Cinta, Merpati dan Rezeki

Cinta, Merpati dan Rezeki

cinta merpati dan rezeki“Cinta ibarat merpati. Kadang kalau didekati, ia menjauh. Tapi begitu dijauhi, kadang ia malah melangkah mendekat. Begitupun dengan rezeki.”

~

Sahabat, adik dan kakakku terus mengompori. Katanya daku mesti update ponsel dan menggunakan layanan BBM. Selain biar kekinian, diharapkan kami bisa menjalin komunikasi yang lebih baik. Nah, jadi bagi yang sudah menanyakan pin BB, inilah… daku benar-benar enggak memilikinya, ya. Hehe…

Sebenarnya daku enggak melihat kalau lem biru alias lempar dan membeli HP baru adalah sesuatu yang wajib. Namun saran dari mereka sangat daku pertimbangkan. Beneran. Tapi daku tengah mengincar barang lain; laptop. Dan, ketika seperak-dua perak sudah terkumpul, ada saja yang mengusik jumlahnya.

Tak hanya rezeki saja yang datang dari arah yang enggak disangka-sangka, pengeluarannya pun demikian. Bayaran kuliah adik, misalnya. Bagaimanapun keuangan kampus enggak bisa dinego, toh.

Jumat, 7 Agustus 2015

Di suatu maghrib jelang isya yang damai…

Kakakku datang ketika daku tengah mengetik. Dia bilang ada yang menawarinya laptop. Katanya laptop tersebut masih berkualitas bagus dan harganya murah. Kakakku sangat yakin, sebab yang merekomendasikannya adalah temannya sendiri yang tahu seluk-beluk per-laptop-an. Daku pun yakin pada kakakku, karena… walaupun berperut buncit, beliau adalah kakak yang cukup detail.

Yang ditawarkan, Acer, memang bukan incaranku. Namun begitu searching di Google, spesifikasinya bagus. Apalagi dengan harga yang hampir setengahnya. Tentu sesuai dengan budget-ku. Daku pun langsung setuju.

“Besok pagi-pagi Aa bawa dulu barangnya,” kata Aiid pasca menelepon temannya, “Nanti kamu lihat-lihat dulu.”

“Syukur-syukur kalau masih bisa kurang,” Mimih nimbrung.

“Sudah murah, Mih,” kataku, “Dapat barang berkualitas dengan harga murah adalah rezeki nomplok.”

“Ya ‘kan siapa tahu, Yang?!” (Iyang itu panggilanku di rumah)

Sambil terus menekan tuts, daku mendadak romantis pada netbook HP-ku kini. Rasanya waktu itu adalah detik-detik terakhir kami bercengkerama, dijembatani kata-kata. Daku bahkan membuka file-file lama, seolah mereka semua adalah saksi dari semua pahatan memori. Benar-benar menghabiskan waktu dengan si bandel itu.

“Nanti netbooknya buat Beben,” Daku selalu teringat kata-kata adik bungsuku, yang jadi penambah semangat buat terus nabung.

~

Sudah pagi. Kakakku meninggalkan miss called. Daku lalu langsung teringat akan laptop yang semalam kami diskusikan. Namun daku tidak menghubungi balik. Lagi-lagi, daku hanya berpikir… betapa tenangnya kalau sudah punya laptop, kinerjanya lebih enak, terus netbook yang lama akan diserah-terimakan pada adikku untuk menunjang tugas kuliahnya.

Seperti biasa, daku berangkat ke kios untuk menjadi ‘karyawan’ di tempat Mimih tersebut. Tak lupa daku juga menanyakan tentang kakak, yang barangkali mampir dan membawa laptopnya. Namun kata Mimih, kakak hanya bilang kalau laptopnya akan dibawa nanti sore.

Entah kenapa, perasaanku mendadak enggak enak.

Dari rumah, daku sudah menyiapkan uangnya. Uang pas. Sebab, takut nantinya tidak bisa kurang, seperti yang Mimih harapkan. Sampai kemudian, daku lihat kakaku turun dari motor. Langkahnya tergesa. Belum juga memasuki kios, beliau sudah berseru,

“Bukan rezeki kamu, Yang!” kata kakakku, “Katanya laptopnya sudah terjual.”

Glekkk.

“Kok bisa?” Daku dan Mimih serempak bertanya.

“asdgfhjklzxcvbn…” Kakakku memberi penjelasan yang enggak daku simak.

Daku mendengar suaranya tapi enggak memahami jalan alasannya. Sedikit kurang logis, menurutku. Tapi mungkin teman kakakku itu sudah menjualnya dengan harga lebih mahal ke orang lain. Naluri bisnisku yang mengatakan demikian. Hehe…

Begitu Kakak pergi…

“Yang namanya rezeki itu, kadang selama belum tertelan, bisa saja belum benar-benar milik kita,” begitu kata Mimih.

Daku yang sedang melamun hanya menatapnya,

“Makanan saja, contohnya. Sudah kita beli, kita masukkan ke mulut dan kita kunyah. Tapi makanan itu belum tentu benar-benar rezeki kita kalau belum tertelan,” lanjut beliau, “Bisa saja tiba-tiba tersedak atau muntah.”

Daku tersenyum. Kecut. Obrolan menggelinding. Termasuk tentang seseorang yang sudah hampir mendapatkan cintanya, namun di tengah jalan malah putus. Sedekat apapun dia dan cintanya, kalau memang bukan jodoh, ya sudah.

“Duh, sorry ya, Beng…”

Khusus untuk kejadian yang satu ini… mungkin daku diarahkan untuk meneruskan program menabung, ditempa untuk legowo menerima apapun hasil akhirnya, dididik untuk lebih bersyukur atau sesederhana tak dijodohkan dengan laptop tersebut.

Seperti merpati, ketika didekati, malah menjauh. Fiyuhhh… #RD

2 Comments
  1. Akbar Maulana
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *