Harga Diri Kita… Siapa yang Menentukannya?

Harga Diri Kita… Siapa yang Menentukannya?

harga diri kita siapa yang menentukannya

Cr Pict: smarteraboutpeople.com

“Jika kamu terlalu peduli terhadap apa yang orang pikirkan, maka selamanya… kamu akan menjadi ‘narapidana’ mereka.”

Begitu quote atau kutipan dari Lao Tzu. Kata-kata yang sederhana, tapi cukup mengerikan. Tentang bagaimana kita ‘terlalu mendengar’ ucapan, penilaian atau komentar orang lain. Semakin memasukkannya dalam hati, kita semakin terpenjara di dalamnya.

Termasuk ketika orang-orang itu menyentuh dan memberi penghakiman pada hal-hal sensitif dan pribadi, seperti… harga diri.

Apa mereka pantas menentukannya? Apa iya, ketika orang lain menginjak harga diri kita, kehormatan diri langsung tercabik-cabik seketika?

Tapi, Apa Itu Harga Diri?

Harga diri, ya. Bukan harga rupiah yang akhir-akhir ini merosot sampai titik Rp. 14.038 per dollar. @_@

Ekhem. Oke, kembali lagi.

Harga diri adalah… tentang bagaimana seorang individu melihat tingkatan dirinya sendiri. Baik itu tingkat rasa percaya dirinya, kehormatan atau kedudukannya, derajat atau martabatnya serta bagaimana manfaatnya akan eksistensinya di dunia.

Harga diri adalah hak setiap manusia. Hak yang kita bawa sejak lahir. Siapapun itu. Sebab, kita tak tercipta tanpa tujuan. Allah Swt tentu memberi tugas agar kita bisa memerankan diri sebagai ‘seseorang’. Jangan dulu bicara tentang seseorang yang berguna bagi bangsa dan negara, minimal bagi diri sendiri dan keluarga.

Memperjuangkan Harga Diri Sendiri, Malah Direndahkan Oleh Orang Lain

“Lihatlah Si anu… dia sarjana, tapi tetep aja berbisnis. Enggak sekolah tinggi-tinggi juga bisa kalau cuma bisnis mah!”

Sebagian Bro-Sist mungkin merasa kurang nyaman membacanya. Sama. Daku juga. Meski ucapan itu tak tertuju padaku, tapi daku juga merasa ‘gimana… gitu’.

Sebut saja namanya K. Dia itu lulusan sebuah kampus. Lamaran pekerjaan yang ia ajukan di berbagai tempat mungkin tak menghasilkan, sebab tiap kali berangkat, ia akan kembali dengan waktu cepat. Sampai kemudian daku dengar dia sudah bekerja. Masih di dalam kota. Maaf tidak disebutkan di mananya. Hehe…

Namun lagi-lagi, kabar tentang K menghampiri. Tak sampai 2-3 bulanan, K berhenti atau keluar dari pekerjaannya. Daku tak tahu kenapa. Daku hanya percaya pendapat orang, kalau K tak cocok dengan gaji yang ditawarkan.

Baca Juga: Bagaimana Sikap Kita Ketika Menjadi Bahan Gosip?

K melepas seragam yang biasa dipakai. Pakaian yang biasanya resmi berubah jadi kasual atau terkesan apa adanya; kaus, jeans atau jaket. Dia tak lagi… berangkat pagi, pulangnya sore. Sebutan “Pak K” pada dirinya juga sudah jarang.

Kini, entah sudah berapa tahun K memutuskan untuk berbisnis saja. Namun urusan hidupnya tak lepas dari sorotan orang. Termasuk sampai ada yang berkomentar seperti di atas.

Dan baru-baru ini, daku mendapat kesempatan mengetahui tentang… alasan sebenarnya kenapa K memutuskan keluar dari pekerjaan. Daku dengar langsung dari Ibunda beliau, waktu kami berjalan berbarengan. Katanya…

“Suatu hari, K diberi mandat untuk membeli peralatan di tempat kerja. K menurutinya. Tapi kemudian, Sang Bos bilang kalau notanya mesti dobel. Nota asli dan kosong. Yang kosong lalu diisi dengah harga baru, harga yang lebih bengkak dari aslinya. Dari manipulasi itu saja, K sudah merasa tidak nyaman…”

“K bilang, mumpung dirinya belum tergoda terlalu jauh, mending dia keluar. K tak memungkiri. Sebagaimana manusia biasa, lama-lama dia pasti akan tergiur dengan praktik pemalsuan nota tersebut. Itu baru nominal kecil, bagaimana nanti kalau membesar dan ia termakan rayuan? Jadi sebelum hal itu terjadi, dia langsung mempertimbangkan diri untuk keluar saja…”

“K tahu… orang-orang pasti akan menganggapnya tak tahu diri dan kurang mensyukuri hidup karena sudah bisa dapat kerja, tapi malah mengundurkan diri. Namun K lebih mengutamakan harga diri versi dirinya sendiri. Sebab, orang lain itu tak pernah benar-benar tahu cerita sebenarnya…”

Daku menghela napas yang cukup dalam mendengarnya. Tentang betapa heroiknya keputusan K untuk menyelamatkan diri dan harga dirinya.  Jantan sekali.

Baca Juga: Apa Kita Terlahir untuk Menjadi Pembohong Pada Diri Sendiri?

Lalu tentang… betapa tidak adilnya orang yang ‘menyentuh’ isu harga diri K, karena ia bertransformasi dari tempat kerja ke wirausaha. Tentang… sikap cool K yang tidak memerdulikan judgement yang dilempar orang pada dirinya. Atau tentang… bagaimana K menjadi dirinya sendiri, yang rela ‘berbeda’ dan terasingkan demi sesuatu yang dianggapnya baik dan benar.

Ah, ternyata bukan hal mudah untuk…

“Tetap mencintai diri sendiri di tengah-tengah hal buruk yang menimpa, di tengah pilihan-pilihan yang sulit atau di tengah orang-orang yang menentang sesuatu yang kita anggap benar.”

Sebelum membuat orang lain mencintai dan menghormati harga diri kita, terlebih dahulu kita sendiri yang mesti melakukannya. Iya, ‘kan? #RD

6 Comments
  1. Arum
    • deeann
  2. D Sukmana Adi
    • deeann
  3. Akarui Cha
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *