7 Racun yang Merusak Hubungan Guru dan Murid

7 Racun yang Merusak Hubungan Guru dan Murid

7 Racun yang Merusak Hubungan Guru dan Murid

Via: elephantjournal.com

Guru dan murid sejatinya merupakan hubungan yang indah. Keduanya saling memberi sekaligus menerima. Guru mentransferkan ilmu. Namun ia juga, sadar atau tidak, sudah memangku banyak hal dari para muridnya.

Tapi, apa memang hubungan guru dan murid itu mesti spesial? Bukannya guru hanya bertugas untuk mengajar?

Ya. Tapi guru atau pendidik ada baiknya untuk tidak sekadar menyampaikan materi. Mereka juga mesti tahu bagaimana membangun hubungan yang nyaman dan hangat dengan murid-murid. Daku percaya kalau hubungan baik itu bisa terjalin, maka proses belajar dan mengajar pun akan terbantu kelancarannya.

Bisa kita bandingkan ketika murid belajar bersama guru yang tidak dekat dengan murid. Mereka akan canggung untuk bertanya, cepat merasa bosan dan rasa stress pun meningkat. Beda lagi jika hubungan guru dan murid itu dekat. Suasana bisa nyaman dan pastinya sangat mendukung proses pembelajaran.

Memang ada beberapa racun yang bisa merusak jalinan antara guru dan murid. Namun tiap kesulitan tentu tercipta sepaket dengan penawarnya. Hmm… daku juga mesti lebih mendalami hal-hal yang akan kita bahas ini.

Jom!

#1. Menjadi Guru yang Kurang Populer

Eh, mau menjadi pendidik atau selebritis?

Kurang popular di sini, maksudnya… guru hanya dianggap sebagai seseorang yang dipanggil “Pak” atau “Bu”, mengajar dengan tidak ‘interaktif’ dan memberi nilai ‘dengan mentah’. Sikapnya terkesan ‘yang penting masuk kelas dan ngajar, anak ngerti atau enggak ya ora urus!’

Kehadiran siswa di kelas pun hanya sekadar untuk mengisi absen. Tak ada motivasi untuk menguasai materi, tak ada inspirasi dari sang guru, bahkan siswa bisa dengan mudah melupakannya. Ketika sekolah dulu, daku pernah berhadapan dengan guru semacam ini. Padahal daku menyukai pelajarannya, tapi semenjak gurunya tidak berkesan, rasa malas lah yang dominan.

Obatnya tentu dengan menjadi populer. Tidak harus bikin sensasi. Cukup dengan membangun suasana belajar-mengajar yang tidak kaku, perlakukan anak dengan penuh hormat atau penuh pengertian dan minimalnya, ingat nama-nama mereka. Semalas atau sebandel apapun mereka, rasa ingin tahu atau rasa ingin berubah menjadi lebih baik pasti ada. Karenanya, kita bisa mengajar sambil komunikasi di kelas. Beri kepercayaan pada mereka. Posisikan diri sebagai sahabat sekaligus pemandu, yang memapah mereka sambil menyalakan api semangat. Bukan hanya sebagai penyampai materi, pemberi tes dan penentu nilai belaka.

~

#2. Tidak Tahu – Menahu Tentang Siswa

Betul. Kita tak akan pernah tahu seluk-beluk satu siswa, apalagi kalau semuanya. Namun ada baiknya untuk mulai ‘kepo’ tentang mereka secara individual. Tak perlu tentang akun instagram, zodiak atau kapan terakhir kali gosok gigi.

Ada beberapa info penting yang bisa kita cari. Khususnya tentang minat, bakat, cita-cita, dsb. Kita bisa menyimpulkannya dengan cara berinteraksi atau mengobrol tentang banyak hal. Tentang acara tv, kesenian, musik, olahraga, profesi, kegiatan ekstrakulikuler, dsb. Nanti juga akan ada kesimpulannya.

Kita akan paham siapa siswa yang pintar secara akademis, siapa yang berbakat di bidang seni, siapa yang menonjol di bidang olahraga, siapa yang aktif berorganisasi, siapa yang ahli berbisnis, siapa yang punya alergi, dsb. Kita bisa melemparkan pujian atau apresiasi pada apapun yang mereka kuasai, selagi hal itu baik. Kita juga bisa mengekspresikan perhatian pada mereka.

Ketika menjadi murid, daku menganggap guru-guru tertentu sebagai sosok yang special. Mereka begitu perhatian. Mereka tidak sekadar orang-orang dewasa yang hanya menerangkan materi, memberi tugas dan menerima gaji dari pekerjaannya.

~

#3.  Tidak Memerdulikan Sisi Lain Dari Siswa

Umumnya, siswa adalah seseorang yang belajar. Mereka membawa peralatan menulis, mendengarkan penjelasan guru, mengerjakan tugas, mengikuti ujian dan menerima nilai. Namun di luar semua itu, siswa juga sama-sama manusia. Mereka memiliki mood, cerita, masalah pribadi, dll.

Kejelian kita sebagai guru selalu teruji ketika ada siswa ‘yang lain dari biasanya’. Tak semuanya selalu dalam keadaan bersemangat. Ada saat-saat di mana mereka down, dan tak punya bahu untuk menyandar. Sebab mungkin, beban yang mereka tanggung berhubungan dengan orang-orang terdekatnya; keluarga atau sahabat, misalnya.

Di saat-saat seperti itu, guru bisa hadir sebagai seseorang yang diandalkan. Kita sendiri selalu merasa senang dan nyaman ketika dalam keadaan susah atau sedih, tiba-tiba ada yang memerhatikan. Enggak apa-apa enggak ngasih uang, hehe… Minimal ada yang peka akan problem yang dihadapi oleh kita. Entah itu dengan mneyentuh atau sekadar bertanya “kamu enggak apa-apa, ‘kan? Kok pucat banget? Mau berbagi cerita, enggak?”. Biarkan mereka tahu kalau kita bisa menjadi teman atau tempat untuk bersandar.

~

#4. Tidak “Melindungi” Harkat, Martabat dan Rasa Percaya Diri Siswa

Sebagaimana guru, siswa pun tak ada yang sempurna. Mereka bisa melakukan kekeliruan atau hal-hal konyol. Ketika mereka melakukannya, kalau bisa jangan sampai kita perparah dengan aksi mempermalukan dirinya. Misalnya dengan mengkritik habis-habisan di depan semua temannya, apalagi mencemooh hasil kerjanya.

Bagaimanapun, mereka juga memiliki ‘muka’, harga diri dan bisa minder. Masih mending kalau mereka menerima, ada yang bisa nekad dengan cara ‘menyerang’ balik, walkout dari kelas atau enggan datang untuk belajar lagi. Hal itu mereka upayakan demi melindungi derajat yang sudah kita koyak.

Tapi bukan berarti kita diam saja jika mereka melakukan kesalahan. Kita bisa menyiasatinya dengan kritikan lembut, candaan atau mengontaknya secara pribadi. Kita juga bisa menerapkan sistem diskusi.

~

#5. Pilih Kasih dan Tidak Adil

Memang, kadang kita memiliki ‘murid favorit’ sendiri. Bisa saja dia merupakan sosok murid paling pintar, paling penurut, paling bisa diandalkan, paling lucu, dsb. Namun hal itu tak lantas membuat perlakuan kita jadi spesial. Jika demikian, kita bisa kehilangan kepercayaan dari murid lain. Mereka akan segan berinteraksi, sebab menganggap kalau kita hanya peduli pada siswa-siswa tertentu saja.

Perlakukan murid dengan adil. Mereka tak marah jika kita memuji siswa yang memang berprestasi. Mereka juga tak akan keberatan ketika dikoreksi, kalau memang melakukan kesalahan.

~

#6. Kurang Mengapresiasi Hal-Hal Simpel

Guru akan otomatis mengucapkan selamat, memuji atau memberi hadiah pada siswanya yang menang lomba atau meraih nilai tinggi. Hal ini sudah tidak aneh. Tapi bagaimana dengan memuji ‘prestasi kecil’ yang mereka lakukan sehari-hari?

Akan menjadi poin plus tersendiri jika kita ‘peka’ akan kebaikan yang sudah mereka usahakan. Dengan demikian, rasa respect dan kekaguman mereka pun akan tumbuh. Dan pada dasarnya, orang begitu senang jika diakui, diapresiasi atau ‘dianggap’. Ekspresikan saja, sehingga siswa akan termotivasi untuk bersikap lebih baik lagi. Misalnya dengan mengatakan,

“Terima kasih banyak ya sudah datang tepat pada waktunya. Kalian sangat menghargai waktu.”

“Wah, keren sekali! Kalian malah sudah membaca materi yang baru akan saya sampaikan hari ini.”

“Seneng deh belajar dengan suasana hening dan nyaman seperti ini. Terima kasih, ya?!”

“Kalian hebat. Diskusi berlangsung dengan aktif dan seru. Saya sangat kagum, kalian sudah menguasai pelajaran dengan baik. Cara berdebatnya pun keren!”

“Senang sekali jadi guru di kelas ini. Kalian sangat mendukung proses KBM.”

Dsb.

~

#7. Tidak Mau Mendengar Pendapat, Saran atau Kritik Siswa

Sudah naluri manusia… kalau menyadari ada sesuatu yang janggal, kita pasti pengin banget menyampaikannya. Begitu juga dengan para siswa. Bisa saja mereka pengin menyampaikan sesuatu tentang kebijakan sekolah/pengajian/lembaga kursus dsb, tentang tugas, tentang kelas, tentang cara mengajar kita, tentang sistem penilaian, dsb.

Kalau kita terlalu otoriter dan menutup apapun pendapat siswa, mereka bisa kapok. Komunikasi bisa rusak. Tapi kalau kita memberi respons atau feedback, hubungan yang terjalin akan semakin baik. Mereka juga akan senang sebab idea tahu argumennya dihargai. Hal tersebut secara tidak langsung menjadi pelajaran tersendiri. Di masa depan, mereka juga akan tampil sebagai figur yang menghargai orang lain.

Sebelum berdiri di depan para siswa, menjelaskan materi dan memberi nasihat, terlebih dahulu guru tersebut duduk di salah-satu bangku murid. Kita bisa merasakan perbedaan bagaimana suasana belajar antara guru yang memiliki hubungan hangat dengan siswanya dan yang tidak.

Kalau racun-racun di atas muncul dan mulai menggerogoti hubungan guru dan murid, alangkah baiknya untuk segera bertindak, mencari penawar untuk ‘membasmi’ racun—racun tersebut. #RD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *