Kekuatan Tak Biasa Dibalik Gesture atau Tingkah Sederhana

Kekuatan Tak Biasa Dibalik Gesture atau Tingkah Sederhana

Kekuatan Tak Biasa Dibalik Gesture atau Tingkah Sederhana

Via: patheos.com

Kamis, 19 November 2015

Percayakah, bahwa gesture kecil itu justeru sering membawa dampak besar?

Daku yakin banyak orang yang merasakannya. Betapa sesungging senyum saja bisa bikin hati kita hangat, atau penuh tanda tanya, atau mungkin grogi, dsb. Betapa salah ucap saja bisa bikin mood turun, kepala berasap, dada sesak, dsb. Banyak juga orang yang menciptakan perumpamaan, tentang hal sepele yang efeknya gede. Misalnya dengan korek api. Betapa satu batang saja bisa menjadi dalang dibalik kebakaran besar.

Well… Seperti jadwal biasanya, hari Kamis menjadi waktuku untuk mengajar di lembaga kursus. Daku bertemu dengan rombongan belajar CPU 1 (lagi). Semuanya hadir. Lengkap. Mereka juga datang tepat waktu. Seperti biasanya.

Proses belajar berlangsung dengan lancar. Yoga, Toto, Mia, Mira, Anggun, Sahbudin dan Ikhwan. Daku tak akan terlalu banyak komentar. Hanya saja, daku merasa perlu mengapresiasi gesture kecil mereka, yang ternyata sudah terbentuk dengan baik dari awal.

Sederhana, sih. Tiap kali hendak pulang, mereka akan menyalami sambil menggumamkan kata “terima kasih”. Daku kadang tidak menyadarinya, sebab biasanya… kalau mereka bubar, anak-anak CPU 2 sudah datang dan perhatianku otomatis teralihkan.

“Terima kasih ya, Bu?!”

Ucapan salah-satu siswi, Mira, kini membuatku tercenung. Daku tersenyum. Nyaman saja rasanya dengan apresiasi singkat itu. Lebih lagi ia melakukannya sambil menyalami tangan dan berpamitan. Rasa gerahku seperti dikipasi seseorang.

Beda lagi kasusnya dengan kelas CPU 2. Yang datang ada Diman, Milah, Winda, Rizki, Ajeng, Ai dan Nurul. Ketika kami tengah belajar, anak didik Ririn yang kebetulan pernah belajar denganku menyahut,

“Duluan, Teh!”

“Eh, waktunya sudah habis, ya?” Daku bertanya ke seisi ruangan.

“Nanti atuh, Teh, nanti…”

Daku terus menengok jam. Pengin sekali bisa pulang tepat waktu, sebab bahan tulisan sudah menanti untuk digarap. Tapi daku juga memerhatikan mereka, yang nampaknya masih begitu larut belajar. Sayangnya, memang sudah waktunya pulang.

“Kalau sudah, boleh di-close, ya,” kataku, “Boleh keluar…”

“Wah ngusir!” ada yang menyeru, tentu dengan nada bercanda.

“Padahal masih betah,” Milah menggeliat.

“Cepet banget,” Ajeng dan Nurul kebetulan datang terlambat, jadinya mungkin mereka merasa waktu belajarnya sangat singkat.

Alisku naik, tersengat dengan ucapanku sendiri. Bukan maksudku untuk ‘mengusir’. Oke, lebih tepatnya sebagai ‘warning’ karena durasi belajarnya memang sudah selesai. Daku memang tidak memilih ucapan seperti “waktunya sudah habis, anak-anak!”. Namun apa yang dilontarkan rupanya disalah-artikan. Hehe…

~

Nah, kadang hal-hal kecil lah yang membuat seseorang atau sesuatu jadi berbeda. Hal kecil juga menjadi refleksi dari apresiasi, penyampaian maksud, menunjukkan respect, dsb. Hal-hal kecil itu… seringkali lebih menancap dari kata-kata yang panjang.

Kalau dicontohkan tentu terlalu banyak. Sebut saja ketika seorang murid menempelkan punggung tangan kita di pipi atau bibirnya, atau seorang sahabat yang meremas pundak kita, atau juga seseorang yang membungkuk sambil mengucapkan ‘terima kasih’, dsb. Demikian juga ketika kita menutup mata sejenak, lalu kembali membukanya sambil mengucap ‘syukur’. Allah Swt masih mengaruniai cahaya dan kesempatan kedua.

Semuanya nampak sederhana. Tapi terasa ada yang berbeda, ‘kan? #RD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *