Meminta Maaf Pada Murid?

Meminta Maaf Pada Murid?

Meminta Maaf Pada Murid

Via: shiveespotpourri.com

Kamis, 12 November 2015

Meminta maaf pada seseorang tak akan serta merta membuat kulit kita lecet, bukan? Hehe… tapi hari ini daku tak terpikirkan untuk ‘berbuat salah’, sampai mengajukan permohonan maaf segala. Tapi, ya… segala sesuatu kadang berjalan tanpa kendali.

Phew!

Daku sudah membahas sebelumnya, kalau waktu terasa begitu cepat. Rasanya baru Kamis kemarin ketemu anak-anak, sekarang sudah mau mengajar lagi. Tapi hari ini moodnya terkesan tawar. Tidak malas, tidak juga antusias. Hanya saja… ngantuk.

Sudah risiko daku juga menambah durasi menulis, mengingat ada ‘klien’ yang sempat komplen terkait tulisan. 😀 Daku akui, memang terlalu fokus pada sesi menulis. Jatah waktu untuk mengedit pun hanya sedikit. Dan karena terusik oleh ketidakpuasan orang yang memercayaiku, daku pun mesti berusaha lebih keras lagi. Hal yang bikin daku merasa sangat bersalah tidak lain adalah kepercayaan besar yang sudah dia diberikan.

Dingin Di Luar, Hangat Di Dalam

Well, sekarang ini daku menghadapi kelas CPU 1. Tadinya daku tidak mau menyalahkan hujan, tapi memang rintiknya yang banyak dan cukup kuatlah yang sempat menghalau keberangkatanku. Tapi daku pun sampai. Sudah daku perkenalkan sebelumnya. Murid di rombongan belajar ini ada Yoga, Toto, Mia, Mira, Anggun, Sahbudin dan Ikhwan. Hari ini Anggun saja yang tidak hadir. Rasanya baru sekarang kelas ini ‘ompong’ satu.

Mengajar kelas ini, daku jadi ingat kelas privat dulu angkatannya D, A dan H. Suasananya cukup hening, serius tapi nyaman – tidak canggung. Namun sesekali ada saja pemicu tawanya.

Auranya enak. Kami belajar-mengajar, sementara di luar sedang hujan. Pastinya dingin di luar, tapi daku merasa hangat di dalam. Lebih hangat lagi karena anak-anak mengerjakan tugas pembuatan kalender pendidikan dengan semangat. Paling tidak, mereka tidak mengeluh secara berlebihan. Hal itu saja sudah berefek baik pada mood-ku.

Begitu hendak pergantian jam kedua, kelas CPU 2…

Anak-anaknya sudah datang. Hanya ada tiga orang; Milah, Diman dan Ai. Tapi karena Sahbudin dan Ikhwan tadinya terlambat, daku beri tambahan waktu. Lebih lagi laptop atau netbooknya tidak terpakai. Toto dan Mia pun menemani. Di luar masih hujan, rupanya.

Kelas pun jadi lebih ramai. Dan kalau dibandingkan dengan CPU 1, CPU 2 ini memang lebih ‘rusuh’. Joke demi joke saling sahut. Mengalir begitu saja. Tawa pun berderai, memecah suara hujan dan mungkin kemumetan tugas yang sedang diberikan. Daku juga memberi keleluasaan untuk menyetel musik, kalau sesi menerangkan memang sudah habis.

Love in the Air…

Entah dari mana mulanya, daku mencium adanya love birds yang sangat potensial menciptakan guyonan. Ya daku kerjain saja mereka. Lucu juga responsnya; menunduk malu, mesem-mesem tersipu, pipi memerah atau sekadar menampakkan wajah annoyed.

Hati-hati Bullying!

Daku masih sadar akan kemungkinan adanya bullying di tengah canda-tawa kami. Namun daku mengingatkan diri sendiri, kalau bullying terjadi dengan tujuan kita ingin ‘menyiksa’ salah-satu pihak. Tentu bukan dengan fisik saja, melainkan mental atau perasaannya juga.

Anak-anak termasuk daku sempat mengolok-olok Toto, Sahbudin, Diman dan Ai. Milah sempat bilang kalau Diman itu aneh, sebab dia begitu rajin les, padahal biasanya malas. Entah hal ini jadi kabar baik atau buruk, namun kelas sempat membahasnya. Daku sendiri sangat mengapresiasi inisiatif Diman untuk terus datang. Minimal dia sudah menampakkan keinginan atau kemauan.

“Kamu mah selingkuh aja,” kataku, “Laptop atau netbooknya beda-beda terus,” lanjutku, sebab Diman memang ‘menanamkan’ file tugasnya di mana-mana.

“Enggak apa-apa, Bu, yang penting Diman datang dan les!” jawabnya mantap, menerbitkan senyumku.

Kelas jam kedua ini lumayan berisik. Mungkin karena candaan demi candaan selalu muncul, jadinya selalu ada saja bahan ketawaannya. Daku sendiri tentu tidak mempermasalahkan hal itu. Enjoy, malah. Sampai kemudian,

“Ya sudahlah! Ai mah mau diem aja,” gerutu salah seorang siswi yang kebetulan jadi ‘tumbal’ kelas hari ini, “Ngomong gini salah, ngomong gitu salah!”

Daku lihat sih dia memang sebal dan marah, tapi masih dalam ukuran wajar. Anak-anak pun masih saja melanjutkan tingkahnya. ‘Perang’ candaan selalu terjadi, memantikkan tawa di kelas mungil kami. Sampai kemudian daku kebawa-bawa ‘memojokkan’ siswi yang bête ini.

Kelas sih semakin terhibur, tapi dia terlihat semakin terusik. Sampai ada momen di mana kelas hening. Suasana itu, bagiku, sangat menyeramkan. Hatiku jadi seperti dikucek-kucek. Apa daku sudah kelewatan? Apa daku sudah membully-nya? Daku wajib minta maaf sama anak ini. Kalau pun dia marah, daku bisa memakluminya.

“Maafin ya tadi,” Kuucapkan juga kata-kata tersebut ketika kami hendak pulang.

Respons pertama cukup melegakan karena dia tersenyum. Jawabannya selanjutnya semakin membuat dadaku plong,

“Enggak apa-apa, sudah biasa… hahaha.”

Meski bukan guru beneran, heck, daku lebih memposisikan diri sebagai kakak bagi mereka, namun daku sering diingatkan kalau sosok pengajar bisa menjadi model bagi para muridnya. Salah-satunya, mengantisipasi sebisa mungkin agar jangan ada aksi bullying.

Kesadaran kalau pengajar mesti jadi suri tauladan sempat membuatku merasa terbebani, tapi daku menanggapinya dengan serius. Kita sendiri kerap melihat guru, dosen atau pengajar apapun ketika melakukan tolok ukur sesuatu.

Nah, mungkin sudah naluri seorang pengajar juga untuk menjadi teladan baik bagi para muridnya. Senang saja rasanya kalau kita dan mereka sama-sama belajar, membangun pribadi yang lebih bermakna. Semoga. #RD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *