15 Kesalahan Finansial atau Keuangan yang Paling Sering Kita Lakukan

15 Kesalahan Finansial atau Keuangan yang Paling Sering Kita Lakukan

15 kesalahan finansial yang sering kita lakukan

Cr: hub.endsleigh.co.uk

Keuangan, ekonomi, finansial, rupiah atau dollar memang selalu jadi pembicaraan orang. Lebih lagi zaman sekarang?!

Nah berawal dari perhatian diam-diamku terhadap dua orang, hatiku tergerak untuk menuliskan postingan ini. Dua orang itu sudah terbilang tante-tante dan om-om. Mereka pasangan suami-isteri.

Daku mengagumi mereka. Khususnya manajemen keuangannya. Maaf bukan bermaksud merendahkan, namun pekerjaan sang suami bukanlah PNS atau pebisnis yang usahanya mengakar. Isterinya pun sekadar ibu rumah tangga. Tapi keduanya seperti memiliki racikan sendiri agar kondisi keuangan keluarganya tetap tertata.

Padahal banyak diantara kita yang mencari uang lalu menghabiskannya (saja). Rasanya kita terjebak di lingkaran yang itu-itu saja. Mencari, mendapatkan lalu menghabiskan. Begitu seterusnya.

Apanya yang salah, ya? Jangan-jangan kesalahan tersebut sering kita ulang-ulang? Nah, jom!

#15. Jarang Sedekah

Daku rasa, setiap ajaran menganjurkan kita untuk membantu sesama. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Namun tujuannya tentu bukan untuk pamer. Bukan juga untuk mempersulit kebutuhan sendiri dan uang keluarga. Dalam sedekah, kita mencari keberkahan dan ridho Sang Pencipta.

Ada aura tenang tersendiri juga ketika kita bisa berbagi bersama. Meski secara matematika dikatakan 1 juta disedekahkan 500 ribu itu sama dengan lima ratus ribu, namun yakin saja hitung-hitungan Allah Swt tidaklah demikian.

Baca Juga: Artis Dunia yang Membantu Fans dengan Uang Pribadinya

#14. Cepat Puas dengan Penghasilan Yang Statis

Sikap teguh pendirian memang ada baiknya juga. Namun kalau pendapatan pun tetap teguh di tengah pengeluaran yang terus naik, sepertinya mesti kita pertimbangkan lagi. Untuk urusan dunia, tak ada salahnya kita mencari yang lebih banyak dan berdoa agar diberi keberkahan.

Siapa tahu nanti akan tambah anak, atau siapa tahu nanti harga semakin menanjak, atau nanti biaya pendidikan akan mahal, dsb. Kalau ‘aliran pendapatan’ semakin ditambah, maka kita pun tak perlu gundah.

#13. Terlalu Muluk dalam Mengejar Uang

Yang satu ini seperti kebalikan dari nomor 14. Namun, mencari uang atau pendapatan di sini bersifat keterlaluan. Tak baik juga kalau kita terlalu terfokus pada uang, uang dan uang. Apalagi sampai mengorbankan nilai-nilai lain. Misalnya mengejar uang tapi mengabaikan keluarga, melalaikan perintah agama atau sampai tak memerdulikan kesehatan diri sendiri. Kalau sudah sakit, biayanya akan semakin mahal.

#12. Enggan Menyesuaikan dengan Keadaan

Seperti halnya remaja, hidup pun labil. Harga cabe kadang di atas dan kadang di bawah. Misalnya keluarga kita sudah biasa mengkonsumsi cabe 1 kg/ hari. Ketika keadaan membuat harganya meroket, alangkah baiknya kita mengurangi konsumsinya dulu atau mencari alternatif pedas dari yang lain.

Begitupun ketika sekarang dollar menguat, rupiah melemah, barang serba raib dan harga sembako makin mencekik, ada baiknya untuk mencoret berbagai pengeluaran ekstra (dulu). Atau bagi lelaki perokok. Ketika sudah memiliki anak, alangkah bijaknya jika konsumsi barang tersebut dikurangi, Syukur-syukur kalau bisa dihilangkan. Daripada dibakar, lebih baik ditabung untuk biaya anak nantinya.

#11. Terkecoh Oleh Harga Murah

Kita sering dengar orang bilang “ah yang penting murah” atau “ah yang penting punya atau ada”. Kalimat seperti ini tak bisa diterapkan dalam setiap hal, terutama pada sebuah barang yang akan sering kita pakai. Misalnya ponsel.

Tentu akan boros juga kalau kita membeli ponsel murah dan berkualitas rendah, lalu sering rusak dan kita akan sering juga melakukan service atau membeli ponsel yang baru. Lagi dan lagi. Ada baiknya kita bersedia menebus barang mahal, yang sekiranya berkualitas bagus dan awet dipakai.

#10. Mendapatkan Uang dan Selalu Tak Tersisa

Hal ini yang sempat daku singgung. Kebanyakan kita memeroleh uang, lalu membelikannya dan habislah sudah. Tak ada yang tersisa. Di saat seperti ini, kita bisa memerhatikan kembali tentang hal-hal ekstra yang ikut menguras pendapatan kita.

Hal ekstra di sini tentu di luar dari kebutuhan pokok. Misalnya rokok, cemilan, pulsa atau kuota, pembersih ruangan dst. Untuk mendapatkan sisa uang yang ditabungkan, mungkin kita mesti ‘mengeliminasi’ beberapa pengeluaran ekstra.

#9. Salah Dalam Menggunakan Kartu Kredit

Sudah menjadi kesalahan ketika kita menggunakan kartu kredit untuk hal-hal yang esensial. Kesalahan kita juga ketika tidak berusaha melunasi saldo yang ada. Sebab, bunganya akan terus ‘mekar’ dan kita seolah membayar item yang didapatkan dengan nominal yang membengkak.

#8. Banyak Menggadaikan Barang

Banyak menggadaikan barang, berarti banyak hutang. Banyak juga celah-celah bunga untuk berkembang. Bunga tersebut mau tak mau akan terus tumbuh tanpa bisa kita tunda-tunda. Kalau dikalkulasikan, bunga-bunga itu tentu bisa jadi tabungan yang lumayan.

#7. Menabung Dulu, Bayar Utang Kemudian

Sedikit kontroversial sih, tapi memang… mencicil dan menandaskan utang adalah langkah awal untuk memupuk aset. Apalagi kalau utang kita itu berbunga, tentu saja dengan menundanya akan berarti kita makin tersedot saja. Lagipula, status nabung dan bayar utang itu ‘kan lebih wajib bayar utang, ya?

Baca Juga: 17 Kebiasaan di Usia 20-an Untuk Masa Depan yang Cemerlang

#6. Tak Adanya Dana Darurat

Pernahkah kita mengalami keadaan darurat yang sangat mendesak dana? Daku rasa semuanya pernah, ya? Tak hanya tentang sakit atau kecelakaan mendadak. Hal-hal lain bisa terjadi. Sebut saja kebakaran, alat penanak nasi yang rusak, ponsel yang tercebur lebih dari satu jam, dsb. Kalau ada dana darurat, paling tidak kita tidak bakalan panik. Biasanya kalau orang tidak memiliki simpanan, namun ia dalam keadaan mendesak, sesuatu akan dilakukan dengan nekad. Duh.

#5. Keseringan Makan atau Minum Di luar

Tak ada salahnya untuk membiasakan diri makan atau minum di luar. Selain berbagi rezeki, kita juga memang mendapatkan kenikmatan lebih. Akan tetapi hal tersebut, ada baiknya untuk dikurangi. Apalagi jika harga makanan atau minumannya cenderung mahal. Silakan diperhitungkan besarnya biaya ngopi di kedai kopi ternama dengan ngopi bikinan sendiri di rumah. Seminggu saja. Begitupun jika kita makan di restoran mahal dengan masak di dapur sendiri.

#4. Membeli Mobil atau Alat Elektronik Terbaru*

Daku beri tanda, sebab memang ada penjelasan lebih lanjut. Yang satu ini mengingatkanku pada pidato rektor dulu. Beliau mengatakan, rata-rata PNS memanfaatkan gaji atau uang ekstra untuk membeli mobil. Padahal lebih baik untuk melanjutkan pendidikan saja.

Daku juga ingat seorang konsultan ekonomi dalam televisi pernah bilang, begitu kita membeli alat elektronik dan sampai ke rumah, maka di saat itu juga harga jualnya langsung jatuh. Bagaimanapun, statusnya sudah menjadi barang second. Nah, pembelian mobil atau gadget terbaru tidak direkomendasikan. Apalagi kalau kita tidak terlalu memerlukannya. Atau, ketika kita masih memiliki barang lama yang masih bisa diandalkan.

#3. “Menumbalkan” Aset Rumah dengan Tujuan yang Keliru

Menggadaikan atau menjadikan rumah sebagai jaminan memang mesti dipertimbangkan secara berulang-ulang. Alasan-alasan seperti untuk membeli mobil keluaran terbaru, untuk biaya resepsi pernikahan mewah, modal bisnis yang belum pasti, dsb, tentu didipikirkan lebih jernih lagi. Bisa-bisa kita terancam kehilangan rumah sendiri.

#2. Tidak adanya Pengaturan Budget Di Dalam Keluarga

Apa Bro-Sist termasuk tulang punggung keluarga? Atau menjadi bagian dari keuangan keluarga? Di dalam rumah, kadang hanya ada 1 atau 2 anggota yang menjadi andalan keuangan. Ada baiknya anggota tersebut tidak stress sendirian. Meski tak semua anggota sudah berpenghasilan, paling tidak semuanya tahu bagaimana kondisi ekonomi keluarga. Diskusikan pendapatan dan berbagai pengeluarannya. Kalau ada masalah, cari tahu dan pecahkan bersama. Anak bisa berperan dengan mengurangi pengeluaran ekstra. Misalnya mengurangi konsumsi fast food, hemat listrik, hemat air, dsb.

#1. Tidak Terpikirkan untuk Memiliki Tabungan Hari Tua Ketika Bekerja

Mau tidak mau, usia kita akan menua. Akan ada masanya bagi kita untuk ‘mestinya istirahat’ atau pensiun. Meski usia kita masih muda, namun tak ada salahnya untuk mulai menabung. Bahkan dengan nominal uang yang kecil sekalipun! Syukur-syukur kalau bisa ‘memahatnya’ dalam aset. Entah berupa emas atau mungkin tanah?!

Baca Juga: Cerita Orang Tua

Entahlah apa yang tengah dihadapi negara kita sekarang. Aura ekonominya seperti sedikit mencekam. Namun daripada panik yang tak berkesudahan dan tak ada solusinya, tak ada salahnya jika kita bergerak dari dini dan dari sendiri.

Beberapa hal sederhana tentu dengan meluruskan beberapa kesalahan finansial yang sering terjadi. Namun jangan lupakan juga anjuran dari agama, untuk tetap memberi. Sebab dengan memberi lebih,  kita akan mendapat lebih. #RD

8 Comments
  1. Arum
    • deeann
  2. inda chakim
    • deeann
  3. alex
    • deeann
  4. Toko Online
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *