11 Hal yang Membuat Kita Lebih Suka Masa-Masa Jadul

11 Hal yang Membuat Kita Lebih Suka Masa-Masa Jadul

11 hal yang membuat kita lebih mencintai masa masa jadul reborn13 tumblr com

Cr: Reborn13 on tumblr.com

Lebih suka masa jadul apa yang kekinian?

Tak wajib dijawab ‘ya’ atau ‘tidak’, sih. Sebab masing-masing masa memiliki titik pesonanya tersendiri. Di zaman sekarang segalanya serba praktis, canggih dan ‘ajaib’. Biar pun keadaan ekonomi sedang sulit, toh warganya masih bisa menggenggam smartphone dan membeli paket data untuk eksis di medsos. Magic juga tuh kasus serius tentang penambangan di Lumajang malah baru diseriusi sekarang. Ups…

Daku jadi merasa sangat tua ketika memutuskan untuk memosting tulisan subjektif ini. Tapi ya… memang ingin disampaikan sekaligus bernostalgia juga. Kalaupun Bro-Sist belum mengalami kehidupan tahun 90-an, internet sudah membukakan tangan untuk memberitahu. Tinggal searching, langsung ketemu.

Memang mau tak mau, ada pergeseran di segala aspek. Karena itu, tak jarang kita kerap membanding-bandingkan antara zaman dulu dengan sekarang. Entah itu fashion style-nya, kecenderungan musiknya, tontonan tv-nya, dsb.

Nah apa saja yang membuat masa jadul itu dirindukan? Jom!

#11. Masa Kanak-Kanak

masa anak anak

pict on: jeenalthakkar.wordpress.com

Jaman dulu berarti jamannya daku masih anak-anak. Masa yang takkan pernah kembali itu sangat menyenangkan. Belum sekolah, belum jatuh cinta, belum tertuntut hidup, dsb. Bahagia yang ada.

#10. Permainan Tradisional

permainan tradisional anak-anak

Created by DPE, Copyright IRIS 2009

Rata-rata pekarangan rumah yang luas akan segera penuh olehku dan teman-teman. Kalau tidak, kami akan memilih lapangan sebagai tempat bermain. Permainannya pun biasanya bersifat tim. Jadinya permainan pun memiliki berlipat keuntungan. Ya sebagai sarana olahraga, persahabatan, melatih kompetisi sehat, mengajarkan kerja-sama, dsb.

#9. Mainan

mainan bekel permainan bekel

Pict on: nawrisa.blog.com

Nengok kiri-kanan di zaman sekarang, anak-anak sudah mojok sendiri-sendiri dengan gadgetnya. Kalau dulu, daku dan kawan-kawan cukup menyediakan satu bola untuk dipakai bersama. Termasuk juga monopoli, ular tangga, kerambol, dsb. Kalaupun tidak ada semua itu, permainan bisa tetap jalan, walau hanya petak umpet.

#8. Olahraga

olahraga dan prestasinya di zaman dulu

Pict on: kompasiana.com

Nama-nama besar dari berbagai cabang olahraga tentu begitu terkenang. Sebut saja Susi Susanti, Alan Budikusuma, Mia Audina, dsb. Belum dari cabang lain. Prestasinya sedang menanjak dan masyarakat begitu antusias. Eh, bukan. Bukannya menganggap yang sekarang jelek. Hanya saja atmosfirnya itu… cukup membakar. Isu intervensi politik dalam olahraga juga tidak terlalu kuat.

#7. Sinetron

sinetron jaman dulu

Pict on: kapanlagi.com

Kalau di zaman sekarang, daku tidak ‘terikat’ dengan sinetron apapun. Maksudnya tidak terlalu mengikuti jalan ceritanya. Tapi dulu… rasanya orang akan mudah suka pada sinetron. Cerita dan pesannya masih logis, menarik serta meninggalkan kesan tersendiri. Termasuk sinetron laga, magic atau yang diadaptasi dari luar negeri. Beberapa diantaranya yaitu “Si Doel Anak Sekolahan”, “Keluarga Cemara”, “Pernikahan Dini”, “Misteri Gunung Merapi”, “Wiro Sableng”, “Si Buta Dari Goa Hantu”, “Maria Marcedes”, “Carita de Angel” (Dulce Maria), “Betty La Fea”, dsb. Woah… banyak juga, ternyata!

#6. Jajanan Tradisional

mie krip-krip

Pict on: segiempat.com

Dulu rasanya daku belum pernah mendengar jajanan untuk anak mengandung borax atau bahan kimia berbahaya lainnya. Permennya masih gulali dan kami saksikan sendiri gulanya asli. Es di warung-warung juga belum memakai sodium. Gorengan pun tak ada yang berplastik. Beberapa jajanan pasarnya pun masih alami. Ya getuk, klepon, putu mayang, bola-bola, dadar gulung, dsb. Daku juga jadi ingat beberapa merek yang sangat terkenang; mie siap lahap ‘Krip-Krip’, cokelat dan biscuit ‘Nyam-Nyam’, mie kremes ‘Anak Mas’, permen karet ‘Yosan’, dsb.

#5. Berita

berita zaman dulu dan penerjemah isyarat

Cr: setia1heri.com

Headline pemberitaan zaman sekarang sangat mengerikan. Lawan politik yang saling mencaci, paman yang berbuat tidak senonoh terhadap keponakan, warga yang disiksa di balai desa dan seperti tak terendus oleh aparat, ibu yang didapati menghabisi anak sendiri, dsb. Lebih mengerikannya lagi… kita sudah tak terlalu aneh dengan semua itu. Zaman dulu? Daku tahunya hanya kabar politik yang membosankan, swasembada, voting dewan untuk memilih presiden baru, dsb. Ditambah dengan ‘orang kecil’ di pojok bawah yang kerap menggerak-gerakkan tangannya. Ternyata figur itu bertugas sebagai penerjemah dengan bahasa isyarat.

#4. Ketika Tanpa Internet

hidup tanpa internet

Pict on: internet-kids.blogspot.com

Sedih juga kalau daku memosting kata-kata, gambar, video, dsb milik orang lain di dunia antah-berantah internet, tanpa memberi kredit atau menyertakan sumbernya, seolah-olah semua itu adalah karyaku sendiri. Huft!  Dampak negatif internet memang sudah diakui banyak orang lain. Ya adanya informasi bebas, pornografi atau perjudian yang mudah diakses, penipuan, perselingkuhan, percontekan (?), rusaknya intimasi dalam tiap hubungan, dsb. Sampai yang daku singgung di awal, terkait plagiarism atau pencurian karya yang kadang tanpa terasa.

#3. Para Public Figur dan Wajah-wajah Segarnya

wajah segar artis zaman dulu

Pict on: somaliaction.wordpress.com

Selebriti atau para entertainer memang datang silih-berganti. Ada yang langsung sukses, lalu menghilang. Banyak juga yang benar-benar meniti dari awal dan masih eksis sampai sekarang. Begitu pun dengan wajah-wajah mereka yang belum terlalu ‘berat’ dan masih segar. Daku masih ingat saja dulu bersama kawan-kawan begitu kagum sama Syahrul Gunawan, Ariel Peterpan, Adrian Maulana, tokoh di telenovela Amigos, Aksay Kumar, pemain Dil Hai Tumhara yang selalu bawa boneka alias Jimmy Shergil, dsb.

#2. “Sesuai Usia”

lagu anak anak sholawatan

Pict on: salmanitb.com

Sesuai namanya, maksud poin ini yaitu kita bisa hidup atau menikmati sesuatu sesuai usia. Kalau anak-anak, ya mendengarkannya lagu anak-anak. Lirik lagunya ringan namun sarat pelajaran, nadanya ceria dan dinyanyikan oleh anak-anak juga. Bukan justeru lagu dangdut dengan tarian dan liriknya yang aneh. Dulu bahkan lagu agamis atau sholawatan lah yang booming. Tentu kita bisa mengingat Mbak Sulis atau Pak Haddad Alwinya.

#1. Musik

musik jadul

Pict on: publicdomainpictures.net

Dulu daku dan orang tua merupakan penikmat dangdut. Kami menikmati karya Bang H. Rhoma Irama, Yunita Ababil, Evi Tamala, Ikeu Nurjanah, dsb. Lagu dan sentuhan tarinya ‘bersih’. Walau galau atau gombal, tapi tetap manis. Lalu kakak mengenalkan lagu-lagunya Bang Iwan Fals. Sangat sosialis, cerdas, membumi dan mudah dinikmati. Kemudian kakak yang lain memperdengarkan slow rock barat, yang daku nikmati meski tak dipahami.

Lanjut dengan kakak perempuan yang doyan mendengar radio dan mendendangkan music pop atau karya-karya band ternama. Ya Stinky, Base Jam, Potret, Peterpan, Ungu versi lama, Nugie, dsb. Belum lagi dengan lengkingan Mel Shandy, Yosie Lucky, Nikeu Ardila, Nicky Astria, dsb. Semua daku dengar. Oh, termasuk juga hits-hits The Corrs seperti Radio, Runaway dan Breathless.

Kini… zaman sekarang, untuk lagu di tanah air, daku terbilang enggak kekinian. Masih belum move on dari lagu-lagu jadul, soalnya. Paling banter karya-karya band indie yang keren, tapi mungkin belum terlalu popular. Sebut saja Dialog Dini Hari, Banda Neira, Angsa dan Serigala, Float, dkk.

Mungkin ada yang sependapat dengan tulisan subjektif ini? Hehe… mohon maaf kalau postingan “11 Hal yang Membuat Kita Lebih Suka Masa-Masa Jadul” enggak berkenan, ya. #RD

6 Comments
  1. muthmainnah nasaru
    • deeann
  2. salaminzaghi
    • deeann
  3. N. Firmansyah (@nfirmansyah_)
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *