Ada Rasa Dari Citarasa (Cerpen Duet)

Ada Rasa Dari Citarasa (Cerpen Duet)

Ada rasa dari cita rasa

Pict on: juicyretreat.com

Aroma kebebasan menusuk hidung saat bau pekat soal-soal ujian akhir semester lenyap. Sekonyong-konyong kata “liburan” berjumpalitan di kepala. Momen besar yang sudah lama kunanti itu akhirnya tiba.

Para shopaholic dan window-shopper hilir-mudik dengan riangnya di area Bandung Indah Plaza. Sementara bangku panjang di kedai makanan yang kududuki ini terasa jauh lebih nyaman dibanding hari biasanya. Terlebih segelas es susu soda menambah semarak kelegaan yang terasa hari ini.

Ketika bibir asik menyedot buih-buih soda yang menggemaskan itu, ada tangan yang singgah di bahu kananku. Secepat kilat aku menoleh dan sang pemilik tangan pun tersenyum. Seulas senyuman yang menimbulkan kecurigaan.

Pemuda jangkung berambut ikal dan berkulit lumayan legam ini karibku, Firman. Maniak sepakbola yang tergila-gila pada olahraga sebelas lawan sebelas itu sejak masih orok, begitu pengakuannya padaku. Firman adalah wakil ketua UKM sepakbola.

“Ada apa, Fir?”

Senyumnya mengembang lagi. Dan lagi-lagi aku menaruh curiga pada makna senyuman itu.

“Jajan es susu soda mulu, Yu. Sekali-kali mah ngirit lah, minum air yang aku masak di kosan. Hehehe.”

“Yakin kamu teh cuma mau nyampein itu aja, Fir?” dahiku menciptakan lipatan.

“Hahaha. Gini, Yu. Mm… Turnamen futsal antar kampus yang kita rencanakan teh positif bisa digelar pekan depan,” katanya dengan emosi meluap-luap.

Haduh! Seketika pikiranku gelap gulita. Masa liburan yang lama kunantikan bisa lenyap tanpa jejak karena turnamen futsal. Pantas saja senyuman Firman macam penjahat licik begitu.

“Kamu teh jadi ketua panitianya,” lanjut Firman.

Mendengar itu kepalaku serasa mau meledak. Aku sama sekali tak tahu jika rencana yang sempat digulirkan beberapa bulan lalu itu akan terlaksana.

“Tunggu dulu!”

Satu lengkingan suara dari belakang mengejutkan aku dan Firman. Sekonyong-konyong kepala kami memutar seratus delapan puluh derajat. Kami berdua tahu benar suara siapa itu. Hentika, ketua UKM basket. Dia makin dekat.

“Haduh, Bayu. Jangan kebanyakan minum es susu soda atuhJunk food tuh! Gak sehat, tau?!” kata-katanya datang beruntun seperti peluru.

“Oh iya kamu teh jadi ketua panitia di turnamen basket antarkampus, yah. Waktunya minggu depan.” tambahnya dengan raut nyaris “tanpa dosa”.

Lagi-lagi aku dibuat melongo oleh pernyataan yang terlempar dari bibir Hentika. Turnamen basket dan sepakbola di waktu yang sama, jadi ketua panitia, bayangan akan liburan yang hilang tanpa bekas menjejali otakku. Aku seperti merasakan kiamat kecil seketika!

“Nggak bisa seenaknya gitu atuh! Bayu mah jadi ketua panitia turnamen futsal,” kata Firman.

“Bisa saja. Pokoknya dia mah mesti jadi ketua panitia turnamen basket. Titik,” sungut Hentika.

Seperti inilah keadaan yang tercipta tatkala air dan minyak bertemu, tak pernah sejalan. Entah salah minum apa aku, sampai-sampai suasana yang tadinya tenang nan nyaman jadi begitu mencekam.

Dua orang ini memang sudah termasyur sebagai rival. Baik di bidang akademik maupun non akademik. Tapi aku tak menyangka kalau rivalitas itu sampai seperti ini.

“Kamu teh bakalan ngurus turnamen futsal ‘kan, Yu?” tanya Firman lantang.

“Turnamen basket ‘kan, Yu?” Hentika ngotot.

Telingaku pekak mendengar dua orang, yang sejatinya sama-sama berotak brilian ini, berseteru. Pikiranku jadi ruwet gara-gara mereka. Kuambil tas dan gelas es susu sodaku, membayar bill, lalu melengos tanpa melontarkan sepatah kata pun!

Melihat reaksi yang kutunjukkan, mereka sempat kebingungan namun kemudian suara keduanya justru makin menggelegar di kejauhan dengan konklusi yang sama, saling menyalahkan! Aku sampai tak habis pikir, apa yang merasuki otak dua makhluk ini.

Memang sudah lama UKM sepakbola dan basket menjadi primadona di kampus. Bisa dibilang, dua UKM ini bersaing jadi UKM bergenre olahraga terbaik. Tiap tahun keduanya menggelar beberapa turnamen, baik internal kampus maupun umum yang selalu sukses besar.

Persaingan kedua UKM ini makin memanas semenjak Hentika jadi ketua UKM basket dan Firman jadi wakil ketua UKM sepakbola. Walau statusnya cuma wakil, Firman adalah otak dari semua kegiatan UKM sepakbola. Ketua UKM ini, Kang Maman, lebih disibukkan oleh aktivitasnya sebagai karyawan bank.

Kegalauan yang kudapat dari Firman – Hentika tadi berlanjut sampai perjalanan pulang. Dua UKM ini adalah UKM prestisius dan aku ingin menunjukkan bahwa aku seorang loyalis. Sudah dua tahun aku bergabung dengan keduanya. Tapi berat jikalau harus mengomandoi dua turnamen sekaligus. Aku pun yakin, tak ada satu pun dari keduanya yang mau mengalah alias memundurkan jadwal.

“Tapi pilih yang mana, ya? UKM sepakbolanya Firman atau basketnya Hentika?” sembari menunggangi motor matik putih kesayangan, dalam hati aku bertanya-tanya.

Dalam hati aku menyusun skenario, sesuatu yang akan mendukung rencana dan tujuanku. Target operasi ini sudah jelas, Firman dan Hentika. Sekarang aku harus berusaha bagaimana caranya supaya mereka jatuh cinta. Dengan begitu, menurutku, mereka akan lebih lunak dan mudah mengalah soal waktu pelaksanaan lombanya supaya tak bertubrukan.

“Nah!” refleks aku memetik jari kanan, membuat Si Putih sempat oleng. Beruntung, aku masih bisa mengendalikannya.

+++++

“Firman teh ngakunya lagi jatuh cinta sama cewek dari dunia lain, Yu,” keterangan Kang Maman sempat membuat tenggorokanku kerepotan menelan mie ayam. Dengan segera kuseruput es susu soda jatah siang.

“Dunia lain gimana, Kang? Sundel bolong nyasar?” tanyaku keceplosan, saking kuatnya pengaruh film horor yang jadi kegemaranku.

“Hahaha. Maksudnya dari dunia maya, Yu. Kalau gak salah mah teman fesbuknya, gitu. Eh, tapi…” tawa Kang Firman reda spontan.

Matanya menyorotkan sinar penasaran yang amat besar.

“Kamu kok nanyain siapa pacar Firman? Naluri kamu teh… baik-baik aja, ‘kan?” tanyanya memojokkan, lalu tertawa lebih lebar.

“Apa atuh, Kang. Aku ini lelaki tulen! Cuma pengen tau aja,” Aku memahami kecurigaannya dan segera menjawab sewajar mungkin.

Obrolan kami menggelinding. Kang Maman bercerita banyak hal soal Firman. Namun yang lebih mengagetkanku adalah kisahnya soal Hentika. Bagaimana bisa ya orang seperti Kang Maman tahu seluk-beluk Hentika?!

“Aku punya rencana untuk mendukung keinginanmu,” kata Kang Maman sambil mendekat kearah telingaku.

Terdengar rumit dan hampir mustahil, tapi setelah kupikir-pikir lagi, rencana Kang Maman bisa saja terwujud.

“Memang sih, Firman dan Hentika teh kayak Squidward sama Spongebob. Makanya perlu dijembatani Mr. Crab,” Kang Maman seolah paham apa yang aku khawatirkan.

“Kamu bisa jadi sosok Mr. Crab itu, ‘kan, Yu?” lanjutnya sembari menubrukkan pandangan baranya pada kedua mataku.

“Aku? Kenapa mesti aku atuh, Kang?”

Kang Maman mendekat, kepalanya berbelok menuju salah satu telingaku, berbisik lagi. Disitu ia membisikkan kalimat-kalimat yang mengagetkan. Tiba-tiba saja kantin kampus yang disesaki para mahasiswa seakan lengang. Rasa pedas dari bumbu mie ayam pun seolah hilang. Rencana sosok yang dikenal sebagai sang politikus kampus ini memang menggiurkan.

“Pikirkan aja dulu, Yu. Tapi ssst…” instruksi Kang Maman sembari menegakkan telunjuk di depan bibirnya yang legam. Lehernya memutar ke kanan-kiri. Aku hanya mengangguk.

Mungkin ia takut jika Firman dan Hentika ada di tengah-tengah mahasiswa yang kelaparan. Namun aku tak khawatir. Setahuku, Firman akan lebih memilih hengkang ke kosannya ketimbang menyambangi kantin. Menurutnya, bisa sesuai selera dan irit, maklum anak kos. Sedangkan Hentika, sudah jadi rahasia umum jika dia sangat selektif soal asupan gizi.

“Oke, Kang. Langsung aku coba.”

Survey z nih, All. Tipe cowo anak2 UKM Olahraga tu yg kyk gmn sich?

Sambil terus mengisi perut, nekat kukirim pesan pada Hentika. Agar tak menuai kecurigaan, kubuat isi pesanku terkesan dikirim ke banyak nomor. Dalam sekejap, balasan sms yang kutunggu pun tiba:

Hentika

Yg gak kyk km n Si Firman. Hahaha 😀

Aku

Kok gt? hadeehh -_-‘

Hentika

Michael Jordan is the best. Sleraku kyk bgitulah. Bda sma km yg pmakan sgala n aneh. Klo Si Firman mah klewat nyebelin. Hahaha 😀

Aku

Item gt? -_-‘ Km girang bnr euy! Ksambet?

Hentika

Biar item tp kren, Yu. Legend itu, legend! Enk aj, lg brsukaria ini mah. Hahaha 😀

Aku         : Pntes. Jtuh cnta ya? Hayo!!

Hentika : Kira2 bgonolah. Hihihi.

“Baca ini Kang,” kataku pada Kang Maman.

Ia pun meraih ponselku dan membaca pesan singkat yang kukirimkan pada Hentika. Wajahnya seketika bak bunga layu.

Mission impossible ini mah. Sama-sama jatuh cinta rupanya.”

Kuhela napas panjang. Pelan-pelan kurasakan keropos sudah gairahku. Tulang-tulang yang menyangga tubuhku pun seakan tanggal. Bagaimana mungkin, manusia biasa sepertiku memaksakan diri untuk melawan kemustahilan ini?!

Setengah semangat aku membayar makanan di kantin. Terlebih isi dompet semakin kempis. Di bawah guyuran terik matahari, aku segera menunggangi Si Putih. Baru melesat beberapa meter, pandanganku terpaku pada seorang lelaki tinggi tegap. Sepertinya tengah menunggu angkutan umum.

“Mau ke mana, Man?”

“Ke Toserba Rose, Yu.”

“Kebetulan atuh. Bareng, yuk?!” ajakku, yang segera Firman sambut.

Dalam sekejap ia telah duduk dibelakangku. Selama beberapa detik ia berusaha mendapat posisi duduk yang nyaman. Maklum, badan gempalku memang mempersempit ruang. Si Putih pun kulajukan makin kencang menuju Toserba Rose. Aku berencana membeli mie instan dan popcorn, teman menonton film horor.

“Mau bikin apa atuh, Man?” Aku penasaran melihat Firman belanja tempe, sayur-mayur dan beragam bumbu.

“Hehehe. Gini, Yu. Teman di grup fesbuk teh ngasih resep bikin steak alternatif , ya inilah bahan-bahannya. Aku mau coba praktikkan.”

“Grup anak-anak UKM sepakbola?”

Firman menggeleng tegas, “Grup masak-memasak, Yu. Namanya teh Cool Cooking.”

“Kamu gabung sama grup masak di fesbuk? Sejak kapan?”

“Lumayan lama sih, Yu. Hehehe.”

Alisku bergerak-gerak macam cacing. Senyum licik timbul dari bibirku.

“Eh, kamu kenapa?” Firman ketar-ketir.

“Jangan-jangan perempuan yang Kang Maman ceritakan padaku itu anggota grup Cool Cooking, ya? Perempuan yang menarik hatimu. Iya kan?”

Wajahnya sedikit merona, campuran antara tersipu-malu dan penasaran atas “nyanyian” Kang Maman. Namun Firman terlihat berusaha mengendalikan perasaan itu. Ia tak banyak bercerita tapi menurutnya, gadis ini cerdas dan ulet.

“Eh, tapi akunku yang ini gak berteman sama kamu, Yu. Hahaha.”

“Hah? Maksudmu, dummy?”

“Hehehe iya, Yu,” Firman terkesan menurunkan intonasi sambil merangkul bahuku, “Aku tahu, akun fesbuk anak UKM olahraga apapun emang wajib pake nama asli. Makanya aku teh bikin akun kloningan dengan nama F-Man Loves Cooking. Akun itu mah gak berteman sama anak-anak kampus, Yu.”

Aku hanya mengangguk-angguk sembari menyelinapkan perasaan geli atas nama akun kloningan Firman. Namun segera pula pikiranku melayang jauh soal Firman. Ia adalah putra dari keluarga yang kurang mapan. Berasal dari daerah seberang, namun masih satu provinsi. Untuk itu, di sini ia masuk kategori pelajar rantau. Benar atau tidak, tapi otak brilian dan kecakapannya dalam memasak sepertinya berkaitan dengan semua itu.

“Oh ya, sudah siap jadi ketua panitia?”

Pertanyaan itu memerahkan telinga. Spontan jantungku ikut berdegub laju. Aku tak tahu mesti ngomong apa karena belum bisa memutuskan.

“Masih bingung. Beri aku waktu berpikir.”

Firman mengangguk sambil tersenyum. Kami berpisah setelah aku mengantarnya sampai ke kosan.

Kulajukan Si Putih sambil terus berpikir soal dua kegiatan prestisius itu. “Apa nggak ada yang bisa diundur ya? Satu saja,” gerutuku dalam hati.

+++++

cerpen duet ada rasa dari cita rasa

Pict on: kitchenplatter.com

Malam harinya aku melawat ke rumah Hentika. Tadi sore aku mendapat SMS darinya yang memintaku untuk bertandang. Aku tak bisa berkelit karena Hentika tahu pasti, aku tak ada jam kuliah.

Sesampai di rumahnya aku disambut dengan senyum lebar khas miliknya. Jika dicermati, semuanya pasti sepakat kalau Hentika yang lumayan jangkung ini memang berparas ayu ditambah tingkat kecerdasan yang jempolan, membuatnya pantas jadi idola. Toh,  meskipun gemar basket ia tak begitu tomboy, malah tetap cerewet, mungkin memang semua cewek begitu.

Usai mempersilakan aku duduk, ia mengambil dua buah laptop. Dimana salah satunya berisi data-data turnamen basket yang sebelumnya. Yang satu lagi, dari yang terlihat sekilas, penuh dengan gambar menu makanan.

“Ini kamu baca ya, Yu.”

Haduh! Padahal aku belum menyanggupi untuk jadi ketua panitia turnamen basket itu. Tapi sudah disodori data kegiatannya.

“Kamu ngapain, Tika?”

“Browsing dong. Aku teh mau nyoba bikin menu ini,” katanya sambil menunjukkan gambar makanan yang mirip kwetiau.

Di kalangan anak UKM basket, Hentika memang lumayan terkenal sebagai koki. Ia tak segan-segan untuk membuat makanan ringan nan sehat bagi kawan-kawan di UKM. Sampai-sampai muncul jargon di antara anak-anak basket, Ada Hentika Kita Kenyang, Tak Ada Hentika Perut Berperang.

“Tunggu dulu, bukannya kamu teh nggak begitu suka mie dan sejenisnya, yah?”

“Yah, namanya juga ujicoba atuh, Yu. Siapa tahu kalau nanti aku berhenti main basket teh, aku bisa buka resto. Kan menunya kudu beragam,” katanya diikuti tawa lebar.

“Sarjana Akuntansi punya resto sendiri, kedengarannya mantap,” sahutku sambil mengangkat jempol.

Kulanjutkan membaca lembar demi lembar rincian turnamen basket itu. Ada yang kupahami dan tentu saja ada yang tidak. Tapi Hentika dengan tenangnya berkata, “Nanti aku bantu. Nggak usah khawatir.”

Sungguh aku tak bisa berkata apapun mendengar ucapan Hentika. Mirip sekali aku dengan kerbau yang dicocok hidungnya. Itu juga yang membuatnya berani memastikan bahwa aku siap jadi ketua panitia. Haduh!

+++++

Tidak enaknya jadi mahasiswa jurusan akuntansi adalah cuma bisa menghitung duit yang tak ada wujudnya. Kalau ada, pasti tak puyeng bin ngantuk seperti beberapa saat lalu. Sesaat kelas terasa seperti neraka mini. Apalagi dosen akuntansiku lumayan kaku, jadilah semuanya klop.

“Yu, sibuk?” tanya Firman seraya menghampiri.

“Nggak kok. Mau refreshing. Puyeng habis kuliah euy.”

“Temani aku ke BIPyuk?!“

“Hah, BIP… Bandung Indah Plaza? Emang ada apa, Man? Kok tumben kamu teh mau kongkow-kongkow.”

“Sudahlah. Temani saja.”

Dengan tanda tanya besar masih hinggap di dalam otak, aku temani Firman menuju area Bandung Indah Plaza. Setibanya di sana, kami melangkah ke dekat kedai makanan langgananku. Lumayan adem di siang hari yang terik ini. Terlebih ada pohon mahoni berdiri sebagai kanopi di situ. Lengkaplah sudah.

“Kamu teh mau ngapain sih di sini?” tanyaku penasaran.

“Aku ada janji.”

Aku tertegun.

“Kamu teh mau ketemuan sama cewek dari grup masak itu, yah?”

Pelan-pelan Firman pun menggerakkan kepalanya naik turun. Aku tak bisa menahan diri untuk tertawa. Aku tak peduli jika Firman marah padaku. Tapi sungguh, ini lucu buatku.

“Jangan ketawa gitu atuh,” ujarnya.

Janji yang Firman ucapkan tadi disepakatinya bersama gadis yang tak pernah disebutkan namanya itu beberapa waktu lalu. Entah janji apa yang dimaksud Firman, tapi sejak tadi ia sibuk dengan kotak makanan yang dibawanya. Apa mereka berjanji untuk bertukar makanan buatan masing-masing, ya? Bisa jadi.

“Kalau dia jelek, gimana Man?”

Firman membisu sejenak.

“Aku tak peduli. Yang penting ketemu aja dulu. Share ilmu,” jawabnya.

Firman menyetiai waktu untuk menunggu. Lumayan sabar juga. Jarang-jarang ia seperti ini diikuti tawaku, dalam hati.

“Aku ke toilet dulu, Yu. Nggak kuat nahan nih.”

Firman yang nampak nervous pun beranjak menuju toilet umum yang ada di tempatnya anak-anak Bandung, khususnya yang mengaku rock n roll, nongkrong ini. Mataku melesat ke sekeliling, suasana disini lengang, tak seramai akhir pekan. Ketika mata ini mengarah tepat ke depan, suara sesosok gadis berbaju biru memecah kebekuan. Gesture dan karakternya amat kukenal.

“Bayu. Kamu teh ngapain disini?”

“Eh, Tika. Kamu sendiri ngapain atuh di sini?”

“Aku teh ada janji sama teman. Kamu?” tanya Hentika lagi sambil menikmati es krim.

“Aku mah lagi jalan-jalan, mm… biasa, mau makan,” kataku ngeles. Aku malu jika harus berkata bahwa aku sedang menemani Firman.

“Oh gitu. Aku duduk disini atuh, ya. Boleh?”

Berat sebenarnya untuk menyetujui itu tapi lagi-lagi aku selalu tak bisa berbuat apapun dihadapan Hentika. Dengan tenang, ia pun duduk di sebelahku.

“Kamu janjian sama siapa, Tika?”

“Ini mah urusan cewek, Yu. Kamu nggak perlu tahu.”

Obrolan kami pun meluncur pada hal lain. Aku bertanya-tanya dalam hati, apa kalau Hentika dan Firman bertemu karena ketidaksengajaan seperti sekarang, mereka takkan bertikai? Atau justru sama saja seperti biasanya? Aku berdebar.

Dari arah belakang, kulihat Firman yang baru saja keluar toilet berjalan santai, dengan kotak makanan yang dibawanya tadi ada di tangannya. Detik demi detik merambat, aku menyadari sesuatu dari baju pemuda itu. Semakin dekat dengan tempat duduk kami tadi, ia makin sumringah.

Happy One,” kata Firman sambil tersenyum. Sementara aku menatapnya bingung.

Mendengar kata yang diucapkan Firman, seketika Hentika menoleh dengan raut wajah riang.

F-Man Loves Cooo……,” tutur Hentika senyap sampai situ. Keduanya saling menatap, terpaku.

Meledaklah tawa yang tak kuasa kutahan. Jadi gadis yang Firman ajak bertemu disini adalah Hentika. Dan orang yang memiliki janji dengan Hentika adalah Firman. Euleh-euleuh! Dan warna pakaian yang mereka kenakan adalah ciri-cirinya. Biru. Aku terpingkal-pingkal memegangi perutku melihat mereka berdua merona, sepertinya lebih karena malu.

Tikus dan Kucing di kampus ini ternyata punya hubungan “mesra” di dunia maya. Nama samaran yang mereka pakai di akun fesbuk ternyata membawa mereka sampai sejauh ini. Dunia nyata tak berbanding lurus dengan dunia maya.  Menggelikan.

Ponselku berbunyi, dari Kang Maman,

“Aku baru dapat SMS dari Kang Maman kalau kampus teh melarang kegiatan apapun dua minggu ke depan. Soalnya mau ada studi banding dari Brunei. So, turnamen futsal dan basketnya ditunda dulu atuh, yah.”

Firman dan Hentika diam saja. Raut wajah mereka masih malu-malu. Aku makin geli melihatnya.

“Oke. Aku nggak mau ganggu deh. Mungkin ada yang mau tukeran menu buatannya masing-masing. Selamat menikmati makanannya, ya, mmm… Happy One dan mmm… F-Man Loves Cooking!” kataku sambil menahan tawa yang kemudian meledak lagi seusai menjauh dari keduanya.

Sempat kutoleh mereka yang salah tingkah itu terlibat percakapan yang kikuk, bertukar menu makanan sambil susah-payah melengkungkan senyum, lalu kemudian terlihat seperti mendebatkan sesuatu. Lagi-lagi aku terbahak.

Takdir Tuhan yang seringkali tak terduga dan “ada-ada saja” tentu bukan sekadar untuk “mengerjai” manusia, melainkan menjadi ketegasan bahwa Dia-lah yang Maha Mengatur segala-galanya. Termasuk sebuah pertemuan dan kemunculan rasa – dengan siapa, dimana, kapan, bagaimana dan mengapa semua itu terlaksana.

Rencana yang kukonsultasikan pada Kang Maman memang lenyap, terserap oleh salah-satu kejutan mungil Tuhan bagi umat-Nya. Kali ini, lewat citarasa, Firman dan Hentika yang rival itulah tokoh sentralnya.  Enjoy the food, enjoy the story at all! [#RD]

AN:

Ini cerpen lama yang alhamdulillah daku temukan setelah mengubek-ubeknya. Sesuai judul postingan, karya ini memang hasil duet antara daku dan seorang teman penulis bernama Budi Windekind. Berikut profil singkat kami:

Budi Windekind berdomisili di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Menyukai dunia literasi sejak SMA, berawal dari menulis naskah teater. Pendukung setia FC Internazionale. Add on Budi Windekind, follow twitter @Windekind_Budi. Salam literasi!

Dee Ann Rose lahir dan tinggal di Kuningan, Jawa Barat. Akun fesbuknya Dee Ann Rose. Twitternya @Dee_Ann_Rose. Instagramnya @deeannrose. Emailnya dianrose90@gmail.com atau dianrose26@yahoo.co.id.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *