3 Jenis Pengorbanan; Kita Termasuk yang Mana?

3 Jenis Pengorbanan; Kita Termasuk yang Mana?

3 jenis pengorbanan kita termasuk yang mana

Pict on: thoughtselection.wordpress.com

Pengorbanan.

Apa yang pernah kita korbankan? Sesering apa kita berkorban? Kenapa hati kita mau atau rela melakukannya? Bagaimana efeknya pada diri kita?

Bagi seseorang, pengorbanan bisa memiliki nilai berbeda, ya. Ada orang yang menganggap kalau ‘memberi air bersih satu ember pada tetangga’ adalah suatu pengorbanan. Sebab, mereka memang tinggal di lingkungan yang sedang dilanda kesulitan sumber air bersih.

Ada juga yang mengatakan kalau ‘makan daging kambing’ adalah pengorbanan besar. Sebab mungkin saja, orang tersebut memang anti atau tidak suka. Namun dalam suatu kesempatan, dia bisa rela melakukannya. Demi sesuatu hal.

Alasan untuk Berkorban

Daku yakin kita semua pernah dihadapkan dalam berbagai pilihan yang menuntut pengorbanan. Misalnya;

  • Apa rela tabungan yang sudah dipupuk sejak lama tiba-tiba dipakai untuk pengobatan salah-satu anggota keluarga yang jatuh sakit? Apa pura-pura tidak punya uang saja?
  • Apa rela jika bolu karamel yang sudah dibuat dengan penuh perjuangan, lalu ikut dimakan oleh para tetangga? Apa disimpan untuk keluarga sendiri saja?
  • Apa rela berkeringat ria dan mengorbankan gengsi untuk membantu keuangan orang tua? Apa memilih tidak acuh saja?
  • Apa rela bergabung dengan antrian panjang untuk mendapat kesempatan bertatapan dan salaman sebentar dengan seorang idola? apa pulang dan menonton sang idola via layar saja?
  • Apa rela membatalkan acara nonton konser musisi favorit ketika suami/isteri mendadak menghubungi, karena ada hal penting yang perlu diselesaikan di waktu bersamaan? apa bersikukuh menolaknya saja?
  • Apa rela menggunakan hasil usaha sendiri untuk membeli hewan kurban dan membagikannya secara cuma-cuma pada orang lain? apa menabungkannya saja untuk masa depan pribadi?
  • Apa rela bangun lebih awal dari orang-orang untuk menghabiskan waktu lebih banyak dengan Dia? apa tidur saja sampai nyenyak dan puas?

 

Pilihan ada di tangan kita. Masing-masing orang bisa memutuskan atau mengorbankan sesuatu dengan hasil berbeda. Alasan dibalik pilihan atau pengorbanan itu pun berbeda-beda juga. Tapi… hal buruk bisa terjadi jika tujuan pengorbanan kita itu keliru.

3 Jenis Pengorbanan Berdasarkan Tujuan atau Alasan

Lagi-lagi kita mesti mempertimbangkan motivasi apa yang mendorong kita untuk berkorban. Apa kita melakukan pengorbanan untuk Sang Pencipta karena ingin lebih dekat dengan-Nya, atau takut nanti hidupnya dipersulit dan masuk neraka? Apa kita berkorban agar bisa membahagiakan pasangan, atau hanya ingin menghindar dari pertikaian dan perceraian? apa kita berkorban karena ingin meringankan beban orang tua, atau berharap pandangan baik dari orang lain? Dsb.

Berdasarkan alasannya, kita bisa membagi pengorbanan menjadi 3;

  1. Pengorbanan karena termotivasi untuk membangun hal-hal positif.
  2. Pengorbanan karena menghindari hal-hal negatif.
  3. Pengorbanan karena berharap balasannya.

Apa terdengar sama? Hmm… berbeda, ya?! Jom kita bahas!

Pengorbanan karena termotivasi untuk membangun hal-hal positif. Yang satu ini biasanya menguntungkan. Sebab yang ada di batok kepala kita adalah kebahagiaan bersama. Oke, kita berkorban dan ‘mereka’ bahagia. Tapi justeru kebahagiaan mereka itulah yang menjadi sumber senyum dan kelegaan hati kita. Jenis pengorbanan ini membuat semua pihak puas, hubungan jadi lebih terjaga, intimasi lebih era dan keregangan bisa dihindari.

Pengorbanan dengan motivasi positif ini bisa terlihat pada orang tua yang banting-tulang dan merasa penat, tapi begitu bahagia ketika hasil perasan keringatnya ikut dihisap oleh anak-anaknya. Atau suami yang rela begadang dan ngantuk dahsyat, tapi merasa puas karena sudah menemani proses persalinan isterinya. Atau juga, om dan tante yang senyumnya mengembang ketika bisa merelakan gaji atau pendapatannya, demi memberi angpao lebaran pada para keponakannya. Ah, banyak sekali ya contohnya.

Pengorbanan karena menghindari hal-hal negatif. Sebagian dari kita mungkin mengaitkan poin yang satu ini dengan poin sebelumnya. Namun nyatanya memang berbeda. Terlihat dari hasilnya. Orang dengan pengorbanan seperti ini biasanya kurang bahagia, tidak puas, selalu galau, dan bisa mengancam sebuah hubungan. Entah hubungan dengan suami/isteri, keluarga, pertemanan, dsb.

Bisa kita lihat beberapa contohnya. Misalnya dengan berpikiran,

“Dari pada keponakan nangis gulang-guling, ya sudah mending keinginannya untuk beli jam baru diturutin saja. Habis ya habis deh komisiku bulan ini!”

Atau,

“Males banget nyetrika baju suami! Tapi, daripada suami marah terus bikin malu sama tetangga, mending dilakuin aja deh! Huft!”

“Kalau enggak qurban, nanti orang ngira keluargaku sudah bangkrut. Reputasiku bisa turun. Nanti Tuhan juga bisa marah, terus usaha bisnisku jadi terkutuk, bagaimana? Arrghh… deal deh beli sapi besok!”

Banyak lagi sampel lain yang ada di kehidupan sehari-hari. Bahkan mungkin pernah kita alami sendiri. Intinya yang satu ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Mengorbankan kebahagiaan diri sendiri.
  • Berkorban, tapi tak ada kerelaan.
  • Berkorban untuk menghindari sesuatu.
  • Berkorban sebagai pembuktian diri kalau kita ini ‘anak yang baik’, ‘hamba Allah yang taat’, ‘isteri/suami yang mengabdi’, dsb.

Pengorbanan karena berharap balasannya. Well, sebenarnya hal yang lumrah kalau kita melakukan sesuatu dan kemudian berharap sesuatu yang lain. Di dunia nyata maupun di lagu-lagu… kita sering menganggap kalau suami/isteri, keluarga, sahabat dan orang-orang tertentu lain akan ada saat kita terjatuh sebab kita pun selalu siap-siaga di sisi mereka saat butuh. Tapi kalau kenyataannya tidak, bagaimana?

Kalau berkorban dan kita berharap ucapan terima kasih atau berupa balasan tertentu, pasti akan jadi masalah tersendiri. Diri kita akan kecewa, begitu pun dengan orang-orang sekitar, yang mulai ‘mencium’ ketidaktulusan. Intinya pengorbanan yang satu ini berpeluang menghadirkan kesalahpahaman.

Kita mesti bertanya pada diri sendiri;

“Kenapa sih kita berkorban untuk mereka?”,

“Apa ada ekspetasi atau harapan setelah melakukan pengorbanan itu?”,

“Kalau mereka tidak berterima kasih atau melakukan pengorbanan untuk kita juga, gimana?”, dsb.

Hmm… pengorbanan ternyata bisa jadi bahan diskusi yang panjang dan cukup kompleks juga, ya. Soal ikhlas atau tidaknya, tentu tak bisa diukur oleh apapun. Mungkin hanya hati sendiri dan Dia saja yang Maha Tahu.

Terkait pengorbanan atau korban atau Hari Raya Qurban, daku dan kawan-kawan pengelola blog ini mengucapkan “Selamat Hari Raya Idul Adha”. Jom kita renungi sama-sama terkait pesan Alquran dalam Surat Al Hajj ayat 37:

“Bukan daging dan darah-darah mereka (hewan qurban) yang menggapai (keridhoan) Allah Swt, melainkan ketakwaan atau kesholehan kamu yang dapat mencapainya”.

#RD

2 Comments
  1. prajuritkecil99
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *