.

Kami bahagia. Tapi ternyata di balik kebahagiaan itu, kami mesti menelan komentar-komentar pahit dari orang lain. Solusinya? Kata Mimih,

“Biarin.”

Ya itulah. Tak ada acara klarifikasi atau melabrak. Daku jadi ingat kata-kata orang bijak,

“Siapa dirimu bukan ditunjukan dari apa perkataan orang tentangmu.”

sindiran untuk orang yang menjudge

Bahasa Sindiran untuk Judgement Orang. Mohon maaf. [pinterest.com/anialvj/dont-judge-me/]

Entah apa motif dibalik komentar dan judgement tidak manusiawi terhadap keluarga kami. Daku hanya bisa meraba-raba. Tapi pada dasarnya ada tiga alasan utama. Mungkin ya, mereka itu…

  • Terlalu perhatian.
  • Tidak tahu sama-sekali.
  • Grasa-grusu menyimpulkan sesuatu.

Crap!

Daku jadi ikut menyangka-nyangka!

Masih kata Mimih dan yang ini selalu berhasil bikin daku baikan,

“Ingat. Kata kunci dari rezeki itu bukan BANYAK, tapi BERKAH.”

Oh… insya Allah daku akan selalu ingat kata-kata itu, Mih. #RD

~

PS:

Tulisan ini sebisa mungkin daku ‘perhalus’. Masih sedang dalam suasana Ramadhan, jadi berusaha mengontrol emosi walau via tulisan. Jadi mohon maaf kalau terkesan ‘tidak lepas’. Maafin juga kalau tidak berkenan, ya. Peace!

6 Comments
  1. biru
    • deeann
  2. Gilang Maulani
    • deeann
  3. Bloggerpedia
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *