Mengerjakan Pekerjaan A Di Tengah Pekerjaan B

Mengerjakan Pekerjaan A Di Tengah Pekerjaan B

By: Krista Rae via IG @deeannrose

Kamis, 26 November 2015

Pekerjaan, sefleksibel  apapun itu, tetap saja mesti mempertimbangkan waktu. Sebagai content writer untuk blog lain, daku mesti legowo menerima tema tulisan apapun. Tak ada jam kerja tertentu. Mau sebelum waktu fajar, siang bolong, senja yang indah atau malam yang mengantuk pun terserah.

Namun kali ini ‘proyek’ yang dilempar cukup membuat dahiku mengerut. Daku perlu cukup banyak waktu, khususnya untuk mencari referensi dan mengedit tulisan. Banyak hal yang membuatku tidak percaya diri. Dan, daku kurang nyaman kalau mesti melepas tulisan, tapi tetap memikirkannya. “Gimana kalau jelek?”, “Gimana kalau banyak typo?”, “Gimana kalau informasinya ada yang keliru?”, dan “gimana kalau” lainnya.

Namun di saat yang bersamaan, daku mesti melakoni kewajiban rutin untuk mengajar di lembaga kursus. Seperti Kamis ini, jadwal bagiku untuk berhadapan dengan rombongan belajar CPU 1 dan CPU 2. CPU 1 dulu, kelas yang selalu datang sebelum daku datang.

Daku sangat termotivasi untuk datang lebih awal. Dengan demikian proses belajar akan langsung dilaksanakan, dan waktu pulang pun bisa tepat. Tanpa ngaret. Daku pengin segera pulang lagi dan mengerjakan pekerjaan inti. Namun… rencana dan harapan itu pudar.

“Kok tumben kelas Teteh belum pada datang?!” salah-satu siswa kelas Ririn berkomentar.

Mengetahui belum ada seorang pun di ruang belajar, daku memutuskan untuk ikut bersama Ririn dan bergabung dengan anak-anaknya. Kami sudah sering bertemu, jadinya sudah familiar. Lagipula beberapa diantaranya sudah daku kenal.

Konsentrasiku sudah tanggung pecah. Daku pun memilih mengeluarkan ponsel dan membuka file tulisan yang selama ini tengah daku kerjakan. Ririn mengajar, anak-anak belajar dan inilah daku, yang mengerjakan pekerjaan lain di luar kursusan.

~

“Kok kalian terlambat, sih? Ckck…” Ucapan itu langsung keluar ketika Yoga, Toto, Sahbudin dan Ikhwan masuk.

Ada nada kecewa. Tapi dalam hati, daku berusaha maklum. Mereka itu tak selamanya datang tepat waktu. Pasti ada telatnya. Dan kejadian itu terbukti hari ini.

Tapi daku tak menunggu penjelasan mereka, toh tak ada yang mengutarakan alasan yang acceptable. Dan demi waktu, daku segera memulai pelajaran. Mia dan Anggun tak masuk. Sisanya tengah dalam perjalanan, tapi daku memutuskan untuk memulai saja. Di tengah proses belajar, datang Mira dan Ai. Yang terakhir itu menjadi siswi CPU 2, tapi karena ada beberapa yang tidak hadir, ia pun ikut kelas CPU 1. Enggak masalah…

~

Proses belajar berlangsung lancar. Penuh canda-tawa seperti biasa. Bahkan candaan itu sampai menjangkau kelas Bahasa Inggris, yang dibimbing oleh Bu Jeni. Anak-anak CPU 1 saling timpal deheman atau omongan dengan Yusuf dan Anjas.

Sementara itu, daku masih kewalahan membagi konsentrasi. Ya, daku mengerjakan pekerjaan lain di tengah kewajibanku mengajar. Enggak professional, bukan? Huft!

Tapi sebelum itu, daku memastikan dulu anak-anak paham akan tugas yang diberikan. Kalau sekiranya mereka tak perlu bimbingan, daku akan melanjutkan tulisan yang… oh, masih sangat panjang dan cukup menguras daya fokus.

Sebenarnya daku bukan tipikal orang yang nyaman menulis di tengah keramaian. Mudah ter-distract soalnya. Tapi karena dikejar waktu, daku memutuskan untuk menulis ‘secara mentah’. Banyak typo dan bahkan spasinya pun rapat. Namun daku mengabaikannya sejenak. Baru nanti di rumah, di tengah keheningan, daku akan ‘melucuti’ dan mereview kembali hasilnya.

“Bu… bla blab bla…

Suara seorang murid laki-laki menarikku dari dunia yang tengah daku tulis, menuju ke kenyataan bahwa daku tengah mengajar. Daku pun menuju asal suara, ke arah Toto dan Yoga. Namun anak-anak merespons dengan tersenyum, hampir tertawa, lebih tepatnya menertawakan. Hey, what’s wrong?

“Yang manggil siapa, datengnya ke siapa?!” kalau tidak salah, Ai yang menggumamkan hal itu.

“Emang siapa?”

“Saya, Bu,” Sahbudin, murid yang padahal duduk berdampingan denganku yang menjawab.

Daku sempat melongo. Kucerna betapa konsentrasiku sudah remuk, sampai tak bisa membedakan suara Si A dan B. Oh, crap!

“Sorry… sorry…”

“Kasian Si Ibu,” Toto mencandaiku.

Iya, poor me. Daku ‘sok-sok-an’ mengerjakan dua pekerjaan sekaligus. Jadinya mesti mengalami kejadian memalukan ini. Daku bahkan mesti sabar dan tabah jadi bulan-bulanan Ai dan Mira.

“Wah! Mereka jadi berani euy sama Si Ibu?!” kata Toto lagi.

Daku tersenyum mendengar komentar Toto. Daku enggan berpikir negative. Menurutku, mereka ‘jadi berani’ berarti mereka sudah merasa nyaman. Nah, bagaimana bisa kita mengolok atau bercanda terhadap orang yang masih disegani atau ditakuti?!

Oh. Anak-anak CPU 2 tidak menampakkan batang hidungnya. Hanya ada Diman, yang segera daku ajak bergabung dengan CPU 1. Berarti dia, Ai dan Ikhwan saja yang hadir mewakili kelasnya.

Daku amat sangat berterima kasih, Diman tetap datang sekalipun teman-teman dekatnya memilih absen. Dia memiliki keinginan tersendiri. Tak terpengaruh.

Lagipula, sayang saja. Diman mudah mengerti apa yang disampaikan, padahal dia tidak mengikuti dari awal-awal. Tapi karena dia melakukan make up dengan terus datang, maka perlahan pemahamannya juga semakin baik.

Daku sudah menutup pekerjaan yang diketik di ponsel. Mungkin orang yang bisa fokus untuk dua hal berlainan itu sangat jarang. Termasuk daku, yang kini berusaha fokus saja. Meski demikian, daku tetap mesti kecewa karena agenda pulangnya ngaret lagi. Fiyuh! #RD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *