Mereka yang Berduka di Hari Raya

Mereka yang Berduka di Hari Raya

mereka yang berduka di hari raya, kesedihan dalam kebahagiaan

illustrationsource.com

Siapa yang berduka di hari raya?

Sebenarnya kita semua ya, Bro-Sist. Khususnya kaum muslim. Kita dalam keadaan menyedihkan, sebab mesti berpisah dengan Ramadhan.

Itu secara umum.

Secara khususnya, memang ada banyak kejadian yang menjadikan lebaran jadi suatu momen yang kelabu. Ceritanya daku sedang senyum-senyum menceritakan kebahagiaan pada Mimih. Respons beliau ceper aka datar. Lalu beliau bilang,

“Iya, ya?! lebaran ini ada yang senyum, ada juga yang nangis,” beliau memandang ke sembarang arah, “Kasihan mereka yang mau mudik, eh di tengah jalan malah kecelakaan. Ada yang sampai meninggal…”

Daku menelan ludah. Memang tak ada anggota keluarga dekatku yang melakukan ‘ritual’ mudik atau pulang kampung, tapi bisa dibayangkan, pastinya amat sangat berat ketika orang yang ditunggu-tunggu malah pulang dalam keadaan… tinggal nama. Oh…

Mimih bilang seperti itu setelah mengetahui kabar – baik secara langsung maupun dari televisi – soal kecelakaan lalu-lintas di Tol CiPali (Cikopo – Palimanan). Pos Pengamanan di tol tersebut melaporkan kalau kecelakaan yang terjadi di sana mencapai 16 kasus (Rabu/15 Juli 2015).

Berita duka lain banyak tersebar di media massa. Salah-satu yang paling disayangkan yaitu kebakaran mesjid (sengaja) di Tolikara, Wamena, Papua. Tempat ibadah itu bahkan dirusak ketika jemaah tengah melangsungkan sholat Ied. Duh… tapi yang lebih menyedihkannya itu…

Lagi, lagi dan lagi, kerukunan antar umat beragama di antara kita kembali terusik. Di momen Idul Fitri, lagi?!

Sebagaimana kita tahu adat Papua, yang kabarnya membalas A dengan A dan B dengan B. Dan, hal ini sangat sensitif. Mirisnya, banyak yang seperti jadi “penyedia sumbu” agar orang-orang makin ‘terbakar’. Provokasi dan adu domba di mana-mana.

Media atau siapapun yang bisa meredakan suasana, tolonglah

~

Oke. Sebenarnya tidak perlu jauh-jauh, di lingkunganku saja ada beberapa yang tengah berduka. Mereka kehilangan orang-orang tercinta di detik-detik jelang Hari Raya.

[sehari sebelum lebaran, 16 Juli 2015]

“Ada kain kafan, enggak?” Ceu L bertanya pada Mimih yang sedang berdiri di luar kios, sementara daku ada di dalam mendengarkan mereka.

“Ada, butuh berapa meter?” pertanyaan ini daku tunggu-tunggu jawabannya.

“Semeter aja, tapi komplit.”

Nah loh?! Puzzle. Semeter tapi komplit?

“Buat akikah?” Mimih tanya balik “Berarti peralatan yang lain-lainnya…”

“Bukan,” Ceu L langsung menyanggah, “Buat yang meninggal.”

“10 meter, kali?” pertanyaan Mimih mewakili pertanyaanku.

“Semeter,” Ceu L kembali menegaskan, “Buat bayi.”

Mimih terlihat shock, begitu pun daku.

“Bayi? Anaknya D?” tebak Mimih, lagi-lagi mewakili tebakanku sebab adiknya Ceu L (D) sedang hamil tua.

“Iya…”

Gimana mengibaratkannya, ya?

Hatiku serasa diremas. Yang daku tahu D itu, sampai usia kehamilannya tua sekalipun, masih datang ke kios kami dan belanja keperluan bayinya sendiri. Terakhir ketemu mungkin belum seminggu dari kabar mengejutkan ini.

Ceu L menceritakan kalau sebenarnya sang bayi sudah keluar dengan selamat. Namun sehari kemudian, begitu hendak dimandikan, orang yang disuruh memandikannya mencurigai sesuatu. Ada cairan yang keluar dari hidung makhluk mungil itu. Cairannya pun mencurigakan.

Baca juga: Hal-hal yang Salah-Kaprah di Hari Lebaran

Sang bayi langsung dibawa ke Puskesmas, tapi mereka tidak menyanggupi. Dia kemudian dilarikan ke Rumah Sakit di Kuningan, tapi kemudian ditolak karena peralatannya tidak ada. Bayi itu akhirnya dibawa ke Rumah Sakit yang lebih besar di Cirebon. Setelah dirawat, nyawanya tetap tak tertolong…

~

Ya Allah, mudah-mudahan musibah dan kemalangan yang menimpa kami bisa menjadi penghapus dosa-dosa, menjadi sesuatu yang makin mendekatkan kami dengan Engkau, menjadi jalan bagi kebahagiaan di depan dan kami bisa mengambil hikmahnya. Aamiin… #RD

2 Comments
  1. heri
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *