1 Tanda Utama Kalau Kematian Sudah Dekat Dengan Kita

1 Tanda Utama Kalau Kematian Sudah Dekat Dengan Kita

1 Tanda Utama Kalau Kematian Sudah Dekat Dengan Kita

Via: tetw.org

1 tanda utama kalau kematian sudah dekat dengan kita yaitu…

hidup.

~

Pagi menjelang siang. Sambil menanti pembeli, daku dan Mimih begitu asyik mengobrol di kios. Daku juga kebetulan tengah berhadapan dengan laptop, sehingga mesti membelah konsentrasi. Kalau topiknya kurang disukai, tentu daku meresponsnya dengan singkat. Daku tak terlalu ingat kami tengah mengobrolkan apa, apalagi ketika dua orang pembeli datang.

“Mau beli kain mori (kafan)?”

“Berapa meter, Pak?” Daku yang bertanya.

“Untuk anak 3 tahunan, berapa, ya?” Dia bertanya balik.

“Errr…” Mimih memandangiku sambil memikirkan, memperkirakan.

“4 meteran,” asumsiku, yang juga disetujui Mimih, “Kainnya yang lebar, bukan yang 90 cm,” lanjutku, yang hanya dibalas anggukan oleh pembelinya.

“Mau lengkap?” Mimih memastikan dan lagi pembeli itu mengangguk.

Tanpa komando, daku segera menyiapkan kain. Sementara itu, Mimih sibuk menyediakan tikar dan perangkat lain seperti kapur barus, kapas dan minyak wangi. Demi memecah kebisuan, Mimih menanyakan sesuatu yang umum terujar,

“Memang anaknya sakit, Pak? Sakit apa?”

Daku sadar betul ada ekspresi kesulitan dari bapak-bapak itu. Well, dia sebenarnya tidak terlalu tua. Daku perkirakan usianya itu menjelang kepala empat. Sementara yang mengantarnya terlihat lebih muda, mungkin 30 tahunan kurang.

“Dia…” kesan berat begitu terlihat dari getar bibirnya, “tenggelam, Bu.”

Daku tengah melipat kain ketika tiba-tiba lutut dan tangan berubah lemas. Meski bukan siapa-siapa dari anak tersebut, namun ‘jalan kematiannya’ yang tragis membuatku jadi… berimajinasi. Andai daku tahu, kenal atau memiliki hubungan dengan anak itu…

Mimih tak kalah syok. Sama sepertiku, beliau juga sempat menghentikan apa yang tengah dilakukannya. Namun Mimih terus mengorek informasi.

“Memangnya sedang apa?”

“Main,” tukasnya, “Tapi kami tidak lepas pengawasan…”

“Ya Allah…”

“Sempat dibawa ke puskes,” Si bapak-bapak itu berhenti sejenak, “Saya yakin dia masih ada, masih bernapas. Tapi ketika sampai di puskes… dia sudah meninggal.”

“Bapak ini…?”

“Saya bukan ayahnya,” Sang pembeli tahu maksud Mimih, “Dia sama orang tuanya sedang bertamu. Kami kebetulan mau memperingati 1 tahunnya kakek.”

“Dan, sekarang acaranya harus ditambah dengan dengan meninggalnya cicit si Kakek,” kataku, tapi dalam hati.

“Ya ampun… sedang lucu-lucunya,” mata Mimih menyiratkan kalau beliau juga membayangkan, “Tapi anak-anak dijamin masuk syurga. Dia sudah bahagia ya, Pak?!” beliau melapangkan rasa sesak, “Tapi memang, pastinya orang tua akan sangat sulit menerima. Apalagi ibunya,” ucapannya tercekat.

“Iya sudah nasibnya.”

Obrolan terus berlanjut. Tapi lebih mengarah pada… penerimaan nasib. Betapa kita tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi dengan akurat. Iya, ini hidup kita, tapi hey… kita sendiri tak memiliki kendali penuh. Semua sudah ada yang mengatur.

“Enggak kebayang…” Mimih bicara lagi setelah si pembeli berwajah muram itu pergi, “Barusan anak main-main, eh malah sudah mengambang tak bernyawa.”

Daku meringis mendengarnya.

“Iya padahal tujuannya bertamu, terus kumpul-kumpul sama keluarga,” kataku, “Pulang-pulang malah tinggal nama…”

Kecelakaan nahas ini benar-benar mengaduk rasa.

Ah, anak kecil. 3 tahun. Sehat wal afiat. Kita menganggapnya sebagai sosok mungil yang masih memiliki masa depan panjang. Tapi tak disangka, jatahnya untuk hidup terhenti. Semuanya selesai tanpa ada peringatan. Dia pergi. Begitu saja.

Ternyata tak hanya orang sakit, orang lanjut usia atau mereka yang mungkin sudah sekarat yang dekat dengan kematian. Sederhana saja. Setiap yang hidup itu bersanding dengan ajal. Kita tak pernah tahu… kapan, di mana dan sedang apa malaikat maut itu memanggil pulang. #RD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *