Merdeka adalah Penjara yang Bikin Bahagia

Merdeka adalah Penjara yang Bikin Bahagia

merdeka itu penjara yang bikin bahagia

Cr Pict: gardentocity.tumblr.com

Merdeka itu… justeru tidak bebas. Merdeka itu… terpenjara. Tapi dengan merdeka, kita jadi bahagia.

~

Khusus di Indonesia. Hampir tiap tahun, topik tentang merdeka atau kemerdekaan akan kembali eksis di bulan Agustus. Orang-orang akan mengemukakan pendapatnya sendiri terkait kebebasan ini.

Termasuk daku. Nekad sih. Tapi tak apa-apa. ‘Kan sudah merdeka?! 😀 Tapi sebelum menulis lebih lanjut, daku pengin membuat ilustrasi cerita dulu. Tentu terkait merdeka-kemerdekaan…

“Merdeka itu Bebas Berekspresi”

bebas berpoto dari ketinggian

Cr Pict: evanthompsonphotography.tumblr.com

Seorang remaja dibelikan smartphone oleh orang tuanya. Dia girang, sebab kamera depan-belakangnya begitu bagus. Ukuran 8 MP dan 13 MP. Sebagai ekspresi dari rasa syukur dan bahagianya, dia pun gencar melakukan pengamatan untuk berpoto selfie yang spektakular. Ia ingin menerapkan arti kemerdekaan, yaitu dengan cara bebas berekspresi.

Dia lalu memilih berpoto sambil terjun bebas dari sebuah bangunan. Niatnya akan di-share ke semua akun media sosial. Namun belum juga mengambil gambar, dia terpeleset dan jatuh bergulingan. Masih mending tidak cidera parah, namun ia begitu trauma.

Kasus itu membuatnya berpikir ulang tentang kemerdekaan. Ekspresi yang sudah ia tunjukan nyatanya membuat hidup semakin sakit dan ruwet ketimbang sebelumnya. Lebih lagi ia juga jadi bahan olokan rekan-rekannya. Keluarganya begitu khawatir dan bahkan pemerintah setempat langsung menyusun peraturan tentang larangan selfie dengan kondisi-kondisi tertentu.

“Merdeka itu Bebas Bersuara”

bebas bersuara

Cr Pict: salem-news.com

Pengunjung Kota Kuningan gerah karena seorang pedagang kupat-tahu tidak lancar Berbahasa Indonesia. Pedagang tersebut terus berbahasa Sunda, yang sama-sekali tidak ia pahami. Si pengunjung langsung mengeluarkan smartphone dari sakunya.

Ia kemudian log in ke beberapa akun media sosial. Dengan gemasnya ia memposting status berisi suara hatinya sendiri. Dia menulis, “Orang Kuningan – Jawa Barat pada bodoh, enggak kekinian dan enggak pantes diakui sebagai Orang Indonesia”.

Tanpa ia sangka, beberapa jam pasca men-share ‘suaranya’, ia langsung mendapat berbagai hujatan. Tak hanya berisi komentar kasar, melainkan juga ancaman hukuman penjara. Ya, setelah menggunakan kebebasannya untuk menyampaikan suara, ia malah menghadapi risiko kalau ‘kemerdekaannya’ akan segera direnggut.

“Merdeka Itu Menjadi Diri Sendiri”

bebas menjadi diri sendiri

Cr Pict: techbuzzonline.com

Seorang pemuda penyuka reggae diundang ke acara pernikahan kakak kelasnya. Ia tak akan pergi sendirian, melainkan bersama para sahabatnya. Mereka sedikit kebingungan hendak memakan kostum apa. Kalaupun batik, motifnya akan apa. Sementara si pemuda itu dengan santainya bilang,

“Merdeka, Bro. Bebas jadi diri sendiri aja.”

Sesuai ucapannya, pemuda itu datang menaiki vespa dengan mengenakan kostum pantai. Lengkap dengan rambut gimbal, gitar dan aksesorisnya yang berwarna merah-kuning-hijau. Begitu sampai dan bergabung dengan tamu undangan, dia celingukan tak nyaman. Baru kali itu ia merasa “menjadi diri sendiri” bisa jadi sesuatu yang mengganggu. Orang-orang mengunuskan tatapan padanya, lengkap dengan bisikan dan cekikikan mereka.

~

Tadinya daku ingin terus membuat ilustrasi ceritanya. Tapi nanti kebanyakan dan kepanjangan. 3 saja sudah cukup.

Dari sini, makna merdeka semakin pecah. Ada yang bilang “merdeka itu… bebas melakukan apa yang kita mau”. Nah seorang pengacara maunya menyuap hakim. Bukannya dianggap merdeka, dia justeru masuk penjara.

Ada yang bilang “merdeka itu bebas dari penjajah kolonialisme”. Pendapat ini langsung memeroleh serangan dari pendapat lain yang berbunyi “tapi kita masih dijajah secara budaya, sosial, ekonomi, dsb”. Kalau begitu, mana negara yang benar-benar sudah merdeka? Amerika Serikat yang adidaya saja masih memiliki warga yang jadi tuna wisma. Fiyuh… apa sih merdeka itu?

mencari makna kebebasan

Cr Pict: favim.com

Suara lain mengatakan “merdeka itu terbebas dari masa-lalu”. Mungkin hal ini bisa benar-benar kita dapatkan kala hilang ingatan. Bagaimanapun, jerat masa-lalu itu selalu menghampiri sewaktu-waktu. Kita tak bisa mengelak, sebab masa itu memang benar-benar pernah terjadi.

Terus ada yang berpendapat “merdeka itu terbebas dari beban”. Seorang ayah tega meninggalkan anak dan isterinya. Ia kabur ke suatu tepat dan menjalani hidup baru. Ia merasa sudah merdeka, karena tak lagi tertuntut untuk banting-tulang menghidupi keluarga. Namun jauh di lubuk hatinya, perasaannya selalu terguncang. Hari-harinya hampa dan ia hidup dalam ketidaktenangan.

Tak ketinggalan ada yang mengatakan “merdeka itu terbebas dari utang”. Setelah melunasi suatu utang, yakin tidak akan tergiur dengan pinjaman lagi? Dengan kredit ini-itu lagi? Yakin tidak punya ‘utang versi lain’? Utang kebaikan sama seseorang, misalnya? Atau utang qodho puasa?

Ah banyak, ya?!

Merdeka dan Sejuta Definisinya

memaknai kebebasan

Cr Pict: the-faith.com

Tak perlu heran mendengar atau membaca berbagai arti kemerdekaan. Tiap orang memiliki pandangannya masing-masing. Daku yang masih sedang belajar pun memiliki peluang besar untuk salah, termasuk sekarang dalam memaparkan postingan terkait kemerdekaan ini.

Tulisan ini syarat dengan opini pribadi, sebagai seorang insan belaka. Tak wajib setuju. Heck, jangankan pendapat orang biasa, teori para ilmuwan atau pidato para pemimpin dunia saja kadang menimbulkan pro-kontra. Eh, isi hadist sama ayat suci saja kadang masih banyak diperdebatkan, deng!

Tapi ada beberapa pertanyaan yang patut kita renungkan terkait kemerdekaan;

  • Merdeka Dari Apa? Kita ini sebenarnya dijajah oleh siapa?
  • Merdeka Menjadi Apa? Kita ini sebenarnya ingin menjadi apa?
  • Merdeka Melakukan Apa? Kita ini sebenarnya ingin berbuat, mengatakan atau menulis apa?
  • Merdeka yang Bagaimana? Kita ini bisa merdeka tanpa merenggut kemerdekaan orang lain apa tidak? Bisa merdeka tanpa menyalahi aturan Tuhan, tidak? Bisa merdeka tanpa rasa galau, tidak? Apa kita ‘merasa’ merdeka, namun juga merasa hampa?
  • Merdeka itu Kapan? Apa ada waktu atau momennya? Ketika jelas-jelas proklamator sudah melafalkan kemerdekaan negeri ini dan ketika negara lain pun mengakuinya, masih ada juga orang yang menyebutkan kalau kita belum merdeka. Lalu kapan kemerdekaan itu?

Merdeka itu Penjara yang Bikin Bahagia

bebas

Cr Pict: renatabautista.tumblr.com

Banyaknya definisi merdeka yang kurang memuaskan, tidak lantas menutup rasa penasaranku. Sampai kemudian, daku sedikit mendapat pencerahan setelah menggali dan mereview sendiri lagu “The Key-nya Sami Yusuf”. Di dalamnya terdapat makna dari kemerdekaan sejati, yang daku sepakati.

“Dengan memenjarakan diri menjadi hamba Tuhan, kita justeru menjadi merdeka…”

Dengan menjadi budak atau hamba Allah Swt, maka sudah konsekwensi kita untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya; Takwa. Jika melanggar, hidup akan dirundung rasa takut. Tak ada ketenangan, selamanya kita akan merasa gusar.

Ya. Kita merasa berat untuk sholat, berat untuk puasa, berat untuk membagikan rezeki yang kita jemput sendiri, berat untuk bersifat ikhlas, dsb. Namun kita tak bisa bebas. Semua itu wajib dilakoni.

Kita begitu tergoda untuk mengambil hak orang lain, kita tergoda untuk mabuk-mabukan, kita tergoda untuk berzina, kita tergoda untuk memfitnah, kita tergoda untuk membuka aurat, dsb. Namun kita tak bisa bebas. Kita tak bisa melakukan apa yang diinginkan.

Kita terpenjara. Ada ‘pintu’ yang menutup kemerdekaan kita. Dan Dialah, Sang Pencipta, yang memegang kuncinya.

Namun saat memutuskan untuk menjadi narapidana Allah itulah… sejatinya kita ini merdeka. Sebab, apa yang Dia titah, itu akan berefek baik untuk diri kita sendiri. Begitupun dengan yang Dia larang, semua itu memang menjadi sebab untuk segala keburukan bagi diri kita sendiri.

Merdeka itu Proses yang Tak Mudah

menjadi merdeka itu tidak mudah

Cr Pict: rebloggy.com

Seburuk-buruknya kita sebagai manusia, ada masa di mana kita bisa menjadi abdi Allah Swt. Kita beribadah dan menjauhi apa yang mesti dicegah. Namun pertanyaannya… apa kita sanggup konsisten atau istikomah?

Jadinya selama masih hidup, selama itu pula kita masih harus ‘memerdekakan diri’ dengan cara menghamba pada-Nya. Tak akan mudah, banyak rintangan. Tapi seseorang tak akan diangkat derajat dan kemuliaannya ketika ia diberi suatu kemudahan. Seseorang akan naik levelnya ketika ia diberi ujian dan kesulitan. Tapi Allah Swt selalu meyakinkan, selalu ada kemudahan setelah kesusahan.

Kemerdekaan Sejati

Kemerdekaan dengan menjadi hamba Allah Swt membuat kita tak bebas berbuat semaunya. Yang ada, kita justeru ‘terikat’. Namun ikatan itulah yang membuat hidup kita nyaman, tenang dan bahagia.

Tak perlu ada yang memproklamirkan kemerdekaan seorang hamba sejati, apabila sewaktu-waktu ia pulang ke pangkuan Ilahi. Kembali dengan akhir yang sangat baik. Husnul khotimah.

Sudah jelas, ia menggenggam kemerdekaan sejati, kemerdekaan yang hakiki. #RD

6 Comments
  1. Arum
    • deeann
    • Arum
    • deeann
  2. prajuritkecil99
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *