6 Hal yang Enggak Asyik Ini Membuat Seseorang Berpeluang Sukses

6 Hal yang Enggak Asyik Ini Membuat Seseorang Berpeluang Sukses

5 hal enggak asyik yang justeru bikin kita sukses

Cr: jeongkinkin.tumblr.com

“Teh, daku sama teman mau niat berbisnis anu,” seseorang membagikan rencana besarnya padaku, “Sekarang kami sedang mengincar satu tempat untuk buka usaha, jadi rencananya begini… blah blah blah…

Jujur saja, sebelum sesi curhat bisnis itu berlangsung, mood-ku lagi lumayan anjlok. Daku sedang sebal karena beberapa pelanggan kios. Maklum kalau urusan berbisnis, sesuatu yang ‘menyenggolnya’ selalu datang dari berbagai arah, termasuk customer kita sendiri.

Namun setelah mendengar isi curahan hati di atas, mood-ku sedikit baikan. Senaaang rasanya ketika ada teman, keluarga, adik kelas atau siapapun itu yang memutuskan untuk berbisnis. Apalagi kalau mereka masih muda, idealismenya masih tinggi dan antusiasmenya juga lagi meletup-letup. Swag!!!

Ya walaupun masih rencana, tapi daku ikut harap-harap cemas.

Entrepreneurship itu bukan pelesiran, tapi perjalanan yang penuh hambatan. Siap?

Bicara entreprenership, kita tentu sepakat kalau dunia yang satu ini penuh dengan ujian. Segala sesuatunya kadang unpredictable, rumit, kompetisinya ketat, dsb. Oke, hal-hal pahit semacam ini tentu saja enggak mau kita dengar. Heck, daku saja menuliskannya dengan ‘enggak nyaman’.

Tapi terkadang… sesuatu yang paling kita hindari, justeru jadi sesuatu yang mesti kita hadapi. Termasuk hal-hal yang enggak akan ngasyikin ketika nyemplung dalam misi memperbaiki diri. Ya diri sendiri, keadaan ekonomi, kedewasaan, dsb.

Memang apa saja hal-hal enggak asyik yang justeru membuat seseorang berpeluang meraih kesuksesan? Jom!

 

#1. Ketika Kita Mesti ‘Berbeda’ Dari Orang Kebanyakan

menjadi berbeda dari yang lain, memilih jalan lain dari kebanyakan orang

Daku pernah mengatakan pada adik-adik di Lembaga Kursus, kalau kita mesti siap-siap ‘jadi berbeda’ untuk lebih spesial dari mayoritas orang. Percaya atau tidak, mereka tertawa. Tidak, mereka menertawakanku. Katanya, kalau berbeda nanti enggak ada teman. -_-

Dalam kesempatan yang berbahagia ini, daku mau menjelaskan maksud ‘berbeda’ tersebut. Intinya ya… jangan seperti kebanyakan orang. Misi ini tentu enggak asyik, karena kita mesti terpental dari sesuatu yang umum. Poin pertama ini membuat diri kita ‘terasingkan’. Namun di sisi lain, hal pertama inilah yang bisa mendekatkan kita pada sesuatu yang lebih baik, lebih unik, lebih berbobot, dsb. Contohnya:

  • Kebanyakan orang bangun kesiangan, kenapa tidak kita mencoba lebih pagi?
  • Kebanyakan orang hobi menghabiskan uang, kenapa tidak kita justeru hobi mencarinya?
  • Kebanyakan orang melalaikan ibadah pada Tuhan dan sesama makhluk hidup, kenapa tidak kita belajar untuk lebih giat dan konsisten?
  • Kebanyakan orang sekolah dan menggantungkan nasib pada ijazah, kenapa tidak kita menghilangkan ketergantungan itu dan mencari jalan lain agar nasib tetap baik?
  • Kebanyakan orang terlelap di tengah malam, kenapa tidak kita terjaga dan melakukan pendekatan pada Tuhan?
  • Kebanyakan orang malas membaca Kitab Suci Alqur’an, buku-buku bermanfaat, kata-kata inspiratif dari orang lain, dsb. Kenapa tidak kita justeru menjadikannya sebagai rutinitas?
  • Kebanyakan orang enggan menulis, kenapa tidak kita justeru berdansa dengan jemari dan kata-kata?
  • Kebanyakan orang pilih kasih terhadap hari-hari (lebih membenci hari Senin dan menyanyangi wiken), kenapa tidak kita justeru memperlakukan dan mengisi semuanya dengan sesuatu yang fun dan bermanfaat?
  • Kebanyakan orang sangat mempertimbangkan gengsi dan harga diri, kenapa tidak kita justeru mengujinya?
  • Kebanyakan orang tertarik pada keburukan orang lain (orang biasa, artis, politikus, seniman, musisi, dsb), kenapa tidak kita mencomot sisi baiknya dan belajar dari sana?
  • Dan masih banyak lagi.

~

#2. Ketika Menerapkan Agenda “Fokus 90 Hari”

menjadi lebih baik, fokus dan konsentrasi

creativefluff.com

Begitu memiliki suatu misi, awal-awalnya kita begitu semangat. Misalnya kita punya niat hendak membeli sesuatu, lalu bertekad membiasakan menabung. Sehari, seminggu sampai dua minggu bisa berjalan. Lalu di tengah-tengah selalu ada saja yang mengganggu. Kalau komitmen dan fokusnya lemah, saat itu juga kita bisa terjungkal.

Daku pernah mendengar (maaf banget lupa dari mana sumbernya), katanya kalau kita hendak menerapkan kebiasaan baik, maka lakukan secara berulang-ulang TANPA BATAL selama kurang-lebih 3 bulan. Insya Allah kesananya akan resmi bertitel sebagai habit kita. Kalau baru jalan selama sebulan, lalu batal, pasti selanjutnya akan sulit.

Hal semacam ini tentu enggak asyik. Kita mesti berjuang untuk konsentrasi menjalani misi perbaikan diri. Hati dan pikiran mesti ketemuan. Diskusikan pada mereka; kebiasaan buruk apa yang pengin dihilangkan? kebiasaan baik apa yang pengin diistikomahkan? apa tujuan kita 3 bulan ke depan? skill apa yang pengin dikuasai selama rentang waktu itu? Dsb.

~

#3. Ketika Mesti Membasmi Apa atau Siapa yang “Membunuh Momentum” Kita

bebaskan diri dari hal hal yang bikin down

kimmysharinglight.com

Bisa kita luangkan waktu menulis beberapa hal yang menjadi penghalang atau momentum killer. Hal-hal itu jadi sesuatu yang menganggu langkah, rencana atau kemajuan kita. Misalnya bayangan akan masa-lalu, kenangan dengan mantan pasangan, modal yang tak kunjung didapatkan, dsb. Banyak.

Setelah dituliskan, baru kita buat rencana untuk menghindari atau justeru ‘melenyapkan’ mereka. Move on. Bagaimanapun hal-hal itu bisa menginterupsi misi kita sendiri. Produktivitas, kreativitas dan bahkan penghasilan kita bisa jadi malah berkurang karena pengganggu-pengganggu itu.

Kita tinggal memilih; pengin mengendalikan semua pengganggu itu atau justeru dikendalikan oleh mereka? Di sini yang enggak asyik. Kita mesti belajar untuk fokus, konsentrasi, memilah mana yang lebih prioritas atau penting dengan menepikan segala pengganggu yang terus membuntuti.

~

#4. Ketika Mesti Membedakan “Mana Hasil Berpikir dan Mana yang Emosi Belaka”

payung beterbangan

couturemakeup.wordpress.com

Salah-satu dasar dari keputusan dan tindakan kita sebaiknya bukan karena emosi, melainkan karena kita sudah mengkaji, mempertimbangkan atau menganalisanya dulu secara matang. Enggak asyik, bukan? Dibuat berpikir sebelum bertindak memang enggak bikin keringetan, tapi tetap saja melelahkan. Well, ketika hendak memilih atau memutuskan sesuatu, bisa kita tanyakan pada diri sendiri,

“Ini teh emosi daku belaka atau bukan?”

“Daku benar-benar pengin membahagiakan diri dan orang-orang tersayang, atau pengin balas dendam sama mereka yang sudah merendahkanku dulu?”

“Daku sudah benar-benar memikirkannya, belum?”

“Mendukung sama misi perbaikan diri atau justeru merusaknya, sih?”

~

#5. Ketika Mesti Mengurangi Bicara dan Memulai Eksekusi

bergerak, beraksi lebih banyak dan nyata

sunnyrunning.com

Salah-satu hal yang membuat kita terbuai oleh kesuksesan adalah… rencana dan bayangan yang indah. Bahwa kita akan membuat suatu usaha yang ramai-lancar, bahwa kita akan menciptakan senyuman di wajah sendiri dan wajah mereka yang disayangi, bahwa kita akan memiliki banyak aset, bahwa kita akan memiliki banyak penggemar, bahwa kita akan memiliki kehidupan yang lebih mudah, dsb.

 

Kenyataan enggak asyik dan pahit mesti kita hadapi; segala kenikmatan atau bayangan indah itu enggak terjadi ketika kita merancang rencananya saja. Tanpa aksi atau usaha nyata, semua itu bagai gelembung yang kalau kita senggol sedikit saja bisa meletus. Kesuksesan sejati juga enggak bisa direnggut dalam waktu sekejap, semalam atau beberapa bulan. Butuh konsistensi, kedisplinan, pengorbanan, doa dan perjuangan yang terus berkesinambungan.

 

Sama-sekali enggak asyik. Apalagi ketika aksi nyata pun tidak menjamin kesuksesan akan datang. Begitu terjun ke lapangan, segala sesuatu yang enggak terduga bisa terjadi. Ketika gagal, kita akan menghadapi pilihan ganda yang cukup rumit; menyerah apa coba lagi? Begitupun ketika ada sedikit kemajuan, kita akan dipusingkan lagi dengan soal lain; bertahan atau dikembangkan? kalau dikembangkan, caranya bagaimana? dsb.

~

#5. Ketika Mesti Ramah Pada Kehidupan Apapun Perlakuannya Pada Kita

5 simbol love

flickr.com

Tak ada perintah agama untuk menghukum kehidupan ketika ia berbuat ‘tidak sopan’ pada kita. Kehidupan sering membuat kita tersenyum, tapi ia juga doyan membuat kita menangis dan sakit. Meski demikian, kita disarankan untuk tetap senyumin aja.

Islam malah menyuruh kita untuk tetap berterima kasih aka bersyukur, bagaimanapun keadaannya. Malah sudah dijanjikan, siapa yang bersyukur, maka kenikmatannya akan bertambah. Dan memang… kalau kita berpikir positif atas segala kenegatifan hidup, segala sesuatunya berubah jadi ringan.

Segala ujian memang ditimpakan untuk membuat kita lebih tangguh. Bagaimanapun, kita belum bisa dikatakan keren apabila belum melintasi tes demi tes yang dipercayakan oleh kehidupan.

Meski asyik menulis hal-hal enggak asyik ini, namun daku pun ikut tertampar. Kalau kita serius mengejar sesuatu, maka cara agar terkabul yaitu… membuat diri kita jadi berbeda, terus belajar dan lebih banyak aksinya ketimbang bicaranya atau err… nulisnya. Hehe…

 

Terima kasih sudah membaca postingan ini. Jom saling menemani untuk misi memperbaiki diri ini. #RD

4 Comments
  1. Marfa
    • deeann
  2. mae
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *