Yang Gagah, Yang Menangis

Yang Gagah, Yang Menangis

lelaki menangis

tophdgallery.com

“Lelaki tergagah dan terkuat di dunia itu bernama… Brian Shaw.”

Pernyataan di atas banyak diulang-ulang orang pasca lelaki berotot asal Amerika Serikat itu memenangkan suatu kontes yang diselenggarakan di Malaysia, bernama “The World’s Strongest Man” tahun 2015. Lelaki berusia 33 tahun itu bahkan memiliki julukan sebagai “Big Bear” aka Beruang Besar.

Sebagian dari kita mungkin memandang kalau kompetisi ini sedikit gimana, gitu. Tapi event tersebut memang sudah lama berlangsung, dari tahun 1977. Sebagaimana kontes, tentu pemain mesti menghadapi berbagai level rintangan dulu. Tak sembarangan.

Setujukah kalau kategori yang tergagah dan terkuat itu memang begitu, Bro-Sist?

~

Daku jadi ingat acara Radio di Kuningan FM. Kebetulan daku suka mendengarkan “Obras”, acara yang dibawakan oleh duet Kang Ucup sama Teh Ii. Selain menikmati alunan lagu Sunda favoritku, daku juga sering terhibur oleh banyolan absurd para announcer-nya. Namun kadang, banyak sekali nasihat atau sindiran yang terselip di dalamnya.

Salah-satunya daku catat di Hari Rabu, 5 Agustus 2015. Waktu itu Kang Ucup bilang, tentu dalam Basa Sunda. Katanya begini,

“Jalma sakumaha gagahna, mun dibere nyeri huntu mah bisa uak-auk.”

Daku tersenyum geli. Khususnya karena cara bicara Si Akangnya itu. Hehe… Kalau diterjemahkan, artinya kurang-lebih begini:

“Orang itu segimana gagahnya juga, kalau dikasih sakit gigi mah bisa menjerit kesakitan.”

Brian Shaw

Ini Dia Sosok Brian Shaw [Cr pic: mhpstrong.com]

Ada benarnya juga, ya?

Nadanya sih bercanda. Tapi bibalik isi candaan itu terdapat sesuatu yang serius. Nah tepat di hari itu juga, daku dan Mimih berniat menjenguk seseorang. Lelaki.

Sepulang dari kios, kami bergegas menengok seseorang tersebut. Sebut saja Pak M. Beliau itu biasanya berbisnis di luar kota. Namun karena sekarang tengah sakit, tentu pulang ke Kuningan.

Dalam bayanganku, Pak M orangnya gagah. Kalau dimirip-miripin, mirip Om John Cena. Hehe… Memang sih versi agak kecil, tapi rahang dan potongan rambutnya mirip. Errr… Pak M lebih bulat.

John Cena

auction.wwe.com

Begitu masuk ke rumahnya, kami langsung melihat beliau yang tengah duduk di kursi. Daku lihat sendiri betapa sosok yang gagah itu langsung menutup wajah dengan tangannya. Pundaknya naik-turun. Ya, Pak M sesenggukan.

“Cepat sembuh, cepat sembuh,” Mimih langsung mengusap bahunya berulang-ulang, tentu dengan kata-kata Basa Sunda ala orang tua.

Daku yang sedikit terpana hanya duduk, bergabung dengan puteri beliau. Jadilah hanya ada suara isak tangis Pak M dan Mimih. Kalau lelaki itu berulang-kali bilang maaf, maka Mimih hanya menggumamkan doa supaya cepat sembuh.

“Setengah dari badannya terasa dingin, beku,” kata isteri beliau, “Enggak bisa digerakkan.”

Mimih kemudian mengusap bagian yang disebut. Pak M masih terus menangis. Dia berbicara sesuatu, namun rupanya sudah tidak jelas. Terdengar, namun tidak bisa dipahami.

Agak lama kami mengobrol. Mimih dan isteri Pak M yang mendominasi. Daku dan puterinya hanya sesekali menimpali. Pak M sendiri sudah reda tangisannya. Namun matanya masih merah, sembab. Sesekali ia menyeka airmata yang keluar. Benar-benar pemandangan yang sedikit aneh, namun bisa dimaklumi.

Daku jadi ingat ucapan Kang Ucup. Itu baru sakit gigi. Bisa kebayang kalau Brian Shawn atau Joh Cena sakit gigi? Ada kemungkinan mereka bisa menangis juga.

Dan, kini Pak M tengah menderita penyakit… entahlah, daku belum bisa men-judge duluan sebelum seorang dokter. Katanya dokter tersebut akan dipanggil saja. Lebih dari sekadar sakit gigi, dan pasti sakitnya itu memberi dorongan lebih untuk menangis. Membuatnya berurai airmata.

Lama-lama, Pak M minta diantarkan ke kamar. Hanya daku dan anak beliau yang bertahan di kursi tamu. Kami mengobrol, sampai kemudian katanya,

“Bapak sih makannya sembarangan!” dengus puteri Pak M.

“Makan apaan?”

“Jadi ‘kan kami itu ke Rumah Sakit…”

“Oh masih bisa bepergian ke Rumah Sakit?!” potongku.

“Iya Bapak masih kuat, pas di sana ‘kan daku sama yang nganter itu makan bakso,” Dia celingukan, “Terus tiba-tiba Bapak nyodorin gelas kosong sambil bilang ‘eh jangan bilang-bilang ibu, ini bapak minum ini, bayarin gih!’ katanya gitu!”

“Terus? minum apaan?”

“Daku lihat gelasnya, ya ampun Bapak!” Dia memeragakan wajah terkejut, “Bapak minum es cingcau. Ya ampun!”

“Emang enggak boleh?”

“Tuh sih sekarang kayak gini, kayaknya gara-gara salah makan,” gerutunya, “Masa baru ke dokter buat terapi, bukannya sembuh, malah ambruk sih?!”

“Mesti makan apa aja, emang?”

“Kata Ceu A yang dulu sakit kayak gini sih, makan wortel sama kentang aja!”

“Ya ampun…” Daku membayangkan betapa ‘mengerikannya’ kalau hanya diberi izin memakan dua sayuran itu (saja).

“Iya,” Dia mendekat dan berbisik, “Terus, masa tadi bapak bilang dia pengin bakso. Ckck…” Dia berdecak dan memijat dahinya, menandakan sedang berpikir keras.

Hhh…

Manusia, ya?! Segagah apapun lelaki, kalau sudah diberi ujian, tetap saja mengeluh dan bahkan menangis. Tapi wajar. Toh lelaki juga memiliki indera perasa serta perasaan. Jadi alangkah baiknya untuk tidak menghakimi lelaki menangis dengan sesuatu yang bukan-bukan.

Pantes Rasullah Saw tidak mengkategorikan lelaki terkuat itu adalah lelaki yang tidak pernah menangis, atau lelaki yang bisa ngangkat unta, atau lelaki yang sixpack, dan semacamnya.

Menurut Beliau, orang yang terkuat adalah orang yang mampu menahan diri dari amarah.

Menangis tak apa. Kalau dia bisa mengendalikan amarah, dia tetap berstatus gagah. #RD

6 Comments
  1. taupikwida
    • deeann
  2. ipah kholipah
    • deeann
  3. fandy
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *