Tugas Menulis Cerpen Dengan Tema “Anak” dan Hasil Review-nya

Tugas Menulis Cerpen Dengan Tema “Anak” dan Hasil Review-nya

cerpen tema anak anak, review cerpen, unsa ambassador, untuk sahabat, grup literasi, grup menulis online

Artist/ Photographer: Caras Ionut

Masih kelanjutan dari acara besar “UNSA Ambassador 2016”, ya. Kemarin-kemarin penilaiannya berdasarkan voting Sahabat UNSA. Dan Alhamdulillah sampai mengerucut menjadi Mas Umar Rafik, Mas Ilham Fauzi dan Mbak Ajeng.

Well, cerpen tema anak di sini bukan berarti target pembacanya merupakan anak-anak. Melainkan isi ceritanya harus bersinggungan dengan anak-anak. Namun sebelum memosting detail tugasnya, terlebih dahulu Uncle Dang Aji Sidik melakukan diskusi di inbox fb bersama para kru UNSA lainnya.

“Untuk 3 besar ini, peserta akan disuguhi 3 pilihan karakter utama. Peserta yang votingnya paling tinggi mendapat keistimewaan untuk memilih karakter tersebut lebih awal. Tapi kira-kira tokohnya mau siapa saja?”

Begitulah kurang-lebih isi diskusi kru UNSA. Daku mengusulkan karakter seorang pedofil. Usulan itu diterima bersama dengan masukan lain yakni seorang presiden dan petinju. Wuih… Pasti karya yang dihasilkan para kandidat UNSA Ambassador akan keren!

Nah kru Ken Hanggara pun memosting detail Tugas Top 3 Unsa Ambassador 2016. Jom!

  1. Menulis cerpen tema bebas yang bersinggungan dengan anak-anak.
  2. Cerpen memakai POV 1.
  3. Tokoh utama cerpen ada tiga pilihan. Sesuai kesepakatan admin, finalis dengan jumlah voting tertinggi akan diinbox lebih dulu oleh Dang Aji Sidik untuk memilih satu dari tiga tokoh utama yang tersedia. Finalis pertama diberi waktu mengerjakan tugas mulai tanggal 16 hingga 20 Oktober 2015.
  4. Voting tertinggi kedua diinbox keesokan harinya untuk memilih satu dari dua tokoh utama tersisa. Waktu mengerjakan mulai tanggal 17 hingga 20 Oktober 2015.
  5. Voting tertinggi ketiga diinbox keesokan harinya lagi untuk mendapat satu-satunya tokoh utama tersisa (yang tidak diambil dua finalis sebelumnya). Waktu pengerjaan paling pendek, yakni mulai tanggal 18 hingga 20 Oktober 2015.
  6. Format naskah dan jumlah halaman bebas. Kirim ke e-mail: unsam016@gmail.com.
  7. DL untuk ketiga finalis sama: 20 Oktober 2015 pukul 23.59.

Siapakah ketiga finalis Top 3 Unsam 2016? Silakan tunggu inbox dari Uncle DAS dan selamat berjuang!

~

Review Cerpen Dengan Tema “Anak”

cerpen tema anak anak tugas unsa ambassador 2016

Artist/ Photographer: Elena Karneeva

Uncle Dang Aji Sidik sendiri yang tampil sebagai juri. Namun beliau sudah sadar kalau keputusan tersebut berpeluang mendatangkan prasangka, bahwa ajang UNSA Ambassador hanya settingan belaka dan pemenangnya sudah ditentukan dari awal. Karena itu, UNSA mengundang juri tamu yang merupakan penulis handal yakni Mas Rifan Nazhif. Nilai mereka akan digabung dan menentukan siapa yang tersaring ke 2 besar.

Berikut ini daku kutip hasil review Uncle Dang AJi Sidik terhadap 3 cerpen para finalis:

Review Finalis 02, judul cerpen “Hadiah untuk Lusi”

Pemilihan judul kurang memikat. Paragraf pembuka juga biasa dan tidak langsung memberi punch line untuk membuat penasaran. Konflik tokoh menjadi seorang pedofil kurang digarap dan lebih diberi fokus dengan baik (meskipun ada disebutkan), saya merasa ini adalah salah satu kelemahan cerpen ini. Psikologis Lusi kurang mendapat perhatian sebagai korban pedofil. Twist cerita berada di ending cukup bagus, namun cerpen ini terlalu cepat berakhir.

Berdasarkan review singkat di atas, saya memberi nilai untuk cerpen “Hadiah untuk Lusi” adalah: 7,25 (tujuh koma dua lima)

~

Review Finalis 06, judul cerpen “Menunggu Liana”

Cerpen dengan tokoh utama dan tema Petinju ini sangat berpeluang mendapat judul cerpen yang lebih baik ketimbang yang dipilih oleh penulis. Judul dan paragraf pertama adalah kunci nasib sebuah cerita. Syukurlah, paragraf pembuka cerita ini lumayan baik, memberi paragraf yang puitis. Cerpen dengan POV1 seorang petinju ini, sebenarnya cukup janggal disampaikan dengan bahasa yang terbilang mendayu-dayu, namun dapat dipahami ketika seseorang kehilangan, jiwanya menjadi sensitif. Pendalaman latar belakang tokoh utama bagus. Bentuk cerpen yang dibangun dengan bagian cerita 1 sampai dengan 3 ini bisa memberi gambaran bahwa penulis memang bukan ‘orang baru’ dalam menulis cerpen. Potongan cerita bagian ke 3 merangkum bagian 1 dan 2, jadi kaidah penulisannya sudah tepat. Peran dari tokoh anak-anak, yaitu anak dari tokoh utama juga diberi porsi yang pas, ia diceritakan dengan tepat dan diakhiri juga sebagai twist pertama sebelum ending dan twist kedua benar-benar di akhir cerita.

Berdasarkan review singkat di atas, saya memberi nilai untuk cerpen “Menunggu Liana” adalah: 8,15 (delapan koma limabelas)

~

Review Finalis 09, judul cerpen “Telikung”

Satu kata untuk pemilihan judul adalah “bernas”. Mengapa saya katakan bernas, karena judul ini merangkum alur cerita yang ditulis. Paragraf pembuka memang tidak menghentak, namun dituliskan secara mengalir sehingga saya merasa asyik untuk terus membacanya. Di bagian tengah cerita konflik mulai dimunculkan, seorang Presiden yang sedang pusing dengan data-data dan grafik-grafik kekerasan seksual pada anak-anak. Setelah itu mulailah penulis mengalihkan konflik dengan mengubah alur cerita mundur beberapa tahun silam, tepatnya masa kecil sang Presiden. Lokalitas Ponorogo, mengenai Geblak dan Warok juga diangkat di bagian ini, dan ternyata ini menjadi twist yang tidak bisa ditebak (seolah disiapkan dengan rapi) sampai akhirnya meledak di akhir cerita.

Berdasarkan review singkat di atas, saya memberi nilai untuk cerpen “Telikung” adalah: 9,00 (sembilan koma nol nol)

~

Berikut ini nilai dari juri undangan, Rifan Nazhif:

  • Finalis 02, judul cerpen “Hadiah untuk Lusi” Nilai 6,50
  • Finalis 06, judul cerpen “Menunggu Liana” Nilai 7,50
  • Finalis 09, judul cerpen “Telikung” Nilai 8,50

Dengan demikian nilai kumulatif dari 2 juri yakni sebagai berikut:

  • Finalis 02, Total Nilai 13,75 (Tereliminasi)
  • Finalis 06, Total Nilai 15,65
  • Finalis 09, Total Nilai 17,50

Hasilnya ada 2 nama yang resmi berduel memperebutkan gelar UNSA Ambassador 2016. Mereka adalah Mas Ilham Fauzi dan Mbak Ajeng. Selamat, ya! Mudah-mudahan gelora literasinya juga menular ke kita-kita. ^_^ #RD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *