9 Tips Ketika Mesti Bekerja Sama dengan Rekan Kerja yang Lebih Muda

9 Tips Ketika Mesti Bekerja Sama dengan Rekan Kerja yang Lebih Muda

bekerja dengan rekan kerja yang lebih muda

Cr Pict: halogensoftware.com

“Youth has no age”. Masa muda mah enggak punya usia. Begitu kata mutiara dari Pablo Picaso yang daku suka. Setujukah, Bro-Sist?

Ungkapan di atas sedikit menghiburku, ketika daku mesti menghadapi kenyataan kalau rekan kerjaku yang sekarang ternyata lebih muda. Berbeda dengan periode kemarin-kemarin, di mana dakulah yang menjadi anak bawangnya. Daku yang berada dibawah bimbingan dan mentoring Bu Neneng, Bu Tita, Pak Ikbal, Pak Aang dan Pak Ucu.

Pada Kamis (9/9/15), daku dan rekan-rekan lembaga kursus mengadakan pertemuan. Hari di mana daku mesti memilih atau memutuskan komitmen pengabdian sampai ke depan. Hari itu juga, daku bertemu untuk pertama kalinya dengan para rekan kerja yang baru; Adnan, Ririn dan Rudi. Kalau Ririn baru diwisuda pada Rabu, 8 September 2015 kemarin, maka Adnan dan Rudi masih sedang menyusun skripsi.

Demikian juga instruktur Bahasa Inggrisnya. Ada Yadi, mahasiswa yang akan menghadapi PPL. Dia yang paling muda. Meski beda materi ajar, kami cukup dekat. Thanks to Bahasa Inggris yang sesekali sering kami pakai untuk berkomunikasi.

Rentang usia itu, mau tidak mau, kerap membuat suasana pertemuan jadi canggung. Lebih lagi ada pimpinan dan pihak admin juga. Tapi sebagai orang yang sudah lebih dahulu bekerja, memang ada beberapa tips atau hal yang bisa kita pertimbangkan begitu menghadapi mereka yang baru masuk. Jom!

#1. Tidak Perlu Pukul Rata Dulu

“Ah anak zaman sekarang, paling yang ditonjolin itu cuma penampilan sama gadget doang! Skill mah apa atuh?!”

Jika ucapan seperti itu sudah tercetus, walau dalam pikiran, mungkin menjadi tanda kalau kita sudah menyamaratakan mereka. Padahal baiknya kita memandang mereka sebagai individu, bukan generasi. Tak semua anak muda mengedepankan gengsi, tak semuanya tergila-gila dengan harta orang tua, tak semuanya memiliki skill rendah, dsb. Banyak juga remaja atau anak yang justeru lebih inspiratif, powerful dan berpengaruh.

#2. Ikut Melihat Dari Kacamata Mereka

Perbedaan usia kami tidak terlampau jauh, 2-4 tahun saja, namun daku yakin generasi ke generasinya memiliki hal lain. Daku masih mengalami bagaimana itu superioritas senior terhadap junior. Atau bagaimana itu sebuah rapat kerja digelar, mesti serius dan suasananya formal. Atau juga, bagaimana cara berpakaian ala pengajar, yang bawahannya mesti celana bahan kain dan atasannya tidak boleh kaus.

Kalau zaman sekarang, beberapa contoh yang daku sebutkan sedikit mengalami pergeseran. Pekerja-pekerja muda bisa ‘rapat’ melalui media sosial, grup fesbuk atau BBM, misalnya. Senior-junior juga hanya sapaan, kesehariannya seperti biasa. Begitupun dengan pakaian. Khususnya daku sendiri di lembaga kursus, yang jarang mengenakan outfit resmi. 🙂

#3. Memahami Kalau Sebenarnya Mereka Tidak Benar-Benar Percaya Diri

Mohon maaf. Bukan bermaksud menyepelekan para pekerja muda atau yang baru. Tapi faktanya… meski lulusan strata tinggi, tapi tak akan menjamin kalau kita akan tahu dan paham seluk-beluk tempat kerjanya. Misal di tempat kursus. Mereka belum tahu bagaimana sistem administrasinya, bahan ajarnya, hitungan gajinya, pihak mana saja yang menjadi relasinya dsb. Karena itu, kita mesti siap siaga dan membimbingnya perlahan.

Menghadapi atau beradaptasi pegawai baru, pekerja baru, pegawai yang lebih muda, senior ke junior

Daku, Rudi, Adnan dan Ririn sedang membicarakan kertas yang mudah jadi sampah padahal mereka merupakan hasil pengorbanan dari pepohonan. Eh, maksudnya kami sedang membahas detail materi ajar. 🙂 [sudah dipublish di IG @deeannrose]

#4. Bersedia Belajar Pada Mereka

Remaja ‘matang’ menjadi level di mana seseorang bisa begitu ‘kuat’, idealismenya tinggi dan serba tahu. Kita tak bisa menyia-nyiakan kesempatan itu. Karena itu… selain menjadi mentor untuk lingkungan baru bagi mereka, ada baiknya juga untuk ikut belajar. Baik itu tentang gadget, topik yang sedang nge-hits, aplikasi yang kekinian dan bermanfaat, dsb.

#5. Bersikap Pada Norma atau Sikap yang Serba Baru  

Tak bisa dipungkiri, anak-anak muda (bahkan tua) di zaman sekarang memang memiliki jalinan khusus dengan gadget atau smartphone-nya. Jika suatu hari… ketika sedang dalam suasana rapat, pekerja lama tidak akan terlalu menghiraukan getar ponsel atau nada deringnya. Paling hanya dilihat sekilas, kalau tidak penting, ya dimatikan. Kalau penting, tentu akan segera meminta izin semua yang hadir.

Kalau yang era kekinian sedikit berbeda. Ada notif yang kurang penting saja kadang membawanya larut. Jadinya dia tidak akan terlalu konsentrasi pada arahan langsung, melainkan fokus pada dunianya. Yang satu ini memang sedikit annoying, namun kita bisa memberitahunya dengan perlahan, kalau perbuatan itu tidak sesuai dengan norma kesopanan.

Beda lagi jika pekerja muda tersebut menggunakan gadgetnya ‘untuk kepentingan kerja’. Masih ketika rapat, misalnya. Mereka merekam atau jepret sana-sini, dengan alasan untuk dokumentasi. Padahal mungkin untuk diupload ke media sosial. Tapi ya sudah tak apa, memang ada benarnya. Dokumentasi juga perlu. Siapa tahu kita juga pengin memostingnya, ‘kan? #eh

#6. Mesti Clear dan Detail Dalam Penyampaian Pekerjaan

Ketika rapat, pimpinan lembaga hanya memberikan garis besar terkait materi ajar yang mesti disampaikan ke anak-anak. Misalnya beliau hanya bilang kalau waktu mengajar microsoft excel itu durasinya dikurangi jadi satu bulan. Begitu rapat selesai, daku membuat kumpulan kecil. Tujuannya tentu untuk mengurai detail dari hal-hal umum yang sudah diinstruksikan, agar nantinya tidak blur, begitu.

Mesti clear dan detail. Termasuk merumuskan kira-kira materi apa yang mesti disampaikan pada anak-anak tingkat SMA, bagaimana menyusun materinya, satu bulan itu ada berapa pertemuan, di berbagai meeting-nya mau diisi dengan apa saja, format latihannya bagaimana, dsb.

#7. Ada Baiknya Tidak Memposisikan Diri Sebagai “Guru” atau “Orang Tua”

Sedekat apapun dengan guru atau orang tua, kadang kita tidak bisa terbuka tentang semua hal. Kita juga tak selamanya bebas berekspresi, mengeluarkan pendapat atau sekadar bertingkah konyol untuk menghibur diri. Ada sekatnya. Beda lagi kita berhadapan dengan sahabat karib. Demikian juga ketika kita bersama para pekerja muda. Mereka akan terbuka atau tidak tergantung bagaimana kita memposisikan diri juga, bukan?

#8. “Di belakang” Pekerja Muda atau Baru

Seperti halnya kita, mereka pun memiliki keluarga dan kebutuhan yang melatarbelakangi kesediaan bekerja. Mereka anak orang, yang menjadi harapan dan kebanggaan orang tua serta keluarganya. Tak perlu kita halangi proses kemajuannya. Sukses bersama-sama tentu bisa menjadi pilihan yang lebih baik, daripada nikung dan mengintimidasi mereka agar tidak betah.

#9. Throwback ke Masa-masa Di Mana Kita Menjadi Pekerja Baru

Dulu ketika pertama kali masuk kerja, siapa senior atau pekerja lama yang kita favoritkan? Kenapa kita menyukainya? Nah, sekarang setelah ada pegawai baru atau yang lebih muda, giliran kita yang mesti bisa difavoritkan junior. Tapi tentu saja ‘favorit’ di sini bukan gaya-gayaan, melainkan yang benar-benar berpengaruh terhadap karier positif pegawai baru. Kita tentu menyenangi senior yang asyik, tidak terlalu menciptakan sekat ‘senior-junior’, siap ditanya apapun dan kapanpun, sangat membantu kita dalam proses adaptasi, dsb. Baiknya kita pun seperti itu, kok.

Duh daku jadi merasa tua banget dengan nulis postingan ini. Tapi sebagai pengingat saja… youth has no age, ya. Walau secara angka usianya sudah tak lagi remaja, namun jiwanya siapa tahu begitu muda. Hehe… semoga 9 tips ketika mesti bekerja dengan rekan kerja yang lebih muda ini bermanfaat, ya.  ^_^ #RD

2 Comments
  1. Wong Ganteng
  2. deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *