Senja dan Senjata Berupa Kata-kata

Senja dan Senjata Berupa Kata-kata

senja dan senjata berupa kata kata

fancysomedisneymagic.tumblr.com

“Pernahkah kamu merasa… hidupmu itu laksana sereal di tengah-tengah kehidupan?”

Itulah pertanyaan Top Ittipat pada dirinya sendiri dalam film “Top Secret The Billionaire” (Thailand), salah-satu film yang diangkat dari kisah nyata yang begitu mengesankan. Saat itu kondisinya sedang down, se-down-down-nya.

Tapi… meski teringat kata-kata itu, bukan berarti daku sedang dalam keadaan seperti Top. Top Ittipat, ya. Bukan Top Big Bang yang ganteng dan doyan mainan. -_-

Ketika mengingat cuplikan film itu, daku sedang menyusuri jalan menuju ke rumah. Pulang dari lembaga kursus. Waktu itu daku tengah melakukan flashback kegiatan les. Tak ada yang istimewa. Hanya saja, sedang berpikir… bahwa daku juga ikut bertanggung-jawab atas adik-adik didikku itu. Menjadi apa atau siapa mereka nantinya. Ya, daku tahu. Pikirannya (mungkin) kejauhan.

Sesekali kutengok arah barat, ada semburat oranye dengan sentuhan merah saganya yang membara. Awan yang seperti kapas disobek-sobek mengerumuni bulatan bercahaya itu. Melihatnya saja, daku jadi maklum kalau banyak orang yang jatuh cinta pada senja. Memang agung, memang indah.

Daku tersenyum kecut. Dari arahku, matahari senja itu begitu besar dan cantik. Tapi kalau dibalik, dari arahnya, daku ini apa atuh? Jangankan dibilang elok, kelihatan saja enggak. Nah… tak ubahnya seperti ‘sereal’ yang dikatakan Top Ittipat , bukan? Kecil, ringan, remeh dan mungkin tidak dipedulikan eksis atau tidaknya.

Lalu bagaimana daku bisa ‘membentuk’ adik-adik kandung dan didikku sendiri menjadi seseorang yang hebat? Dakunya saja belum keren. Mungkin sesekali saja daku memberikan kata-kata, yang juga diperoleh dan diolah dari sumber lain.

Senja itu… mungkin daku tengah dalam keadaan insecurity; tiba-tiba gamang dan tidak percaya diri. Sampai kemudian, di depanku ada turunan. Dari arah berlawanan (bawah), nampak ada anak kecil yang tengah mengendarai sepeda roda duanya yang mungil. Pendeknya sendiri mungkin setara dengan lututku.

Tak ada yang membuatku menancapkan perhatian padanya, sampai kemudian dia mengayuh pedal ke arahku. Terus dia meneriakan satu kata, seolah kata itu adalah penyemangat yang bisa membantunya melewati tanjakan.

“Kuat! kuat! kuaaat!!!” serunya dengan diulang-ulang.

Wajahnya yang tanpa dosa, kegigihannya mengendalikan sepeda dan kata yang diucapkannya membuatku tertegun. Dia meneruskan perjalanan, begitupun denganku. Tapi daku seperti bara merah yang hampir padam, lalu disembur bensin oleh kejadian sederhana itu; k u a t.

The Power of Kata-kata

senjata kata kata

“Kata-kata keras tidak bisa menyentuh hati yang lembut, tapi kata-kata yang lembut bisa menyentuh hati yang keras. Jadi putuskan dengan hati kata-kata yang hendak kamu utarakan pada orang lain”. ~Mufti Ismail Menk~

“Keraskan kata-katamu, bukan suaramu. Hujanlah yang membuat tanaman tumbuh, bukan guntur”. ~Rumi~

“Kata-kata bisa menginspirasi dan kata-kata juga bisa menghancurkan. Pilihlah dengan bijak”. ~Robin Sharma~

“Seperti halnya sebuah kata, yang bisa membuat hati terbuka”. ~Lirik lagu Fight Song dari Rachel Platten~

“Ada kekuatan aneh dalam kata-kata yang diucapkan”. ~Joseph Conrad~

“Kamu bisa mengubah duniamu dengan kata-katamu”. ~Joel Osteen~

“Kata-kata itu… bisa mengubahmu dan orang-orang di sekitarmu”. ~kataku~ 😀

Cahaya senja terus memayungiku. Satu kata dari bocah itu juga menggelayuti pikiranku. Daku pulang dengan sedikit baikan. #RD

2 Comments
  1. Ade
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *