Review Lagu “The Gift of Love” – Sami Yusuf

Review Lagu “The Gift of Love” – Sami Yusuf

Sami Yusuf, review lagu the gift of love

Google Image

Ini dia anthem perdana tentang “Kerukunan Antar Umat Beragama Sedunia”.

Tepat rasanya melibatkan Om Sami Yusuf dalam proyek seperti ini. Beliau jadi duta atau semacam ambassador yang membawa pesan cinta dan kedamaian bagi sesama manusia. Selain kepribadiannya yang toleran, lirik-lirik lagunya pun memang begitu damai.

Bukankah cinta kita, memang mestinya tertuju untuk Allah Swt (Habluminallah) dan untuk manusia (habluminannaas)?

Tak pernah gitu, Dia memberi titah agar kita mencintai orang-orang tertentu saja, orang-orang senegara saja atau orang-orang seagama saja. Melainkan seluruh manusia. Bahkan, Islam sangat diharapkan jadi rahmat bagi semesta. Tentu, misi itu sangat tergantung pada para pemeluknya. Iya, ‘kan?

Sekilas Tentang Lagu “The Gift of Love” – Sami Yusuf

Pembuatan lagu ini dilakukan dalam rangka merayakan “Harmoni Kerukunan Umat Beragama Sedunia” ke-5 di awal tahun 2015. Liriknya ditulis oleh Ghazi Bin Muhammad. Beliau juga, dibantu oleh Om Sami Yusuf yang jadi komposernya.  Om Sami Yusuf bekerja sama dengan Andante Records menciptakan lagu, video klip serta kampanye damai dengan pesan utama; cinta padaNya dan cinta pada sesama.

Video Klip Lagu “The Gift of Love” – Sami Yusuf

Siros Kerdouni jadi sutradara untuk music video-nya. Mereka mengambil setting tempat di Yordania dan Yerusalem Timur. Tampak para bintang video klipnya pun jadi representasi berbagai agama.

Om Sami Yusuf Cs menyorot lokasi-lokasi vital dan situs-situs popular di Yordania. Sebut saja Mesjid King Hussein di Amman, “The Citadel”, “Situs Holy Baptism”, “Wadi Rum” dan “Petra”. Begitupun dengan Yerusalem. Semuanya, audio dan visualnya, diracik dengan apik.

Silakan saksikan langsung dengan URL youtube berikut ini: [https://www.youtube.com/watch?v=LHFuyK65Etg]

Lirik dan Terjemahan Lagu “The Gift of Love” – Sami Yusuf

Sami Yusuf berkaus merah sedang memainkan biola

Love to give!

To give is love,

And love the gift,

The gift of love.

 ~

Cinta untuk dihadiahkan

Untuk dihadiahkan itu adalah cinta

Dan cintai hadiah itu,

hadiah cinta

 ~

No belief!

Without the love,

Believe in love!

The belief of love

~

Tak ada kepercayaan

tanpa cinta

Percayai cinta

Kepercayaan cinta

 ~

Love to give!

The gift of love,

Give the other,

All your love.

 ~

Cinta untuk dihadiahkan

Hadiah cinta

Hadiahi sesama

Semua cintamu

 ~

What a relief!

To give my love,

I am now you,

And you are my love!

~

Lega rasanya

Untuk memberikan cinta

Aku Engkau kini

Dan Engkaulah cintaku

~~~

Makna Lagu “The Gift of Love” – Sami Yusuf

Sami Yusuf dan seorang pendeta

Facebook Sami Yusuf

Daku berlindung pada Allah Swt atas semua kesalahan atau kekhilafan dalam membahas lagu yang berkaitan dengan “toleransi beragama” ini.

Sudah dibahas sebelumnya, inti dari lagu ini yaitu tentang sikap kita terhadap perbedaan, khususnya perbedaan keyakinan. Lega rasanya jika kita semua mengedepankan cinta ketimbang amarah karena adanya jurang perbedaan. Amarah hanya akan membuahkan kebencian dan penderitaan dalam perbedaan. Sebaliknya, cinta akan menjembatani perbedaan itu menuju suatu kehidupan yang tentram dan harmonis.

Namun patut kita garisbawahi kalau sikap toleransi tidaklah bersifat sinkretis. Dalam artian, toleransi bukan berarti kita meyakini kalau semua agama itu sama. Ada beberapa hal yang mesti kita perhatikan untuk melakoni sikap toleransi:

  • Kita tidak bisa menyamaratakan semua keyakinan. Islam dengan agama lain itu berlainan. Akidah atau keyakinan dan tata cara ibadahnya pasti beda.
  • Kita sudah memeluk Islam, maka agama inilah yang mesti kita junjung kebenarannya. Kita mesti yakin kalau Allah Swt adalah Dzat satu-satunya yang patut disembah.
  • Namun kita juga mesti menebar cinta dan menjamin kenyamanan bersama bagi para pemeluk agama lain. Bersikap baik dalam bermuamalah atau dalam hidup bermasyarakat itu sangat dianjurkan. Toh, sama-sama manusia tentunya memerlukan hidup sosial.
  • Biarkan mereka memegang keyakinan dan melakoni ibadahnya dengan tenang. Singkatnya, untukmu agamamu dan untukku agamaku.
  • Jangan mencela kepercayaan, prosesi ibadah atau sesuatu yang di-Tuhan-kan oleh agama lain.
  • Soal hidayah atau keyakinan seseorang, semua itu urusan-Nya. Kita serahkan pada-Nya saja. Tugas kita hanya bisa berbaur dengan yang lain dalam suasana aman tentram.
  • Biarkan mereka merasakan kenyamanan yang sama dari agama yang kita peluk. Islam itu rahmat atau kasih sayang untuk semesta, untuk semua makhluk yang ada di dunia.

Lagipula tak ada kepuasan lahir-batin apabila menyaksikan seseorang yang berkeyakinan seperti keyakinan kita, namun hatinya malah menoleh ke arah lain. Sudah banyak disinggung, kalau Islam itu sifatnya membawa kedamaian dan keselamatan.

Ajaran ini juga sangat memudahkan penganutnya. Tak perlu mempersulit keadaan dengan ogah “hidup harmonis” bersama dengan agama lain. Islam tak menghendaki hal yang demikian. Sudah tegas dalam Alquran, “tak ada paksaan dalam memeluk agama”.

Insya Allah, jika kita sudah bisa bertakwa padaNya serta bisa menebar cinta pada sesama manusia, maka Cinta Allah pun akan didapatkan. Aamiin… Wallaahu a’lam. Koreksi daku kalau salah ya, Bro-Sist. #RD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *