Cara Membela Diri Paling Ampuh Ketika Suasana Rusuh

Cara Membela Diri Paling Ampuh Ketika Suasana Rusuh

diam sebagai Cara Membela Diri Paling Ampuh Ketika Suasana Rusuh

Artist: John Amor

Diam.

~

Satu cara yang terdiri empat huruf, satu kata, satu aksi dan sedikit kerumitan di awal ketika menerapkannya. Begitulah pendapat Pak Arif Subiyanto (lagi) via statusnya. Nasihat padatnya mungkin perlu penjelasan, ya. Hehe…

Kita mungkin sudah tak asing lagi dengan ajang jumpa pers untuk mengklarifikasi suatu kasus. Entah korupsi, skandal, penyalahgunaan sesuatu, dsb. Ada yang bicara langsung, ada yang diwakilkan pada juru bicara, via pengacara, dsb. Lengkap dengan ‘pendamping-pendamping’ yang diharapkan mampu menguatkan.

Pak Arif mengilustrasikan isi klarifikasi yang disampaikan seseorang, misalnya,

“Tidak benar rumah tangga bapak Polan ini berantakan. Tidak benar isu bahwa istrinya selingkuh dengan sopir pribadinya. Mereka cuma sayang-sayangan belaka. Tidak benar mereka main kuda-kudaan di hotel, wong mereka cuma mampir di losmen sebentar untuk pipis belaka, blah blah blah.”

Berikut ini analisis dari Pak Arif Subiyanto:

  • Semakin kita menebar fakta, semakin besarlah kecurigaan publik. Keraguan dan berbagai pertanyaan akan tertanam dalam benak publik.
  • Apologia atau pembelaan itu percuma dan sia-sia.
  • Sebagian besar orang sudah kadung percaya.
  • Salah-satu buktinya adalah sikap mati-matian ketika membela diri di depan awak media.

Jadi, apa semua ini hanya berlaku untuk artis atau selebritis?

Tidak.

Pak Arif, daku dan Bro-Sist pun sama. Kita suka galau ketika dituding begini, padahal faktanya begitu. Kita dituduh sesuatu, padahal tidak merasa melakukannya.

Namun yang kita pilih justeru curhat kesana-kemari. Dengan harapan misi kita akan berhasil. Misi apa? Agar nama kita tetap bersih dan persepsi orang-orang, khususnya yang kita pandang penting dan sayang, bisa tetap baik.

Ketika melakukan aksi itu, orang-orang biasanya akan menyimak dengan seksama. Beberapa cirinya yaitu dengan mengangguk-angguk dan meyakinkan kalau mereka masih percaya pada kita. Kita kebal dari dosa. Dari sana, kita merasa mendapat dukungan dan simpati. Tak jadilah bencana ‘kehilangan muka’ yang kita risaukan.

Benarkah demikian?

Well, apa yang mestinya diabaikan justeru tersebar. Karena itu, tak heran kalau kasak-kusuk semakin meluas. Polemik dan prasangka di mana-mana. Si A cerita ke Si B, lalu berlanjut, sampai semua tahu. Dan biasanya akan terjadi modifikasi cerita. Apa yang disampaikan K pada L tak sama ketika K dengar dari J.

Bisa kita lihat dengan ‘tidak diam’. Bukannya lolos dari cela, rasa malu dan ‘muka’ yang selamat, kita justeru jadi bulan-bulanan mulut para penggosip. Sebagian yang tahu akan benar-benar percaya. Namun sebagian lain bisa menafsirkan aksi kita sebagai aksi ‘membela diri’ belaka.

~

Apa Bro-Sist sempat dirundung masalah ini?

Daku pribadi jadi teringat ‘fitnah’ seseorang yang ternyata sudah disebar di belakang. Waktu itu belum membaca status Pak Arief, tapi daku memang melayaninya dengan diam. Katakanlah, percaya atau enggak daku melakukan itu… silakan. Sakarepmu.

Apa Bro-Sist keberatan dengan postingan ini?

Tidak apa-apa. Berbeda itu bukan suatu permasalahan. Jika ada opini lain, daku pun tak akan memaksa untuk ikut nasihat dari Pak Arif ini. Hehe…

Lanjut lagi, ya. Kalau menurut beliau, dengan diam, mungkin kita akan dianggap ndableg alias tebal muka alias tidak tahu malu. Masih menurut beliau, nih. Kalau terlalu sering ‘ngember’ atau curcol menandakan kalau kita belum bisa berdamai dengan diri sendiri, meskipun kita ada di pihak yang tidak bersalah. Bagaimanapun, mengeluh pada orang lain hanya memiliki satu tujuan, yakni untuk mendapat dukungan.

Kita bisa membujuk atau menyewa siapa saja untuk bersilat lidah atau mengotak-atik kata membela kita. Tapi dalam hati kecil, kita mungkin sedang cekikikan. Betapa bagusnya kita dalam permainan memengaruhi persepsi orang. Tapi betapa ciutnya kita dengan penilaian, judgement atau hukumah orang- orang.

Beda lagi kalau yang kita pilih adalah sikap diam. Orang-orang mungkin akan sebal, berspekulasi dan menerka-nerka. Itu hanya di awal. Namun lama-lama, karena kita terus diam, mereka akan jenuh dan bosan juga. Esok, lusa dan hari-hari selanjutnya mereka akan berpaling pada skandal lain. Skandal yang lebih seru, yang lebih ‘tiktak’, heboh dan saling lawan.

Diam itu emas.

Apapun yang terjadi, apapun yang orang tuding, cara menghadapinya… diam saja. Awalnya terasa pahit. Tapi kata Pak Arif, kalau dipikir dengan serius, diam itu lebih menguntungkan dari sikap lainnya. Dengan diam, kita jadi memiliki waktu untuk introspeksi diri.

Sebagai penutup, daku kutip kata-kata super dari Pak Arif,

“Orang yang benar-benar tidak bersalah tidak butuh dukungan massa, sebab dia bisa berdamai dengan diri sendiri sambil menertawakan kebodohan manusia lain di sekitarnya.”

#RD

4 Comments
  1. Arum
    • deeann
  2. Fahmi
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *