Injak, Basuh dan Sembunyikan

Injak, Basuh dan Sembunyikan

injak basuh lalu sembunyikan adat istiadat jawaApa sih yang diinjak, dibasuh dan disembunyikan? Hehe…

Sebelum lebih lanjut, kata kuncinya yaitu… telur. Nah begitu mengingat beberapa sahabat yang mengakhiri masa lajangnya di akhir tahun ini, daku kebetulan mendapat status fesbuk yang menarik dari Pak Arif Subiyanto. Tepat pada 4 Oktober 2015 kemarin. Di dalamnya, beliau membahas tentang salah-satu adat Jawa ketika proses pernikahan seseorang. Seperti yang daku singgung, adat itu berhubungan dengan telur.

Apa Bro-Sist pernah mengalami, mendengar atau menyaksikan langsung, bagaimana seorang pengantin laki-laki menginjak telur. Lalu kemudian pengantin perempuan jongkok dan membasuh kaki yang menginjak telur tersebut. Telurnya bisa mentah atau sudah matang.

Ada yang menyebutnya sebagai ‘ngidak endog‘ atau ‘injak telur‘. Sedang di adat Sunda sendiri disebut sebagai ‘nincak endog‘. Istilah-istilahnya mirip, ya?!

Adat tersebut biasanya dilakukan ketika upacara temu temanten atau upacara panggih. Begitulah Pak Arif mengistilahkan. Dan seperti biasa, suatu adat pastinya memiliki maksud tersendiri di dalamnya. Lalu apa tujuannya seorang isteri membasuh telapak kaki suaminya dari isian telur yang pecah?

Banyak yang bilang sebagai simbol kalau suami sudah diberi ‘posisi tinggi’ dalam keluarga. Ia yang mesti bertanggung-jawab di balik setiap keputusan bersama, lalu sang isteri akan membantu di belakangnya. Namun rupanya ada makna lain terkait dengan makna adat ini.

Ternyata hal ini terkait dengan kerelaan seorang perempuan untuk berperan sebagai isteri. Bisa kita lihat ketika prosesnya berlangsung. Perempuan mesti rela menundukkan dirinya, berjongkok dan membersihkan noda yang ada di kaki suaminya. Saking hormat, patuh dan bertanggung-jawabnya dia akan kebersihan sang suami. Namun kebersihan di sini tidak hanya dilihat dari fisik belaka. Lebih dari itu.

Isteri juga mestinya bisa ‘membasuh’ muka suami. Dari aib, kelemahan dan kesalahannya. Pasti. Setiap orang memiliki kelemahan. Jika pasangan hidup tersebut memiliki kealpaan, maka isteri juga mesti pandai menyamarkan dan menyembunyikannya.

Daku jadi ingat perkataan seorang perempuan. Dia bilang ingin tampil ceria, tak ingin menguruskan tubuh (lagi) dan rutin membeli pakaian baru hanya untuk menunjukkan pada keluarga dan masyarakat bahwa ia sudah disenangkan oleh suami. Ia enggan membayangkan kalau wibawa dan nama suaminya jatuh gara-gara dirinya merasa berat ketika bertugas sebagai isteri atau kelak jadi ibu.

Apa yang dilakukan oleh perempuan yang merupakan sahabatku itu memang patut kita renungi. Tugas isteri sudah begitu berat. Maka tak perlu ditambah lagi dengan dosa menyebar aib atau kelemahan suami. Siapa tahu dengan memendamnya sekuat mungkin, justeru akan meringankan segala kelemahan dan dosa yang sengaja atau tidak sudah diperbuat.

Di sisi lain, suami pun sebisa mungkin tetap menjaga sikap agar tetap bisa jadi suami idaman. Jadi seseorang yang diandalkan isteri, serta figur yang diidolakan keturunannya. #RD

2 Comments
  1. Arum
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *