Hati dan Pikiran yang Klop untuk Menolak Beberapa Job

Hati dan Pikiran yang Klop untuk Menolak Beberapa Job

hati dan pikiran ngopi

Cr Pict: dreamstime.com

Cinta, merpati dan rezeki.

Begitu daku memberi judul untuk sebuah postingan. Tentang rezeki yang seperti merpati, di mana kita mengejar, mereka malah menghindar. Dan kadang ketika kita diam, mereka malah mendekat.

Daku yang sempat kecewa karena “tidak berjodoh” dengan laptop yang direkomendasikan kakak, perlahan mulai “move on”. Daku kembali ke track, untuk tetap mengejar target laptop yang lebih dulu diincar. Hanya saja, spec-nya agak turun. Yang diimpikan itu terlalu mahal. Huhu…

Rasa kecewa itu semakin terlupakan manakala daku dibuat berpikir keras oleh satu tawaran job. Sebenarnya ada tiga proyek (maafkan bahasanya yang agak sok keren). Hanya saja ketiganya memiliki peringkat tersendiri untuk daku tolak.

Job yang Datang Beruntun

Job Pertama

Daku mulai dari tawaran pertama yang penolakannya masih berlevel mudah. Tawaran itu datang dari salah-satu teman. Tak biasanya siang itu dia mengirim sms. Lalu setelah bicara tik-tak, dia menelepon,

“Sibuk apa?” tanyanya pasca kita melakukan small talk.

“Enggak sibuk daku mah.”

“Kerja apa atuh?”

“Serabutan aja.”

“Nah, ada proyek nih!”

“Proyek apaan, gitu?”

“Ada yang minta ‘bantuan bimbingan skripsi’!” Dia menginformasikan, “Ikut atuh, yuk! Lumayan~”

“Wow!” Daku tertegun, karena kembali teringat proses pembuatannya dulu, “Pasti komisinya gede.”

“Kuantitatif.”

“Enggak,” tolakku sporadis, sebab dia memang teman dekatku, “Mau kualitatif juga enggak.”

Job Kedua

Daku enggak menghitung dengan pasti ketika Mimih bilang Bu Anu pengin ngobrol. Ibu tersebut katanya mencari ke rumah dan nyamper ke kios, tapi selalu pas daku enggak ada. Jadi beliau ini pengin anaknya les privat Bahasa Inggris denganku.

“Terus Mimih jawab apa?”

“Mimih teh bilang, Iyang lagi sibuk,” jawab beliau sembari memeragakan wajah serius, “Tawaran jam dari lembaga kursus saja ditolak, malah sekarang minta dikurangi.”

Daku sudah enggak aneh. Mother is the person who knows and sees you best. Mimih benar-benar tahu. Eh tidak, Mimih benar-benar ngerti dan paham.

Memang benar, daku menolak jam mengajar yang biasanya full. Sekarang diberikan pada orang lain. Yang sudah ada pun malah dikurangi.

Beda dengan dulu, yang terus dijabanin. Sampai-sampai mesti konsentrasi keras untuk mengingat-ingat hari anu jadwal mengajar di lokasi A atau B, giliran kelas siapa, terus materinya sudah sampai ma, dsbna. Bagaimanapun, jam mengajar penuh adalah honor yang tebal. Hehe

Namun mengingat daku ini terbatas, ya sudah dipilih jalan yang menurutku bijak saja. Selain ingin gaji naik, #eh, salah-satu alasannya memang demi fokus mengurus blog ini.

“Jawaban yang bagus euy, Mih!” Daku amat sangat mengapresiasi usaha beliau sebagai ‘jubir’.

“Tapi Mimih juga bilang, nanti mah ke sini aja lagi, ngobrol lagi aja sama Si Iyangnya~”

“Yah~”

Ibu-ibu lain datang sendiri padaku, lengkap dengan anaknya. Dengan bijaknya daku bilang, daftar ke lembaga kursus aja, ya. Heuheu… Daku jadi ingat, sempat mau kerja-sama dengan teman, mau membuka tempat kursus di tempatku. Nah dulu rezeki dari lahan ini bener-bener ‘dikejar’. Sekarang giliran niat itu sudah pupus, calon-calon muridnya malah pada nyamper. Doh.

Job Ketiga

kata kata menolak pekerjaan atau job dengan baik dan sopan

Isi Email

Yang satu ini berkaitan dengan blogging. Ya, ada tawaran job review dari salah-satu situs terkemuka. Minimal artikelnya masih terbilang pendek, namun tawaran fee untuk tiap artikelnya kurang besar, setidaknya bagi situs sebesar itu.

Dan, ada hikmahnya daku enggak langsung bilang deal.

Sahabat sekaligus kakak angkatku menyarankan untuk menggali detail rules-nya dulu. Daku pun nurut dan seseorang yang menawarkan review job merespons-nya dengan cepat. Beliau melampirkan syarat atau ketentuannya dengan lengkap.

Dari situ, daku sedikit berpikir keras. Dua hari daku menimang-nimang. Termasuk mempertimbangkan kepercayaan yang sudah diberikan.

Pikiran soal honor dan pekerjaan yang masih bisa di-handle daku kesampingkan. Intinya ada beberapa hal utama yang sangat daku pertimbangkan, yang menguji keegoisan diri juga. Sampai kemudian daku dengan tegas dan mantapnya menolak.

Ketika Menjawab TIDAK

mengatakan tidak

Cr Pic: cedriccentre.com [*di-crop]

“Ketika kamu menjawab ‘IYA’ pada orang lain, pastikan kamu tak akan mengatakan ‘TIDAK’ pada dirimu sendiri.”

Begitu quote terkenal dari Paulo Coelho. Kalau daku balikkan, boleh enggak?

“Ketika kamu menjawab ‘TIDAK’ pada orang lain, pastikan kamu tak akan mengatakan ‘IYA’ pada dirimu sendiri”.

Jadinya intinya, sebelum memberi jawaban IYA atau TIDAK, diperlukan diskusi yang diselenggarakan (?) dalam diri. Antara pikiran dan hati. Harus sepakat. Kalau bibir melafalkan IYA, maka hati pun mengangguk. Sebaliknya ketika bilang TIDAK, hati mesti ikut menggeleng.

Tidak seperti jawaban “IYA”, jawaban “TIDAK” itu tidak mudah.

Pasti, jawaban “TIDAK” dari kita akan sedikit berat. Namun pastikan diri kita untuk “siap-siap” membuat orang lain kecewa, namun kemudian tidak menyesalinya. #RD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *