5 Cara Jitu Untuk Men-Charge “Baterai Hidupmu”

5 Cara Jitu Untuk Men-Charge “Baterai Hidupmu”

Capek

Via: joshuareich.org [Edit]

Kita tinggal melakukan charging sama ponsel ketika dayanya sudah mulai galau. Namun bagaimana jika kita sendiri yang energinya goyah? Sedang lingkungan sekitarlah yang membuat kita lelah?

Phew!

Jika manajemen waktu masih saja kusut, akhir-akhir ini daku berpikiran soal hal lain. Masih terkait manajemen. Tepatnya manajemen energi. Oh… kita semua memiliki waktu dan energi, tapi hanya segelintir yang mampu mengatur atau mengolahnya. Dengan baik. Dengan benar.

Waktu dan energi adalah sumber berharga yang tak pernah mencapai titik cukup. Lucu juga ketika kita daku mengaku ‘tidak punya waktu’, tapi masih sempat browsing hal-hal kurang bermanfaat. Begitupun ketika mengeluh capek dan hampir pingsan dengan kegiatan seharian, tapi masih berenergi untuk membongkar aib orang dan menjadi stalker-nya. @_@

Jika direnungkan, dari waktu 24 jam yang ada… berapa porsi untuk kegiatan yang bermakna? Berapa porsi untuk kegiatan yang tidak produktif?

Apa pekerjaan kita memang full 24 jam, sehingga yang keluar dari mulut itu hanya keluhan dan bersungut-sungut? Apa kita benar-benar tak ada waktu untuk sekadar selonjoran melihat tayangan tv ringan? Mendengar music kesukaan? Buka-buka media sosial? Masih sempat, ‘kan? Tapi, kok? Haih…

Nah Tom Rath, seorang ilmuwan senior sekaligus penulis, memberi nasihat berupa 5 strategi agar kita bisa men-charge baterai hidup agar tidak rusak. Jom!

#1. Tidur 

Tidur nyenyak dan berkualitas

Illustrator: Felicity Marshall

Poin pertama menjadi pengingat akan pentingnya tidur, rehat dan penyegaran tubuh. Om Tom Rath menyampaikan hasil studinya Anders Ericsson (Amerika Serikat), bahwa penampil sukses di bidang apapun adalah mereka yang memiliki rata-rata waktu tidur selama 8 jam dan 36 menit. Waktu, yang menurutku pribadi, begitu panjang. Jadi sadar ternyata waktu terpejam tiap harinya hanya sekitar 6 jam-an. Juga, tanpa tidur siang. Humm…

Daku pernah melihat tayangan di tv One. Maaf lupa lagi programnya apa. Di sana disebutkan kalau tidur siang itu sangat diperlukan. Tapi singkat saja. 15-20 menitan. Menariknya… sekalipun kita tengah dalam masa-masa coffee break juga, disarankan untuk memejamkan mata dan membiarkan kafein bekerja. Begitu terjaga, dijamin segar, katanya.

Selain durasi tidur, tentu mesti diperhatikan juga kualitas tidurnya. Salah-satu usaha yang bisa diterapkan yaitu dengan menonaktifkan semua gadget tiap kali tidur. Termasuk televisi atau radio. Biarkan tubuh merasa damai. Untuk mempercepat langkah dan pencapaian target, kita justeru bisa melakukannya dengan melambatkan segala hiruk-pikuk hidup. Agar tak lekas lelah, agar tak lekas menyerah.

~

#2. Bersosialisasi atau Interaksi Dengan Orang Lain

bersosialisasi atau interaksi dengan orang lain

Via: affinitycnr.com

Ketika energi cukup down, kita bisa kembali mendapatkannya begitu menjalin komunikasi atau interaksi dengan orang lain. Memang, ada beberapa orang yang justeru membuat energi kita terkuras. Namun banyak juga yang bisa menjadi sumber energi tersendiri.

Inilah yang dilakukan oleh John Deere. Dia seorang pengusaha traktor. Ketika melihat para pegawainya seperti tidak bergairah, John kemudian membawa mereka ke ladang. Dia membiarkan para karyawannya itu untuk menghabiskan waktu dengan para petani, yang tentu saja menjadi pelanggan traktornya. Selain sensasinya berbeda, para pekerja pun langsung bergairah ketika mesti kembali bekerja. Mereka jadi tahu betapa bermaknanya produk yang sudah dibuat dan dipasarkan itu bagi orang lain. Para petani, khususnya.

Hal ini terjadi juga padaku. Misalnya kalau ada orang yang mengapresiasi tulisanku. Jadi tahu deh, ternyata ada seseorang yang meluangkan untuk membaca tulisan ala kadarnya ini.

~

#3. Olah Raga

olahraga

Via: clipartpanda.com

Om Tom Rath menginformasikan hasil sebuah studi. Katanya olahraga itu bisa menjadi mood booster sekitar 12 jam lamanya pasca aktivitas tersebut. Padahal olahraga itu capek, ya. Bikin kita berkeringat dan ngos-ngosan. Meski demikian, kita juga jadi lebih berenergi. Tubuh bugar dan otak rasanya jadi segar.

Daku meresapi sensasi itu tiapkali permainan badminton usai. Olahraga kesukaan itu selalu jadi rutinitas dari kecil. Namun semakin hari, semakin tidak ada kesempatan. Sampai kemudian sewaktu KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Kubangjero-Brebes, olahraga tersebut kembali jadi kebiasaan.

Padahal daku dan kawan-kawan bermain di siang hari, sampai menjelang waktu ashar. Bisa dibayangkan. Waktu siang di tanah perbatasan Jawa Barat dan Tengah itu bagaimana? Super panas. Jangankan bergerak, berdiam diri saja bisa bikin baju cepat lembab. Tapi amboi… nikmat sekali sensasinya!

~

#4. Gunakan Kekuatan Diri feat Minat feat Kebutuhan

passion dan motivasi

Via: chriswejr.com

Kata Om Tom Rath,

“Kita menciptakan makna ketika kekuatan dan minat bertemu dengan kebutuhan dunia”.

 Kita memang jadi semakin berenergi ketika apa yang dilakukan adalah sesuatu yang dikuasai sekaligus dicintai. Alangkah lebih bagus lagi kalau sesuatu tersebut memang bermakna atau dibutuhkan.

Bagi sebagian orang yang enggak doyan mendaki, mereka mungkin akan terheran-heran melihat para pendaki bisa begitu semangat untuk menaklukan puncak gunung. Mereka tidak tahu kalau para pendaki itu suka, mampu dan tengah mencari inspirasi selama mendaki. Karena itulah mereka memiliki kekuatan lebih.

~

#5. Luangkan Waktu untuk Break

Luangkan waktu untuk rehat istirahat atau break

By: Nirzara Verulkar

Kalau sudah bekerja dan pengin cepat selesai, terkadang kita mengabaikan masa-masa rehat. Tancap terus, tanpa ampun. Selain sudah merenggut hak tubuh, terlalu memporsir diri juga berpeluang mendatangkan keburukan bagi produktivitas kita nantinya. Iya sekarang mampu bekerja dan menciptakan ini-itu, tapi kalau suatu saat daya tahan tubuh rapuh, kita bisa ambruk dan tak lagi mampu berbuat apa-apa secara maksimal.

Strategi dari Om Tom Rath ini tentu bisa ditambah dengan hal-hal lain. Umpamanya dengan lebih memperdalam makna agama. Bukan hanya sebagai rutinitas monoton belaka, melainkan menguak hikmah dari segala larangan dan perintah-Nya.

Om Tom Rath sudah mengkolaborasikan makna hidup, hubungan positif dengan sesama, menghargai diri dan membuat keputusan cerdas lewat semua strateginya ini. Tapi akan lebih mantap lagi kalau pondasi spiritual atau nilai keagaamannya juga dipertebal.

Dengan demikian, diharapkan energi kita bisa kembali bugar dan bisa dimanfaatkan. #RD

2 Comments
  1. prajuritkecil99
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *