Agustusan, Kepemimpinan, Perlombaan dan Keperawanan

Agustusan, Kepemimpinan, Perlombaan dan Keperawanan

agustusan kepemimpinan perlombaan dan keperawanan

Cr Pict: hdimagewallpaper.com

“Mungkin karena kepemimpinannya berbeda atau bagaimana, acara Agustusan tahun ini lebih seru dan meriah…”

Begitulah yang daku dengar dari Radio Kuningan FM. Opini itu disampaikan (kalau tidak salah) oleh Teh Meli, ketika beliau membawakan acara bersama Pak Ondi. Nah, khusus di tempatku memang demikian adanya. Lebih ramai dari tahun sebelumnya.

Kalau di tempatmu bagaimana, Bro-Sist?

Dalam Permainan, Kita Tak Selamanya Menang

Pada Senin (17 Agustus 2015), daku dan Mimih sengaja pulang lebih awal dari kios. Niatnya tentu pengin ikut rame-ramean Agustusan. Namun begitu ke area perlombaan, yang kebetulan dihelat di depan rumah, suasananya sepi.

“Mereka teh lagi lomba di lapangan!”

Itu info yang kudapat. Ya sudah daku ke rumah dulu, dan mesti terperanjat lalu terbahak-bahak melihat 3 pemuda (termasuk adikku, Si Isal) yang didandani ala tante-tante. Tak hanya daku, seorang nenek yang tengah lewat sampai memegang perut karena terus-terusan ngakak. -_-

Ketika daku melihat ke dapur dan melihat gelas-gelas bekas kopi, naluri mencuciku muncul. Baru saja ‘menyabuni’, Mimih sudah menyeru,

“Yaaang! Tuh Ita mah ke lapangan! Bareng gih, dia nungguin!”

Daku nurut. Ita, yang kebetulan kerjanya libur, lalu menceritakan pengalamannya yang kalah ikut lomba tarik-tambang pagi ini. Ketika seru mengobrol, Ina bergabung. Mimih nimbrung dengan ibu-ibu di pinggir lapangan, sementara trio kami masuk area lomba.

“Nah, Teh Dian siap?” tanya MC lomba, Uud, bikin daku celingukan, “Ayo tim panitia lawan tim Teh Dian.”

Daku masih menampangkan wajah ‘apa-apaan ini?. Tapi kemudian ngeh kalau daku jadi ‘peserta dadakan’ untuk lomba tarik tambang. Tahun kemarin, daku bersama Nurul dan Ade Aan. Sekarang daku satu tim bersama Ibu Eli, Ibu Momoh dan Ibu Enok.

Singkat cerita, daku jadi ingat tulisanku sendiri tentang tips memenangkan tarik tambang. Kami menang dan menang. Sampai kemudian kami mesti terjegal di final. Bagi kami, kami masih menang, menang yang tertunda. Pengin nyebut ‘kalah’, tapi enggak tega. Aaak!

Tidak apa-apa, ya. Kurang seru kalau kita terus-terusan menjadi pemenang dalam suatu perlombaan. 😀 (menghibur diri, ceritanya).

Totalitas, Kepemimpinan dan Strategi Lomba Bakiak

tangan merah putih mengepal

Cr Pict: kriznoy.wordpress.com

Area lapangan desa dibagi menjadi dua. Yang satu khusus untuk lomba sepak-bola para pemuda yang sudah bertransformasi menjadi ibu-ibu dan emak-emak. Daku jadi teringat Ajid, seorang pemuda yang dandan ala nenek-nenek. Dia membetot perhatian penonton, menghampiri MC lomba dan mengambil alih mikrofon.

“Dalam rangka ngamumule (baca: memeriahkan) HUT RI, ayo bikin seru acara ini. Jangan tanggung-tanggung! Total, atuh!” nadanya mirip orang tua yang suaranya sudah bergetar, namun isinya begitu membakar.

Ucapannya juga yang membuatku pasrah-pasrah saja ketika Syifa (panitia) ‘menggiringku’ ke area balap bakiak. Begitu pun dengan Ina dan Ita yang siap-siaga. Jadinya kami bertiga ini seperti relawan peserta yang juga jadi ‘perusuh’.

“Ayo ramaikan!” Ina dan Ita mengobarkan semangat.

Daku, Ita dan Ina memerhatikan dulu bagaimana jalannya lomba bakiak. Kami mesti mengatur strategi. Ina berpendapat kalau dia mesti di tengah karena badannya lebih besar, jadinya sebagai penyeimbang. Daku mengeluh karena memiliki ‘titik geli’ pada tubuhku, yaitu area lutut dan pundak. Jadinya kalau Ina atau Ita memegang pundakku, daku bisa goyah di lapangan.

Di pertandingan perdana, susunannya dari depan; Ita, Ina dan daku. Sambil melangkah, kami berseru ‘kiri-kanan’ berulang-ulang. Maksudnya demi menyamakan langkah, gitu. Daku tidak ingat persis siapa lawannya, yang jelas masih ibu-ibu. Permainannya ketat. Beruntung, kami menang. Tapi mesti siap-siap lagi untuk berjuang.

“Kita teh mesti mengadakan evaluasi,” kataku dan Ita-Ina menyetujuinya.

“Kamu aja atuh yang di depan,” usul Ita.

“Oke.”

Berbeda kepemimpinan, maka akan berbeda kebijakan. Hal ini berlaku juga untuk susunan barisan bakiak yang kami rombak. Dari depan; daku, Ina dan Ita. Untuk mengatasi rasa geli di bahu, Ina memilih untuk melingkarkan tangan ke pinggangku, jadinya seperti back hug.

“Kanan dulu, yah?!” bisikku dan sedikit melirik ciut pada lawan kami di semi final ini.

Benar saja. Jalannya permainan memang begitu kompetitif. Tim lawan terbilang masih muda, namun posisinya sedikit berbeda. Yang di depan bobot tubuhnya paling besar. Sementara dua ‘ekor’-nya langsing-langsing.

Karena mereka begitu cepat, daku juga menambah kecepatan. Daku sadar sebagai orang yang ada di posisi depan, daku bisa mengarahkan bakiak yang diinjak. Mau di bawa ke mana dan mau secepat apa. Syaratnya satu; dua orang di belakang mesti nurut.

Daku sudah tidak memerdulikan bagaimana tangguhnya lawan. Daku hanya memikirkan tim sendiri, bagaimana caranya agar segera menyudahi permainan dengan sampai ke garis finish. Sampai kemudian daku sadar timku dan lawan hampir berbarengan. Lalu, panitia mengangkat tangan dan menyatakan tim kami yang menang.

“Wah Dian,” Ita ngos-ngosan, “Kamu mah lari.”

“Tapi berhasil euy, Teh,” Ina juga terengah-engah, “Di final mesti kayak tadi lagi.”

“Siap dibawa lari lagi, ya?!” Daku menyeringai, tapi mereka menyepakatinya.

Antara Kemenangan, Ibu-ibu PKK & Keperawanan

kemenangan lomba bakiak

Cr Pict: dreamstime.com

Lawan kami di final makin berat. Mereka adalah ibu-ibu PKK, sosok yang kami anggap bisa jadi unggulan. Langkah mereka serempak dan sepertinya sudah pengalaman.

Tapi kebijakan yang sudah daku ambil tak bisa dicabut lagi. Kondisinya sudah genting. Namanya juga bakiak race atau balap bakiak, jadi kami mesti super cepat. Jadi kami tetap akan ‘berlari’ dengan bakiak tersebut.

Begitu permainan dimulai, suasananya begitu kompetitif. Ibu-ibu PKK memang mengagumkan. Namun sesuatu yang tak disangka-sangka terjadi. Mendekati garis finish, ibu-ibu PKK hilang keseimbangan. Mereka terjatuh.

Sesuatu yang disangka-sangka terjadi pula pada kami… kami malah senang, tertawa di atas penderitaan orang lain, sampai hampir mau ikut terjatuh. Daku kemudian terus mempercepat langkah begitu ibu-ibu itu bangkit. Kami pun… menang. Hurray!

“Di mana-mana ibu itu mengalah sama anaknya,” kilah seorang ibu PKK, “Jadi kalian bisa menang.”

“Ibu-ibu PKK memang suka mengalah sama anak-anaknya,” tambah dari mereka.

“Tapi kami bukan anak-anak PKK…”

Daku tidak terlalu berkonsentrasi mengobrol sambil jalan dengan ibu-ibu PKK itu. Begitu pun ketika Ina dan Ita mengajak high five. Daku rasa sesuatu terjadi pada kaki kiriku. Oh… ada luka lecet yang cukup dalam. :/

Sakit, tapi hepi. 🙂

“Maklum saja kalau kalian yang menang, kalian masih perawan,” komentar penonton yang membela tim lawan kami di semifinal, “Mereka mah sudah menikah…”

“Malah sekarang lagi pada menyusui,” tambah salah-satu orang dari tim yang kami kalahkan.

Daku hanya mesem-mesem. Awalnya berpikir keras tentang bagaimana hubungannya keperawanan dan kemenangan lomba bakiak. Namun kemudian, daku lebih memilih melanjutkan obrolan asyik dengan Ita dan Ina.

Hhh… #RD

6 Comments
  1. gustyanita pratiwi
    • deeann
  2. prajuritkecil99
    • deeann
    • prajuritkecil99
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *