Hati dan Otak Ketika Dibentak Orang Terdekat

Hati dan Otak Ketika Dibentak Orang Terdekat

Hati dan Otak Ketika Dibentak orang terdekat

Pict on: projotransparansi.com

Begitu datang ke rumah, I geleng-geleng kepala sendiri. Ibu angkatnya melihat I dengan penuh tanda tanya. Daripada pertanyaan hatinya tak terjawab, ia pun mengatakannya secara langsung,

“Kenapa?”

“Tadi ‘kan Mah, waktu I pergi ke rumah A,” I menelan ludah, “I kaget banget!”

“Kaget, kenapa?”

“Ibunya A itu loh, Mah,” I mengingat-ingat kejadian yang baru disaksikannya, “Masak membentak A di hadapan I, sih?!”

“Masak, sih?”

“Iya!” I meyakinkan, “Beliau nyuruh-nyuruh, gitu, tapi nadanya tinggi. I aja sampe gemeteran dengernya. Mamah ‘kan enggak pernah gitu sama I…”

“Hmm…”

“Itu di depan orang lain, apalagi kalau I enggak ada ya, Mah?!” pandangan I menerawang, “Hiiiy…”

~

Cuplikan cerita di atas memang nyata ya, Bro-Sist. Daku tukil dari sekitar. Sengaja namanya disamarkan, toh yang akan kita ‘comot’ itu kisahnya. Bukan orangnya. Hehe…

Nah, Bro-Sist. Bagaimana hati kita ketika dibentak seseorang? Dan, orang itu adalah sosok yang begitu dekat? Duh…

Khusus sama Ibu, Mamah, Bunda, Mamih, Mimih atau apalah sebutannya… daku pribadi pasti akan terpuruk pas dibentak begitu. Hmm… jadi ingat kesalah-pahaman yang terjadi antara daku dan Mimih. Daku tengkurep di atas ranjang, terus ganti posisi sambil tetap nangis ngadep tembok. Sakiiit.

Periiih banget rasanya. Padahal waktu itu bukan termasuk dibentak sih. Hanya dinasihati, namun dengan cukup serius dan menegangkan. Setidaknya bagiku, ya. Dan yang bikin hatiku tersayat (katain daku lebay, enggak apa-apa kok :D), Mimih waktu itu seperti hilang kepercayaan padaku. Daku seperti dihakimi atas sesuatu yang enggak daku lakukan.

Kalau mengingat konflik seperti itu, enggak tahu deh. Mood jadi kebawa drop. Enggak enak, pokoknya. Nah apalagi bagi anak, yang sudah kenyang dengan bentakan ya? :/

Hati dan Otak yang Dibentak

Daku tak akan jauh-jauh menggunakan cerita orang lain sebagai contoh. Daku sendiri saja… ketika membayangkan bentakan dari orang tersayang, pasti retak bahkan remuk hatinya. Mungkin karena tidak terbiasa dengan perkataan keras dan kasar yang terngiang di pintu telinga kali, ya. Jadinya bisa baper sendiri kalau ujug-ujug hal itu terjadi.

Sempat ada artikel yang mengatakan kalau sel otak seseorang bisa terbunuh begitu ia menerima bentakan. Wallaahu’alam. Namun daku sangat yakin kalau bentakan itu memiliki pengaruh yang kuat, layaknya pujian atau sanjungan. Contoh pengaruh yang pernah daku alami yaitu ketika seseorang yang berparas ganteng membentak orang lain. Daku bisa ilfil bahkan mungkin menarik pujian kalau dia itu tampan. -_-

Keadaan Mental Akibat Bentakan

Anak-anak berhak bahagia di masa-masanya, bukan justeru menerima kucuran kemarahan para orang tua. Sebab bentakan tentu akan mengguncang keadaan mental atau jiwanya. Anak-anak bisa;

  • Kehilangan rasa percaya diri.
  • Sangat pemalu atau tertutup
  • Jadi peragu
  • Pemarah, meniru si empu bentakan.
  • Apatis atau tidak acuh sama-sekali, saking sudah biasanya dengan bentakan.
  • Memberontak atau membangkang, khususnya kala emosi sudah di ubun-ubun dan meletup begitu saja.

Kata dan nada bisa mengubah otak dan hati seseorang juga, ya. Jadi pelajaran berharga juga buatku, khususnya untuk menjaga kata dan intonasi suara pada anak-anak. #RD

4 Comments
  1. Muhammad Rizky
    • deeann
  2. fadel
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *