4C untuk Menghadapi Siswa yang Mengeluhkan Pelajaran

4C untuk Menghadapi Siswa yang Mengeluhkan Pelajaran

4C untuk Menghadapi Siswa yang Mengeluhkan Pelajaran

Via: thepositiveclassroom.org

Jumat, 13 November 2015

 

Mengeluh.

Bagaimana perasaan kita mendengar orang yang mengeluh? Daku pernah membahas ini sebelumnya, dan pernah juga menyatakan kalau… lebih baik menghadapi orang yang banyak bertanya daripada banyak mengeluh.

Alasannya?

Orang yang mengeluh itu cenderung menebarkan energi negatif. Yang tadinya berenergi jadi lembek, yang tadinya percaya diri jadi ragu-ragu dan yang tadinya good mood berubah jadi bad mood.

~

Hari ini daku mengajar di rombongan belajar Prosessor 1. Mereka hadir semua; Tiara, Ica, Ina, Eli, Nur, Vera, Lulu, Een dan Opi. Seperti hari Kamis kemarin, daku pun hendak menyampaikan materi pembuatan kalender pendidikan lewat Microsoft Excel. Kemarin kelas CPU 1 dan 2 lancar tanpa halangan. Daku pun optimis, rombel berikutnya akan melewati tugas ini dengan mudah.

Tapi… Namanya juga hidup -_-

Ekspektasi dan realitas kadang-kadang saling memunggungi. Baru saja daku tebar sheet tugasnya, kelas yang semuanya perempuan merespons dengan… errr kurang antusias. Decak keluhan dan hembusan napas berat mulai terdengar. Tapi tidak semuanya. Ada juga yang tak banyak komentar dan menerima dengan pasrah.

Daku juga memerhatikan, siswi yang biasanya menerima tantangan dengan legowo juga ikut berkeluh-kesah. Dari awal saja daku sudah diuji. Humm… Bisa saja daku ganti soalnya, tapi nantinya terkesan tidak adil, sebab apa yang mereka terima akan berbeda dengan CPU 1 dan 2. Dan dalam suasana seperti inilah, daku langsung ingat formula 4C:

Calm

Tenang… Diam-diam daku melafalkan kata ini secara berulang-ulang. Bagaikan mantera. Tarik napas dari hidung dan keluarkan dari mulut. Metode ini membantu mengendorkan otot. Hehe…

Cool

Dingin. Serupa dengan sikap kalem. Namun kita tak bicara masalah napas saja. Intonasi suara mesti dijaga, gerakan dikendalikan dan bersikap serileks mungkin. Jangan sampai api kecil yang meletup-letup di dalam dada keluar dan menyembur.

Confident

Percaya diri. Daku meyakinkan diri kalau hari ini, momen ini, bisa dilalui. Daku juga berusaha memberi kepercayaan pada anak-anak, bahwa mereka pun bisa melewati tantangan sulit seperti kelas lain. Kalau dakunya saja tidak pede, bagaimana dengan mereka?

Consistent

Konsisten. Sikap yang sudah diputuskan, daku pertahankan. Rasa kasihan dan godaan untuk mengganti soal dengan yang lebih mudah, daku kesampingkan. Apa artinya belajar kalau soal yang mereka pecahkan hanya berlevel ‘mudah’ atau ‘gampang’ saja? lagipula tujuanku bukan untuk membuat mereka menderita. Tapi ya… niat baik seseorang kadang langsung tertutupi oleh sangkaan prematur kita.

Kelas kedua ada Prosessor 2

Dari Jumat kemarin, daku dan kelas ini seperti sudah membangun bonding yang lebih kuat. Dina dan Tia tampil sebagai siswi dengan motivasi dan rasa ingin tahu yang tinggi. Mereka berkolaborasi dengan Anjas yang pintar dan nyocol, Ade Salman yang cukup pendiam dan ‘mengalir’ serta Genta yang sangat daku apresiasi kedatangan dan usahanya. Ada Sintia juga, yang kemarin-kemarin sempat absen. Dia mendapat perhatian lebih, sebab daku agak lupa bagaimana perkembangannya.

Meski sudah sore, namun kelas ini terbilang begitu bersemangat. Tak ada yang mengeluh dan membuat down kelas. Mungkin karena mereka mengerjakannya sambil berinteraksi hangat, jadinya lebih nyaman. Anjas yang sudah tahu teknik mengerjakan dengan cepat pun tak tinggal diam. Dia membantu rekan-rekannya.

Oh. Khusus untuk desain kalender ini, daku tak pernah mendikte. Biar mereka berkreasi sendiri. Dan ekspresi mereka ketika serius, ketika mengotak-atik warna atau merapikan pekerjaannya menjadi salah-satu pemandangan favoritku.

Daku harap chemistry baik di kelas ini terus bertahan bahkan berkembang. #RD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *