Ketika Sekolah Memberi Challenge “No Phone!” Pada Siswa yang Kekinian

Ketika Sekolah Memberi Challenge “No Phone!” Pada Siswa yang Kekinian

ketika sekolah memberi challenge no phone pada siswa yang kekinian

Cr Pict: phiniseebrittneyedm310.blogspot.com

Sekolah mendadak gempar. Tidak terjadi gempa, tapi para siswa atau murid kalang-kabut. Mereka berjalan kesana-kemari sambil menggenggam ponsel kesayangan. Daku sendiri duduk anteng dengan HP Nokia Polifonik jadul yang nyaman bersembunyi dalam saku. Begitu melihat salah-satu teman yang celingukan, daku menyahut,

“Hapus aja ih videonya!” usulku, “Kalau dirazia juga paling sementara, nanti dibalikin lagi.”

Dia menatapku, lalu menatap ponsel Nokianya yang waktu itu sudah berstatus ‘kekinian’. Terlihat seperti mempertimbangkan. Lalu dia menjawab,

“Enggak, ah. Sayang~” keluhnya, “Susah dapetnya.”

Daku berkedip-kedip setengah tak percaya. Di masa-masa genting begini, di mana pembina OSIS dan Wakasek tengah menyisir kelas demi memeriksa ponsel berkamera, my f*cking classmate masih bisa bilang seperti itu. Ya amplop! Tapi begitu derap langkah para perazia semakin dekat, daku memberi usulan kedua,

“Ya udah matiin hapenya, simpen dibalik tumpukan buku di atas meja guru.”

Dia kembali celingukan, tapi kali ini langsung nurut. Akhir cerita, kelas kami juga mendapat giliran razia, tapi dia ‘selamat’.

Cerita lain…

cerita larangan membawa ponsel ke sekolah

yourstrongestlife.com

Daku masih fokus melahap soal-soal Bahasa Inggris yang jadi menu try out UN. Tiba-tiba ponselku bergetar. Ada satu pesan dari seseorang, yang sudah bisa kucium isinya. Ya, dia meminta jawaban.

Sedikit lama kubalas permintaannya, sebab daku mesti konsentrasi dulu. Begitu daku balas, dia langsung mengirim pesan singkat dengan cepat. Namun kali bukan jawaban yang ia tanyakan, melainkan siapa yang jadi pengawasku.

Daku menjawabnya. Singkat dan seperlunya. Dia kembali membalas. Jadinya kami pun sms-an. Tapi ia sama-sekali tidak menanyakan kelanjutan jawaban soal lainnya. Daku pun menyetop dan tak melayaninya lagi. Selain sudah ‘tak sesuai misi’, daku mesti fokus.

Sampai kemudian bel berbunyi, menandakan ujian telah usai.

Daku dan teman sms-an itu bersisian ruang. Begitu daku keluar dari ruang ujian, anak-anak di ruang ujian teman itu langsung mengerumuniku. Mereka tidak bilang satu per satu, tapi daku bisa menangkap maksud intinya. Kata mereka,

“Dian, tadi kamu sms-an sama pengawas!”

“???”

Singkat cerita, daku dan teman sms-an yang selalu menunduk begitu kuserang dengan tatapan tajam, langsung dipanggil ke kantor. Yang mengerikan, pengawas ruangannya adalah wali kelasku juga.

Sudah ditebak, kami tidak dikeluarkan dari sekolah karena alasan itu. Hanya diberi nasehat panjang, diganjar penyitaan hape seminggu dan hukuman terberat itu… hukuman sosial, di mana daku jadi “bahan bullying” kawan-kawan. Hhh…

~~~

larangan membawa ponsel ke sekolah

Dua contoh cerita di atas daku ambil dari pengalaman nyata semasa SMA. Waktu itu kami hanya siswa-siswi jadul, yang tetap membangkang sekalipun sekolah sudah melarang. Kini… ada beberapa sekolah yang kembali menerapkan larangan ponsel (atau katakanlah smartphone), mau kameraan atau tidak, tapi para siswanya sudah kekinian. Bagaimana, ya?

Hal Menyebalkan dari Larangan Membawa Ponsel Ke Sekolah

Jadi postingan ini terinspirasi dari 2 kejadian utama yang menimpaku baru-baru ini. Kejadian pertama, daku dan rekan di Lembaga Kursus memutuskan untuk meliburkan les dulu karena suatu hal. Daku pun menyebar info pada anak-anak MTs dan Aliyah.

Anak-anak MTs memberi respons, berarti pesannya sudah sampai. Sementara kakak-kakak kelas mereka tidak ada satu pun yang memberi tanggapan. Namun waktu itu daku abaikan.

Sampai kemudian sore harinya, anak-anak sekolah menengah atas itu baru memberi respons. Mereka bahkan mengeluh, sebab sudah datang ke tempat les tapi pintunya tertutup. Ujung-ujungnya kami menyalahkan peraturan sekolah yang melarang siswa membawa ponsel. Mereka jadi ‘terisolasi’ dari informasi. Masih mending dariku, coba kalau dari keluarganya?

Kejadian kedua, daku bertemu dengan teman SMA yang dulu sms-an ketika tengah Try Out. 😀

efek negatif dan postif dari larangan membawa ponsel ke sekolah

crossfadr.com

Alasan Sekolah Menerapkan Larangan Membawa Ponsel

Zaman sudah makin kekinian. Orang-orang mulai ‘canggih’. Bisa tukar-sapa dari kejauhan dengan berbagai macam cara. Mengekspresikan sesuatu pun sudah banyak medianya. Bahkan sampai ada yang bilang “kami tidak bisa hidup tanpa ponsel”.

Maksudnya…

Walau ponsel tidak menjadi sumber oksigen, tapi rasanya sesak saja begitu gadget mendadak hilang dari genggaman.

Namun hal ini tidak menghalangi keputusan sekolah untuk tetap menerapkan larangan ponsel bagi para siswa. Alasan mereka:

  • Agar siswa lebih fokus dan konsentrasi.
  • Mencegah penyalahgunaan Seperti menyimpan gambar atau video tidak senonoh atau menggunakannya sebagai sarana contek-mencontek.
  • Agar ada kesetaraan. Jadi tidak ada istilah siswa mampu (karena membawa ponsel canggih ke sekolah) dan siswa kurang mampu.
  • Menjadikan anak lebih pintar. Memang ada hasil penelitian dari London School of Economics. Katanya pasca pelarangan ponsel, nilai tes para siswa (khususnya yang berusia 16 tahunan) meningkat sebesar 6,4 %.
  • Anak dididik agar tidak konsumtif dan boros membeli pulsa atau kuota.

 

Tidak Setuju Akan Pelarangan Membawa Ponsel Ke Sekolah

Selain pendukung, gagasan tiadanya gadget ke sekolah juga menuai kontra. Banyak pihak yang tidak setuju dengan alasan:

  • Menjauhkan diri dari kemajuan teknologi.
  • Membatasi anak yang ingin berekspresi.
  • Menghilangkan fungsi ponsel sebagai sarana berkomunikasi dari jarak jauh dengan waktu cepat.
  • Tidak menjadi jaminan tidak adanya penyalahgunaan.

Suara tidak setuju itu belum terpuaskan, walau ada beberapa alternatif yang ditawarkan. Misalnya: Orang tua atau keluarga bisa menghubungi pihak sekolah atau wali kelas. Tapi kalau urusannya mendadak, namun jaringan sekolah sedang sibuk, bagaimana?

Pendapat-Pendapat Ekstra

pendapat tentang larangan ponsel di sekolah

mommytongue.com

Menurut Kak Seto, orang tua atau guru itu kadang terlalu banyak melarang atau menyuruh, bahkan dengan nada tinggi. Dan yang disayangkan itu, mereka (orang tua dan guru) jarang membarenginya dengan mendengar keluh-kesah anak.

Hal ini berpotensi akan pembangkangan. Dari depan seperti nurut, tak tahunya para siswa memiliki trik tersendiri untuk melangkahi aturan tersebut. Apalagi anak-anak zaman sekarang?

Larangan, Pembangkangan dan Kreativitas Anak

Salah-satu tujuan dari larangan membawa ponsel adalah… agar tidak adanya penyelahgunaan. Namun faktanya, kasus pembuatan dan penyebaran video porno anak tetap terjadi. Hal ini tentu menimbulkan tanda tanya tersendiri, sudah efektifkah aturan ini?

Lain lagi dengan fenomena ‘terbunuhnya’ kreativitas anak atas larangan membawa ponsel. Karena zaman sudah kekinian, sudah banyak anak sekolah yang merangkap jadi seorang blogger. Dia tentu memerlukan ponsel untuk menjepret momen yang hendak ditulis di jurnal digitalnya. Atau mencatat note atas inspirasi yang tiba-tiba hadir di otaknya.

Bisa juga ada anak yang ternyata pebisnis online dan tentu tak bisa berkutik kala media yang sangat dia andalkan malah ‘terlarang’. Belum lagi dengan anak yang juga seorang Youtuber, di mana ia gemar sharing pengalaman sehari-harinya di sekolah. Tentu ia tak bisa berbuat apa-apa jika mesti membuat video dengan tangan kosong.

Atau ada kasus lain, di mana siswa tetap keukeuh membawa ponsel karena dia memang memanfaatkannya untuk menunjang proses belajar. Misalnya dengan mencari referensi via mesin pencari demi menelusuri materi-materi pelajaran sekolah.

Dsb.

Sebagai Bahan Renungan, Bukan Perdebatan

Daku yakin, sebagian Bro-Sist yang membaca postingan ini ada yang gimana, gitu. Sebagian sepakat, sebagian lagi menolak.

Hanya saja kita sama-sama sepakat kalau ponsel memiliki dua sisi; negatif dan positif. Tapi kita pasti bosan mendengarnya; efek baik dan buruk dari ponsel itu tergantung siapa dan bagaimana penggunaannya.

Seperti pisau. Di satu sisi bisa melukai, tapi di sisi lain bisa membantu kita memotong sesuatu. Asal hati-hati, fungsinya pasti lebih terasa ketimbang efek buruknya.

Namun untuk kasus “No Phone” ini, nyatanya pihak sekolah melarang dengan sepihak. Kenapa tidak, sekolah juga rutin melakukan semacam penyuluhan akan dua efek berlainan yang bisa ditimbulkan dari teknologi. Bagaimanapun, kemajuan teknologi dan informasi itu sangat pesat. Kita tidak bisa ‘mencegah’ anak-anak untuk tidak mengikuti perkembangannya.

Seperti dalam aturan Islam, misalnya. Tak ada ceritanya Islam menyuruh sesuatu dengan saklek atau sepihak. Ketika khamr atau sesuatu yang memabukkan dilarang, otomatis banyak yang protes tidak terima. Namun Islam dengan bijak dan cerdiknya memberi bimbingan bahwa sesuatu yang memabukan itu memang bermanfaat, tapi lebih banyak madhorotnya. Jadi dilarang.

Percaya atau tidak, postingan kali ini dirasa akan pendek saja. Namun ternyata panjang juga. Mohon maaf jika tidak berkenan, ya. Namanya opini manusia, santai saja… tidak wajib disetujui, kok. ^^v 🙂 … #RD

2 Comments
  1. Gisa Astania
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *