Senyum Manis Karena Para Pemijat Otomatis

Senyum Manis Karena Para Pemijat Otomatis

senyum manis dari para pemijat otomatis

Pict on: becomegorgeous.com

Pernah dipijat, Bro-Sist? Apa justeru sudah memiliki pemijat favorit?

Daku menulis postingan ini dalam keadaan lelah. Lelah sekali. Tapi menulis memang kerap berhasil menjadi ‘tempat istirahat’ yang empuk. Lembut.

Kemarin-kemarin, keluarga dari luar kota datang. Sebenarnya bukan rumah kami yang menjadi objek kunjungan mereka, namun mungkin karena sudah tidak sungkan, akhirnya gubuk yang daku huni jua yang menjadi tempat berteduhnya. Dan jujur, daku kurang senang.

Alasan kurang senang itu bukan karena mereka, melainkan lebih karena daku sendiri. Waktu kedatangannya ada dalam masa-masa aktif. Jadinya di waktu siang, daku tidak bisa total menemani. Begitupun di waktu malam, di mana daku mesti update tulisan, sesuai dengan komitmen yang ditetapkan.

Tapi kebersamaan dengan saudara memang mengubah rutinitas, khususnya yang fleksibel seperti menulis. Biasanya daku tidak menulis jelang tidur, malah terpaksa mesti menyalakan perangkat. Belum lagi dengan berjuang keras untuk konsentrasi.

“Jarang bertemu itu akan memupuk rindu.”

Begitulah kata orang. Dan memang begitulah yang terjadi. Ketika pertemuan dengan saudara, segala dibahas atau dibicarakan. Tentang kehidupan mereka, tentang kehidupan kami sekeluarga. Semuanya tak jadi masalah, selama kami semua tak berubah. Tetap tak canggung, tetap bercanda, tetap terbahak.

Ketika mereka pulang, daku mesti kembali pada rutinitas. Dan pada hari Jumat ini, entah kenapa mengajar di lembaga kursus sangat melelahkan. Begitu pulang, daku seperti kerupuk yang kecemplung air. Melempem.

Ketika di tempat les…

Karena masih terbilang pertemuan-pertemuan awal, trouble kerap terjadi. Misalnya bentrok jadwal. Benar-benar hectic. Daku juga mesti menghadapi murid baru yang gemar mengeluh (lagi). Sosok yang seperti ini, yang kadang mampu menebar radar negative serta memudarkan daya fokus dengan cepat.

Belum lagi kelas sebelah yang instrukturnya sangat telat datang. Maklum, pengajarnya merupakan mahasiswa yang tengah bimbingan skripsi. Daku pun mesti bolak-balik kelas, dengan orang-orang dan materi yang berbeda. Mungkin karena ‘jatuhnya’ menimpaku, jadinya kayak ditimpuk sana-sini.

Pemijat, Mana Pemijat?

Begitu pulang ke rumah, daku benar-benar butuh pemijat. Tapi ajaibnya, ketika sampai di dalam rumah saja, kondisi langsung lebih baikan. Senyum Mimih, rencana menyeduh kopi, alunan musik folkrock serta laptop sudah melonggarkan otot-otot yang sempat menegang.

Tapi kemudian… seorang pelanggan kios mengirim sms dan memberitahu hendak berkunjung untuk membeli sesuatu. Karena tidak enak, daku pun terpaksa mesti bernegosiasi dengan rasa capek untuk melayaninya dan kembali pergi ke pasar, membuka kios yang sudah tertutup. Begitu transaksi usai, daku pulang dan sempat menyelipkan harapan konyol, agar tidak ada kasus serupa. Maksudnya kasus pelanggan baik yang memintaku untuk kembali ke pasar.

Pulang-pulang, ‘pemijat lain’ yang tak terduga, datang. Hal itu datang berupa kabar baik. Seperti yang datang dari notification instagram, di mana akun Cinzia Bolognesi aka @cuordicarciofo tiba-tiba memfollow-ku. Oh…

Sederhana, memang. Tapi daku pengin menyatakan terima kasih, yang sebanyak-banyaknya, pada mereka. Terima kasih, ya! #RD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *