6 Alasan Kenapa “Sadar Mood” itu Bisa Mendatangkan Kebaikan

6 Alasan Kenapa “Sadar Mood” itu Bisa Mendatangkan Kebaikan

6 Alasan Kenapa “Sadar Mood” itu Bisa Mendatangkan Kebaikan

Artist/ Photographer: Joel Robinson

Mood.

Pernah enggak sih, dalam sehari itu mood kita campur-aduk kayak roti kombinasi? Hehe… Dalam 24 jam itu bisa senang, lalu berubah jadi bosan, marah, gelisah, alau, dsb. Perasaannya enggak istikomah; labil.

Kita semua pastinya memiliki mood dan emosi tersendiri. Kalau tidak menentu, tentu akan sedikit mengganggu. Jangankan orang lain, diri sendiri saja kadang sebal kenapa bisa tadinya good mood lalu mendadak jadi bad mood.

Apalagi orang lain, atau orang-orang terdekat yang mesti sabar menghadapi sosok-sosok moody tiap hari. Kadang-kadang sulit dimengerti. Tak jarang kalau kesalahpahaman pun kerap terjadi.

Tapi kita bisa menghela napas juga kalau kesadaran akan mood ini sudah mulai terpikirkan. Paling tidak, ada 6 keuntungan bagi kita yang mulai sadar akan mood. Jom!

#1. Jadi Introspeksi Diri

Sadar atau enggak mood kita itu labil bisa datang dari diri sendiri. Bisa juga dari orang lain yang sudah enggak tahan dengan mood swing-nya kita. Misalnya tiba-tiba mereka berseru; “Kamu itu bipolar atau gimana sih?!”, “Bener-bener deh, kamu itu orangnya susah dimengerti!”, “Capek juga ya ngadepin orang kayak kamu!”, dsb. Kalau sedang sadar, biasanya kita akan merenung sendiri. Ada apa dengan diriku? Oh…

~

#2. Paham Kalau Perasaan dan Lingkungan itu Terus Konek

Begitu sadar kalau pagi tadi masih senyum dan begitu sore malah manyun, kita kadang langsung menganalisis sendiri. Oh ternyata keadaan atau lingkungan yang barangkali memengaruhi mood tersebut. Zaman sekarang itu… jangankan bête di sekolah, di rumah atau di tempat kerja, kadang liat-liat feed instagram, beranda fesbuk, timeline twitter dsb bisa mengaduk emosi juga. Iya, ‘kan? Dari kesadaran ini, kita jadi semakin hati-hati untuk menghindari berita tidak penting yang bisa mengubah mood jadi miring.

~

#3. Bisa Membantu Akurasi

Psikiater, dokter atau seorang terapis bisa sangat terbantu apabila kliennya sadar akan mood. Mereka jadi paham akan lamanya ketidakseimbangan mood tersebut, mengetahui secepat apa perubahannya serta bagaimana menderitanya pasien tersebut. Jika mood kita selalu berubah drastis selama mingguan atau bulanan, kemungkinan pakar psikolog itu akan mempertimbangkan gejala bipolar. Kita pun bisa menganalisanya sendiri. Kalau perlu dengan mencatatnya. Jika kelabilan mood berlangsung lama, ada baiknya untuk berhati-hati dan segera konsultasi.

~

#4. Lebih Memahami Pola Hidup

Begitu mood berubah dan kita sadar betul akan hal tersebut, sepatutnya bertanya sendiri, “Kenapa bisa menjadi begini?”. Khusus bagi perempuan yang sedang dalam masa datang bulan, keadaan emosi tersebut mungkin dianggap normal. Namun ketika tengah dalam keadaan biasa, kita bisa menyasar apa yang salah dengan pola hidup yang sudah dijalani. Oh mungkin mood kita langsung anjlok gara-gara mesti bangun sangat pagi untuk pergi kerja padahal tidak terbiasa, atau mungkin kita kurang nyaman sama rekan di sekolah, atau mungkin juga… hari Minggu kita jadi kelabu gara-gara pikiran kita selalu tertuju pada hari Senin, dsb. Semakin kita sadar akan pola hidup sendiri, semakin ada peluang untuk meluruskannya.

~

#5. Kita Jadi Tahu Pemicunya

Pemicu sesuatu biasanya memengaruhi tingkah dan emosi kita. Contohnya ada seseorang yang tiba-tiba mood-nya drop hanya karena orang lain membahas tentang ibu. Itulah pemicunya. Mungkin dia memang memiliki memori kurang menyenangkan dengan ibunya atau apa. Di lain waktu pemicu itu bisa dihindari dulu, atau minimal bisa dicarikan solusinya agar kelak nanti tidak lagi mengusik perasaan kita (lagi).

~

#6. Semakin Paham “Timing-nya”

Sadar akan mood menggiring kita pada analisis waktunya; biasanya kapan mood-ku jadi baik, atau kapan mood-ku menukik. Seorang sahabat pernah curhat kalau dia sangat menyukai hari Minggu pagi, tapi begitu benci hari Minggu sore. Usut punya usut, dia memang tidak suka kalau mesti memulai kembali kerjanya. Faktanya, dia cukup stress di tempat kerja. Intinya kurang menikmati pekerjaan tersebut. Entah jarak tempat kerjanya, proses kerjanya, atau gaji yang diterimanya. Mungkin awalnya dia tidak sadar kalau ‘waktu’ moodnya yang turun itu ternyata ada hubungannya dengan keadaan atau lingkungan kerja. Jika sudah tahu, tentu dia mesti mencari alternatif bagaimana caranya agar memulai kerja itu tidak lagi bikin nyesek. Bagaimana juga triknya agar bisa betah di lingkungan kerja.

~

Bagi yang serius, agenda sadar mood ini bisa kita buatkan diary atau catatannya. Jadinya sebelum sampai ke meja analisis para pakar, atau sebelum diomeli orang, kita sendiri bisa meneliti mood pribadi. Syukur-syukur kalau sampai menemukan solusinya juga. ^_^ #RD

2 Comments
  1. mazaro
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *