7 Cara Agar Kita Tidak Melampiaskan Kekecewaan Pada Orang yang Disayang

7 Cara Agar Kita Tidak Melampiaskan Kekecewaan Pada Orang yang Disayang

7 cara agar kita tidak melampiaskan kekecewaan pada orang-orang yang disayang, melampiaskan kekecewaan

Cr: ahkoonboystudio.blogspot.com

“Tak perlu menyalahkan orang yang sudah membuatmu kecewa. Salahkan dulu dirimu sendiri yang terlalu berharap banyak pada mereka…”

Quote atau kata-kata tersebut cukup terkenal. Namun kadang kita lupa, dan kembali berharap banyak pada orang lain. Kita pun mesti menelan kekecewaan karena harapan tersebut… tak menjadi kenyataan.

~

“Kemarin Beben tanya, ‘Mih kenapa sih sama Teh Dian?’” Mimih membuka obrolan ketika daku sedang menulis, “Teh Dian diem aja pas Beben datang…”

Daku langsung menghentikan aktivitas. Pikiranku melayang ke kejadian hari kemarin. Waktu itu… daku dan Mimih hendak menutup kios, karena memang waktu sudah begitu siang. Biasanya Beben akan datang lebih awal dan membantu menutup kios. Namun ia datang terlambat.

Jujur, daku sedang dalam masa-masa kecewa pada adik yang satunya, Isal. Daku begitu banyak menumpukkan harapan di pundaknya. Daku begitu membanggakannya. Asaku tinggi padanya. Namun ternyata… dia bikin kecewa. Dan parahnya, daku belum mau mulai bicara.

Mana tulisan-tulisan belum selesai, terus mau ada ujian kompetensi di lembaga kursus serta mesti siap-siap menyambut siswa/siswi peserta les yang baru. Kecewa ditambah capek, jadinya selalu pengin marah. Walau itu pada hal-hal kecil.

Maka pada saat Beben datang, daku diam saja. Malah daku pulang duluan. Sudah kebiasaan. Kalau sedang sebal, daku suka menghindar dari orang. Ya begitulah… takut tiba-tiba tumbuh tanduk dan emosinya langsung meletup begitu ‘kesenggol’ sedikit.

“Beben jadi kagok dan malu kalau mau ngapa-ngapain sama Teh Dian, mau minta sesuatu atau mau minta tolong sesuatu…” Mimih meneruskan.

Daku diam saja. Rasanya itu kok sakit, ya? Serasa diremas, gitu?! Adik bungsuku curhat dengan begitu polosnya sama Mimih. Tentang daku, tentang kekecewaanku yang dilampiaskan padanya.

Fiyuh…

Kekecewaan

Cr: mikehoolboom.com

Memang, ya. Kalau sedang emosi, sedih, kecewa atau apapun itu, energi kita bertumbuh. Rasanya jadi powerful. Tapi yang kerap kita lupakan adalah… untuk apa energi tersebut dipakai? Atau, dilampiaskan ke mana energi yang tiba-tiba muncul tersebut?

Kalau untuk memendamnya, rasanya bukan pilihan bijak. Bagaimanapun hal tersebut bisa menjadi bom waktu, yang suatu saat akan meledak. Dahsyat. Untuk itu, ada baiknya kita memerhatikan hal-hal berikut agar energi dari amuk emosi kita tidak menelan korban atau orang yang kita sayang:

#1. Menangis Sampai Puas

Begitu bulir-bulir airmata sudah merabunkan pandangan kita, biarkan saja. Tak perlu ditahan. Daku rasa itu lebih sakit. Alirkan saja. Apalagi sambil bersimpuh dan berdoa. Ada aura tenang tersendiri setelah puas melakukannya.

#2. Pukul Sesuatu

Ketika membaca status atau tweet seseorang yang marah, lalu mereka ingin menonjok sesuatu, daku jadi bisa maklum. Ketika rasa sebal sudah di ubun-ubun, hasrat untuk menampar memang tinggi. Daku sempat kepikiran untuk belajar tinju, agar bisa menghantam bantalannya. Kalaupun tidak ada kesempatan, lampiaskan pada bantal atau guling biasa. Kalau pada tembok, takut nanti rusak atau tangannya sakit. 🙂

#3. Menulis atau Coret-Coret

Anugerah besar daku dapatkan karena tiap harinya memiliki aktivitas menulis. Kalau sedang marah atau kecewa, menulis bisa menjadi salah-satu terapinya. Ajaib, memang. Energi berlebih dalam diri jadi tersalurkan dalam hal yang baik dan kreatif. Kalau pun kita tak bisa menulis dengan baik dan benar, tak masalah menulis secara acak atau coret-coret saja. Entah pada diary manual atau digital. It’s okay.

#4. Mendengar Musik

Kalau sedang tidak ada orang di rumah, atau minimal Mimih sedang ke pengajian, daku non-aktifkan headset. Daku ganti dengan speaker. Dan keluarlah… musik-musik rock, atau kadang metal melodik. Lirik yang membangun, ritme yang pas dan rebukan drumnya kadang bikin kita baikan.

#5. Melakukan Aktivitas Fisik

Energi dari rasa kecewa juga bisa dilampiaskan pada kegiatan fisik. Mirip sama yang memukul, menampar atau meninju di poin sebelumnya. Namun yang satu ini lebih ke… olahraga atau beraktivitas yang memicu keluarnya keringat. Kalau sedang marah besar, daku paling suka menggenggam lap pel dan mengelap lantai atau barang lain sampai capek sendiri. -_- Syukur-syukur kalau ada kesempatan badminton. Uh~

#6. Bicarakan dengan Gamblang

Pernah tidak, Bo-Sist langsung menceritakan masalah pada orang asing atau yang tidak terlalu dekat? Misalnya ketika kita kecewa pada orang-orang terdekat dan para sahabat sedang jauh. Bisa saja kita bertemu sekilas dengan orang di jalan, di ATM, di angkutan umum, di pusat perbelanjaan, di warung-warung pinggir jalan, di media sosial dsb. Lalu kita yang tengah sesak ingin bercerita dengan gamblangnya membuka rahasia. Setelah puas bercerita, kita pun berlalu. Bahkan tak kepikiran apa akan bertemu lagi dengan orang tersebut atau tidak. Namun efeknya itu… kadang-kadang jadi begitu ringan.

#7. Berkarya

Orang galau kadang tiba-tiba memiliki lebih banyak ide untuk bikin puisi, lirik lagu atau cerita. Orang dilemma kadang begitu berhasrat untuk mengukir atau memahat sesuatu. Orang yang gagal namun tetap berusaha kadang diberi cahaya pikiran untuk menciptakan quote atau kata-kata inspiratif. Termasuk orang kecewa, yang kadang memiliki ide untuk dijadikan tulisan di blog. 🙂

Baca Juga: 13 Tips untuk Menggali atau Mendapatkan Ide Menulis

Kekecewaan adalah hal yang lumrah. Bukan kita seorang yang merasakannya. Namun bedanya, ada yang bisa mengendalikan rasa kecewa, ada juga yang justeru dikendalikan oleh rasa tersebut.

Maafkan diri sendiri dan tidak perlu terlalu melambungkan harapan pada seseorang. Semua butuh proses. Semua belajar. *narik becak, eh narik napas. #RD

6 Comments
  1. Wong Ganteng
    • deeann
  2. Gisa Astania
    • deeann
  3. Sati
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *