Mengajar Kelas yang “IPA Banget!”

Mengajar Kelas yang “IPA Banget!”

mengajar kelas IPA banget

Via: cliparts.co

Kamis, 22 Oktober 2015

“Kelas Teteh mah pada kalem,” setengah mengatur napas, Ririn berkomentar.

Daku tersenyum dan melirik ke arah anak-anak. Benar kata Ririn, mereka memang kalem. Dan daku baru sadar, kalau khusus di periode ini hanya menangani kelas IPA saja…

~~~

Daku sudah menyalahi komitmen. :/

Sudah diniatkan dari awal untuk mulai rajin menulis lagi tentang apapun yang terjadi ketika mengajar. Seperti waktu dulu. Tiap pulang dari lembaga kursus, langsung mencatatnya. Karena masih segar, segalanya mengalir begitu saja.

Tapi, kini?

Uh… kalau sedang sadar, daku sendiri suka bertanya-tanya. Semakin hari, mengajar di lembaga kursus semakin tidak menggairahkan. Kontras dengan waktu dulu.

Apa karena sekarang agenda mengajarnya tidak terlalu intens?

Apa karena daku berbagi kelas dengan pengajar lain, sehingga tidak mencurahkan perhatian penuh?

Atau mungkin, karena daku memang terlalu fokus pada kesibukan lain?

Khusus untuk periode September sampai pertengahan Januari ini, misalnya. Baru sekarang daku menuliskannya. Di blog ini. Padahal pertemuan kami sudah… 5 kali, gitu?

Kelas “IPA Banget!”

Jam pertama. Daku bertemu dengan kelas CPU 1. Seingatku ada Sahbudin, Toto, Yoga, Mia, Mira, Anggun dan Ikhwan. Mereka itu… Kesan pertamanya cukup serius. Tipikal kelas “IPA” banget.

Suka-tidak suka, sih. Daku suka ‘kekaleman’ mereka. Tapi kurang suka saja kalau segala sesuatunya berjalan terlalu serius. Tapi memang inilah salah-satu tugasku untuk mencairkan suasana. Kelas IPA juga berhak gokil, tertawa lepas dan memiliki ‘kebebasan’ di tempat belajar.

Khusus kelas ini, rasanya daku cukup lama untuk membuat mereka nyaman. Rasanya mereka itu seperti canggung, seperti melihatku sebagai seorang ‘guru’ seperti yang ada di sekolah. Daku pengin mereka itu ‘lepas’. Dan agenda itu, perlahan namun pasti mulai menunjukkan hasilnya.

Daku ambil sosok Toto sebagai ‘tumbal’. Hey, bukan untuk jadi korban bully, melainkan sering jadi objek atau contoh. Teman-temannya pun sepertinya fun dengan hal itu. Maaf ya, Toto. 🙂

Hal lain yang sangat daku apresiasi dari mereka yaitu… kekompakan. Khusus kehadirannya, mereka memiliki track record yang baik. Hal ini tentu mempermudah. Jadinya materi sambung-menyambung. Semuanya juga ‘nyambung’, dalam artian tidak ada yang melongo karena tidak tahu minggu kemarin belajar apa.

Kelas IPA Yang Agak Lain

Daku enggak tahu kata yang tepat untuk menggambarkan kelas selanjutnya, CPU 2. Ada Milah, Diman, Ai, Rizki, Ajeng dan Nurul. Kelasnya lebih ramai, khususnya kalau mereka berkumpul semua. Sosok siswi bernama Ai pun ikut membantu. Dia terlihat outgoing, supel dan bisa mencairkan kecanggungan.

Oh, sebetulnya kesan-kesan awal di kelas ini hampir serupa dengan CPU 1. Dingin, dan cukup sulit dibikin melting. Tapi lagi-lagi, tugas kita juga sebagai instruktur untuk membuat suasana lebih hangat. Mereka perlu dipancing lebih. Joke yang dilempar pun mesti lebih sering, agar kita serius bahwa kita ini bisa diajak bercanda. 😀

Sayang sekali… absensi di kelas ini kurang merata. Ada yang rajin, dan ada juga yang ketinggalan. Sekali atau dua. Well, hal yang mungkin simpel, tapi tidak bagiku. Daku kurang suka kalau siswa A, B, C dkk sudah tahu konteks materi, sementara X, Y atau Z mesti melongo tidak tahu apa yang sedang dibicarakan.

Memotivasi Kehadiran

Awalnya daku berpikir “mau hadir atau enggak, terserah!”. Sebab, meski mereka tidak hadir sekelas pun… uang transport dan mengajar masih cair. Tapi lama-lama daku merasa perlu memotivasi untuk terus hadir. Demi kebaikan bersama, kok. Salah-satunya sudah disinggung di awal. Lagipula, sayang saja kalau mereka mesti terus bayar tanpa meraup apapun.

Ah, kursus sudah dalam setengah perjalanan. Daku tak bisa berharap semangat mengajar dari orang lain, kecuali dari diriku sendiri. Semoga lebih semangat dan serius lagi. Aamiin. #RD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *