Sehat Itu… Rasanya Bagaimana?

Sehat Itu… Rasanya Bagaimana?

Sehat itu Bagaimana Rasanya

Artist/ Photographer: Brooke Shaden

Hah, kesehatan itu… memang mudah kita abaikan ketika penyakit cukup jarang datang. Kalau tubuh dirasa baik-baik saja, kesehatan jarang dipertimbangkan. Gaya hidup, asupan makanan, jam tidur, dsb dengan angkuhnya tak begitu diatur.

Orang sehat, apanya yang mesti dikhawatirkan?

Nah, pikiran itu mendadak daku sesali di hari Minggu, Malam Senin kemarin (25 Oktober 2015). Beberapa hari ke belakang, tubuh memang sudah memberi tanda ada yang tidak beres. Ya seperti panas tubuh yang agak janggal, rasa pening yang mencurigakan, sangat kelelahan, dsb. Namun… screw that! Daku menjalani segalanya secara normal.

Sampai di malam itu. Puncaknya, mungkin. Ulu hatiku nyeri. Dia seperti sesuatu yang menyimpan dendam. Sensitif sekali. Jangankan untuk memasukkan makanan, daku mau meneguk air pun ragunya luar biasa. Sesuatu dalam area lambungku seperti sedang bergejolak dan apapun yang masuk sudah pasti tertolak.

Sehat itu…

Tapi daku butuh. Paling tidak, daku pengin berupaya untuk meredakan sakit yang juga menjalar di kepala. Sempat kutengok kopi yang masih tersisa. Tapi hatiku menggeleng, mengingat mungkin saja asam lambung sedang membumbung. Alhasil, kulahap satu tablet obat sakit kepala andalan keluarga saja. Tapi rupanya keadaan masih sama.

Ah, agak meringis juga kalau flashback ke belakang. Karena enggak kuat, daku (maaf) muntah dari waktu sekitar maghrib sampai subuh. Terus saja begitu. Daku tak sempat menghitungnya. Tapi yang kuingat… hal itu memang terjadi dari pas maghrib, sesudah isya, jam setengah 10, jam 11, jam 1, jam setengah 3 dan sampai fajar datang.

Mendadak sangat rindu keadaan waktu sehat. Keadaan di mana kita baik-baik saja. Semuanya serba enak dan nyaman. Tanpa rasa sakit, pusing dan mual berlebihan.

Sempat nangis juga. Bukan karena rasa sakitnya saja, melainkan melihat betapa khawatirnya Mimih. Beliau sampai ikut tak tidur, dan malah membuntutiku ketika berlama-lama di kamar mandi. Lalu begitu keluar, beliau seperti bergegas ke kamar dan pura-pura terlelap. Ya, terlihat sekali.

Harapan Kecil; Bisa Mengantuk dan Tidur Tanpa Rasa Sakit

Daku sendiri hanya menatap kosong ke arah kasur yang biasanya sangat dirindukan. Kupaksakan meminum obat maag. Lalu kemudian, mau telentang rasanya enggak enak. Begitu tengkurap, rasa mualnya bertambah. Bahkan ketika dalam posisi aman, miring ke kanan, rasanya tetap tak nyaman. Duh, Gusti… daku pasti sering melupakan nikmat ngantuk dan tidur ini!

Bisa dibayangkan, kita ngantuk tapi sakit. Kita pengin tidur, tapi terhalang sakit. Nah?!

Tak ayal, daku tumpuk beberapa bantal dan posisinya duduk. Ya ampun, pasti Mimih juga ikut enggak nyaman melihatku yang bergerak-gerak resah. Mau begini, mau begitu, rasanya serba salah. Beliau terjaga, tapi daku terus menyuruhnya tidur saja. Sampai mesti akting beberapa menit sampai beliau terpejam lagi.

Rasa mual reda sebentar, lalu kemudian menyergap lagi, membuatku terus bolak-balik. Bahkan kemudian, daku putuskan untuk terduduk di kursi dapur saja. Rasa takut dikesampingkan dulu. Daku enggak mau, lama-lama suara buka-tutup pintu kamar atau langkah kakiku membangunkan keluarga yang tengah terlelap.

Rasanya amat sangat melelahkan. Di kursi dapur itu daku melenggut-lenggut, tapi segera siap-siaga manakala rasa mual melanda. Begitu seterusnya sampai kurasa lambung, mungkin saja, sudah tak punya apa-apa untuk dimuntahkan. Daku ke kamar. Sekilas daku ingat, tapi terlalu lelah untuk merespons apapun yang dilakukan Mimih. Yang jelas, bau minyak angin menyergap dan pijatannya membuatku tenang.

Hujan Pertama dan Hari Blogger Nasional

Kusudahi saja ulasan ceritanya, ya. Hehe…

Yang penting, Alhamdulillahirobbil ‘alamiin… sekarang nikmat rasa, nikmat ngantuk, nikmat energi, nikmat tanpa rasa mual dsb sudah mulai normal. Meski suatu saat melanggar, namun semoga niatan untuk hidup lebih baik terus menyala dan diaplikasikan. Aamiin…

Tadinya daku pengin memosting apa gitu untuk hari blogger nasional ini, 27 Oktober 2015. Hehe… yang ada, ngepost-nya malah di instagram @deeannrose. 😀

Kebetulan sekali, tulisan yang dirangkai cukup singkat ini diiringi juga dengan hujan perdana di tempatku. Hujan “selamat datang”. Awannya tidak terlalu hitam dan tanpa guntur yang menggelegar. Cukup hangat…

Nah, selamat hari hujan pertama di bulan ini (bagi yang merayakannya) :D. Dan tentu, Selamat Hari Blogger Nasional. Mudah-mudahan tetap kuat di tengah segala hal yang melemahkan dan tetap baik di tengah segala hal yang membuat keburukan. Aamiin.

Ah, terkadang… kita memang ‘harus’ sakit dulu untuk belajar bagaimana menghargai kesehatan. Untuk secara tidak langsung membenturkan kepala kita, dan mengingatkan tentang… bagaimana sehat itu rasanya. #RD

4 Comments
  1. Arum
    • deeann
  2. biru
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *