Ketika Satu Kelas Membuat Emosi Memanas

Ketika Satu Kelas Membuat Emosi Memanas

Tetap Tenang Ketika Satu Kelas Membuat Emosi Memanas

Via: imgbuddy.com

Jumat, 22 Oktober 2015

Kelas hari Jumat termasuk berat. Sebelum menghadapi anak-anak, daku terlebih dahulu menghadapi diri sendiri. Jadwalnya cukup merepotkan. Jam 11.15 WIB sudah mulai mengajar. Maklum, sebelum pergi les, daku mesti bantu-bantu dulu di kios. Jadinya begitu datang ke tekapê sudah dalam posisi lelah secara fisik.

Hal ini yang sempat jadi bahan negosiasi panjang dengan pimpinan LKP. Tapi mau bagaimana lagi. Hari Jumat dari jam 11.15 sampai dengan setengah 3-an sore, daku menjadi ‘milik’ mereka. Phew!

Menghadapi Kelas Berisi Murid Perempuan Semua

Jam pertama, daku bertemu dengan kelas Prosessor 1. Karena jam pelajarannya berbarengan dengan waktu Jumatan, muridnya pun perempuan semua. Ada Tiara, Vera, Ica, Ina, Een, Lulu, Nur, Eli dan Opi.

Di awal-awal pertemuan, daku sudah siap siaga. Siswi SMA, gitu. Daku membayangkan kalau mereka itu akan super cerewet, berkelompok, berisik, komentar ini-itu, sering mendengus, meledek, menyindir, menjatuhkan atau… uh, banyak mengeluh. Daku sudah mengalaminya. Tapi mengejutkan juga, sebab mereka lumayan kalem dari yang kuduga. Oh kelas IPA!

Tapi mereka ramai juga. Well, kehangatan kelas memang akan datang secara natural kalau sudah tidak saling canggung. Pendekatannya pun cukup mudah. Lagi-lagi dengan melempar candaan, mendekati mereka secara personal maupun kelas, menunjukkan diri bahwa kita siap-sedia menjadi teman mereka dan memahami betul bagaimana itu remaja perempuan.

Hal lain yang bikin daku bangga yaitu kehadiran mereka yang tepat waktu dan merata. Nah mudah-mudahan bisa dijaga.

Passion dan Motivasi

Hanya saja… daku kurang menangkap passion dan motivasi mereka. Kecuali sosok Opi, yang terlihat lebih serius dan larut. Dia menunjukkan rasa penasaran , terus coba-coba dan begitu memerhatikan waktu.

Oh, daku suka langsung drop kalau murid yang sedang belajar sudah menggerutu, “Pulangnya cepet dong!” atau “Kapan sih bubarnya, capek banget!”. Dalam hati daku pengin menyahut, “Ya sudah hayuk  pulang saja, daku juga mau, kok!”. Tapi selalu ditahan, apalagi ketika murid-murid yang semangat belajarnya menyala masih eksis di kelas. Mereka kadang bikin daku baikan.

Kekompakan Kelas Dalam Hal Keburukan

Usai kelas Prosessor 1, lanjut ke Prosessor 2. Dan lanjut juga emosiku teraduk. Bisa dikatakan, hari ini jadi rekor terburuk. Ever.

Bisa dibayangkan, daku galau menunggu kedatangan mereka. Sholat dzhuhur sudah, ngobrol sudah, ngotak-ngatik laptop sudah, lihat-lihat ponsel sudah malah sesi istirahatnya pun sudah capek lagi. Tapi tak ada yang datang! Padahal biasanya rajin; Ade Salman, Anjas dan Dina, khususnya. Kalau yang lain-lain kehadirannya masih belang.

Di periode dulu, kejadian seperti ini pernah menimpa. Tapi at least, waktu itu ada kabar beritanya, sehingga daku pun tak perlu mengantisipasi mereka. Lha, ini? Duh… sayang sekali. Padahal waktu satu jam itu bisa dimanfaatkan untuk menulis di blog ini atau di blog klien. :/

Daku pun memutuskan pulang dan syukurlah sekretaris lembaga tidak menghalangi. Begitu sampai ke rumah, Ririn memberitahu kalau ada dua muridku yang datang. Daku langsung memutuskan agar mereka ikut kelas Adnan saja. Yah, datang 15 menit sebelum waktu pulang itu sudah keterlaluan. Tapi masih mending mereka datang dan ikut belajar full dengan pengajar lain.

Karena masih emosi, daku sempat berpikir untuk menyerahkan kelas Prosessor 2 pada tutor yang lain saja. Lebih lagi kelas ini terasa ‘jauh’ chemistry-nya. Daku mengaku tidak terlalu dekat dengan mereka. Lebih lagi kehadirannya pun kurang konsisten. Jadinya hanya bertemu sekali atau dua kali, sedangkan otakku lumayan buruk kalau mesti mengingat seseorang yang pertemuannya jarang.

Daku merasa menjadi pengajar yang begitu buruk. Daku juga berpikiran… oh mungkin mereka kurang cocok belajarnya. Dan, desakan untuk melepas kelas ini pun semakin kuat.

Tapi terjadi debat dalam hati, tentang betapa tidak profesionalnya kalau sikap tersebut diambil hanya gara-gara mereka tidak hadir semuanya. Apalagi ada dua orang yang ternyata hadir, walau terlambat, terlambat banget.

Yang mesti dilakukan, mau tak mau yaitu introspeksi diri dan menganalisis keadaan.  Sepertinya daku mesti lebih intens lagi menjalani komunikasi dengan seisi kelas. Daku juga mesti menyusun strategi agar ketertinggalan satu pertemuan ini bisa diakali. Bagaimanapun, proses les mereka sudah terusik. #RD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *