15 Syarat dan Ketentuan Inti untuk Menjadi Diri Sendiri

15 Syarat dan Ketentuan Inti untuk Menjadi Diri Sendiri

15 Syarat dan Ketentuan Inti Untuk Menjadi Diri Sendiri

Artist: Ric Nagualero [Olympus Digital Camera]

Jadi nasihat “be yourself” juga sudah ada syarat dan ketentuannya, ya?

Nah, sebelum lebih jauh, segenap pengelola blog rosediana.net pengin mengucapkan “Selamat Tahun Baru Islam 1437 H”. Mudah-mudahan tetap tahu diri, dan tak beranjak dari kesadaran bahwa kita ini hanya seorang hamba Allah Swt. Mudah-mudahan juga kita tetap menaruh harapan, kepercayaan dan kekuatan penuh hanya pada-Nya. Aamiin.

Di tahun baru ini, kita bisa sejenak ‘mengobrol’ dengan diri sendiri. Apa sejauh belasan atau mungkin puluhan tahun ini, kita sudah nyaman dengan menjadi diri sendiri yang sekarang? Apa kita mesti bertahan? Apa kita mesti sedikit melakukan perubahan? Atau mungkin, kita berubah total saja? Dan, hijrah?

Sudah kita rasakan bersama, betapa lelahnya menjadi orang lain. Tiap saat kita mesti pura-pura setuju atas sesuatu yang sebenarnya tidak sesuai dengan opini diri sendiri. Kita juga mesti tersenyum palsu di tengah suasana yang sebenarnya membuat hati menangis. Atau, kita hanya pasrah melakukan berbagai hal yang sebenarnya menjadi beban.

Padahal, siapa yang tahu diri ini sebenarnya?

Selain Tuhan, mungkin jawaban berikutnya adalah diri sendiri dan orang-orang yang sangat cinta dan paham kita ini siapa. Dan di momen tahun baru ini, baiknya kita  introspeksi diri. Tentang bagaimana tanda-tanda ketika diri ini sebenarnya tidak nyaman jadi “diri sendiri” yang sekarang. Ada ciri-ciri, di mana kita baiknya sedikit  “mengedit diri” agar lebih nyaman dan tentram menjalani hidup.

Berikut ini aturan, ketentuan atau syarat utama untuk menjadi diri sendiri. Jom!

#1. Paham Mana Yang Mesti Diprioritaskan

Kita lebih galau memilih merek sepatu dibanding dengan pasangan hidup. Kita lebih pusing memikirkan haircut atau potongan rambut untuk tahun baru, dibanding dengan membuat daftar resolusi untuk diwujudkan. Atau kita lebih njelimet memikirkan kehidupan artis tersayang, daripada nasib keluarga sendiri. Kalau keadaan kita masih seperti ini, sebaiknya berubah jadi orang yang lebih bisa memilih mana yang lebih prioritas.

#2. Tidak Lagi Mengandalkan Orang Lain untuk Menggapai Impian Diri Sendiri

Memang, kita tidak bisa hidup sendirian. Kita butuh orang lain. Namun ketika memiliki mimpi atau cita-cita, kita tak bisa duduk terdiam saja dan menunggu orang lain yang mewujudkannya. Kita pun perlu bertanggung-jawab dengan usaha dan doa semaksimal mungkin. Saat kita terlalu mengandalkan gerak orang tua, bantuan teman, kekuatan posisi sanak famili, dsb, saat itu juga kita mesti sedikit mengubah haluan.

#3. Tahu Kapasitas Diri Bagi Orang Lain

Kita menganggap seseorang sebagai ‘belahan hati’ dan sangat mengistimewakannya. Sosok dia bisa menjadi ‘percik semangat’, tapi di lain waktu bisa menjadi batu besar yang menghadang semangat. Di tangannya, kita begitu mudah menjadi kuat. Namun di tangannya juga, kita jadi cepat rapuh bahkan hancur berkeping-keping. Semuanya tak akan menjadi masalah serius, kecuali kalau dia sendiri memperlakukan kita secara biasa saja. Dia tidak memandang kita, layaknya kita memandang dia. Inilah salah-satu  keadaan, di mana kita tidak belum tahu posisi diri sendiri bagi orang lain. Orang itu bahkan sudah bisa menjadi ‘racun’ dalam kehidupan. Karena itu, alangkah baiknya untuk berubah. Kita mesti berusaha untuk lebih tahu diri, dan memberikan yang terbaik pada mereka yang lebih bisa mengapresiasi dengan baik juga.

#4. Tahu Perspektif yang Baik

Perspektif atau pola pandang menjadi sesuatu yang penting. Ada momen-momen yang sangat menguji perspektif kita, apa sudah benar atau masih keliru. Misalnya ketika terjebak macet di angkutan umum. Pola pikir kita bisa terbagi dua. Pertama, kita akan menganggap apa yang terjadi adalah sesuatu yang bikin frustasi. Kedua, kita akan menganggap kalau kemacetan itu menjadi perpanjangan waktu untuk kita istirahat, melamun, mengecek ponsel atau mungkin bercengkerama dengan teman sesama penumpang. Perspektif pertama akan membuat darah meninggi dan mood jadi anjlok. Jika kita kerap terjebak dengan perspektif negatif seperti ini, sebaiknya pertimbangkan untuk berubah menjadi  lebih bijak dan bisa menyaring hikmah di tiap keadaan.

#5. Tidak Lagi Menyalahkan Masa-Lalu

Banyak hal yang terjadi di luar kendali. Berbagai kejadian kurang baik di masa-lalu mungkin terkesan kejam, menyedihkan atau tidak adil untuk dialami. Namun bagaimanapun, masa-lalu sudah berlalu. Sekuat apapun kepalan tangan, gemeretak gigi atau pukulan kita pada tembok, sesuatu yang sudah terjadi tak akan tiba-tiba berubah. Jika kita masih menyudutkan apa yang sudah terjadi, sebaiknya segera edit bahkan hapus. Kita masih memiliki masa depan dan berkompromi dengan masa kini untuk hari yang lebih baik esok hari.

#6. Tahu Apa Yang Sebenarnya Menjadi Masalah dan Tujuan Utama

Yang menjadi masalah itu; merek mobilnya atau fungsi transportasinya?, yang menjadi masalah itu; resepsi super mewah atau keluarga yang sakinah-mawaddah-warohmah?, yang menjadi masalah itu; lulusan sarjana atau moralnya sebagai manusia? dsb. Kadang kita tahu apa yang sebenarnya menjadi target, tapi sering juga kita tak sungguh- sungguh menggapainya.

#7. Mencintai dan Menaruh Kepercayaan Pada Diri Sendiri

Kita terlalu fokus menebar cinta pada orang lain. Hal itu membuat kita berusaha sekeras mungkin agar tampil mengesankan di depan orang tersayang. Kita menjadi orang lain agar bisa dicintai balik. Kita memaksakan diri dan tak lepas, karena takut kelemahan diri akan ketahuan dan orang yang sedang diincar pun akan menghindar. Jika begitu, mungkin ini saatnya kita belajar menaruh cinta dan rasa percaya juga pada diri sendiri. Dengan tampil dan bersikap selayaknya kita, barulah kita tahu mana cinta yang tulus dan bisa menerima.

#8. Menerima Kelemahan dan Kekurangan Diri

Kita masih tidak percaya diri, masih membandingkan diri dengan orang lain bahkan berharap menggantikan posisi seseorang. Sesuatu yang pasti sangat menyiksa. Jangan menjadi ‘diri sendiri’ yang seperti demikian. Sebab selain kelemahan, kita juga punya kekuatan.

#10. Bisa Belajar Dari Orang Lain dan Move on Pada Waktunya

Kita pasti pernah mendengar kata-kata mutiara kalau “ada orang-orang yang didatangkan padamu sebagai anugerah dan ada juga mereka yang datang sebagai pelajaran”. Tak ada yang datang sebagai ujian atau siksaan. Tak ada kejadian yang terjadi tanpa alasan. Jika belum bisa mengampuni orang yang sudah mencabik hati, sebaiknya direnungi dulu. Betapa orang itu sudah mengajarkan banyak pelajaran.

#11. Jujur dengan Hubungan yang Sedang Dijalani

Jika sudah menikah dan tidak bahagia, selingkuh bukan opsi yang tepat untuk menyelesaikannya. Sebaliknya jika sudah merasa bahagia, maka pengorbanan yang kita berikan jangan dianggap sebagai beban. Pengorbanan demi mengembangkan senyum orang tersayang justeru bisa menjadi nikmat luar-biasa.

#12. Belajar Nyaman di Tengah Ketidaknyamanan

Begitu lulus sekolah, kita seperti dibukakan mata kalau mendapatkan uang itu tidak sesederhana meminta pada orang tua. Kita sudah keluar dari zona nyaman. Hidup jadi tidak menyenangkan. Kita terus belajar lebih dewasa, belajar menelan kepahitan, belajar dikejutkan oleh kejadian tak tak terduga dalam kehidupan, dsb. Kalau kita masih tak nyaman hidup seperti itu, coba mulai berpikir untuk berubah.

#13. Berhenti Menjadi “Boneka” dan Belajar Menjadi Sosok yang Seharusnya

Diri kita masih menjadi ‘orang lain’. Kita masih berjalan, namun di atas sepatu orang. Mestinya kita melangkah dengan alas kaki sendiri. Artinya, kita seringkali tidak menuruti kata hati dan pikiran sendiri. Masih jadi boneka. Sehingga segala sesuatunya masih didikte. Sudah saatnya hengkang. Harus lebih mendengar bisikan nurani serta logika sendiri.

#14. Tidak Lagi Pasrah Menyerah

Ada jurang pembeda antara pasrah dengan sabar. Dengan berpasrah diri, kita seperti menutup kepercayaan pada kekuatan diri sendiri. Entah kekuatan untuk memulai sesuatu demi mencapai target, atau kekuatan untuk mempertahankan hasil dari perjuangan. Jika masih enggan berurusan dengan usaha, doa dan tawakal, ada baiknya untuk mempertimbangkan perubahan.

#15. Terus Tahu Diri di Hadapan-Nya

Tak peduli seluhur apapun status sosial kita, atau sebungkuk apapun orang menghormati kita, posisi sejati kita tetaplah hanya seorang hamba. Kalau masih sombong dan menganggap Tuhan tak terlibat apapun dengan urusan hidup, maka segera pikirkan ulang. Bisa kita rasakan betapa hampanya hidup apabila tidak melibatkan agama atau pencipta dalam kehidupan. Kita butuh tempat bernaung, tempat bersimpuh, tempat mengadu dan tempat… untuk  pulang. Pada siapa lagi kalau bukan pada Tuhan?

Well, setiap orang memiliki definisi sendiri mengenai siapa dirinya yang sebenarnya. Namun ke-15 hal di atas merupakan poin-poin utama yang menjadi aturan agar kita bisa menjadi  ‘diri sendiri’ yang sejati. Beri kepercayaan pada diri sendiri agar lebih baik, benar dan berani.

Mohon maaf kalau terkesan menggurui. Semua ini hanya berbagi. Hehe… *peace! #RD

9 Comments
  1. Arum
    • deeann
  2. nur hidayati
    • deeann
  3. nur hidayati
  4. nur hidayati
    • deeann
    • nur hidayati
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *