Menggali Kekuatan Besar Dibalik Tindakan Kecil Ketika Mengajar

Menggali Kekuatan Besar Dibalik Tindakan Kecil Ketika Mengajar

Menggali Kekuatan Besar Dibalik Tindakan Kecil Ketika Mengajar

Via: clipartbest.com

Kamis, 05 November 2015

Kekuatan besar ternyata tak mesti terlahir dari makanan. Hehe…

Seperti hari ini, daku berangkat ke tempat les tanpa mengisi perut dulu. Sebagian orang mungkin sudah biasa melewatkannya ketika beraktivitas. Tapi bagi daku, hal ini cukup berisiko. Daku pastikan selalu makan-minum dulu sebelum pergi. Namun risikonya, daku bisa datang terlambat. Apalagi Pak Iwan sudah sms, mengabari kalau anak-anak CPU 1 sudah datang. Ah, mereka memang suka tepat waktu.

“Takut lupa jadwal,” begitu kata Pak Iwan.

Duh, jadi malu juga, daku memang suka lupa. Haha… Hari berjalan cukup cepat, ya. Atau memang kitanya saja yang begitu betah di dunia, sehingga detik demi detik berlalu tanpa terasa. Rasanya baru kemarin mengajar, eh sekarang sudah ketemu jadwal.

Jarak rumahku dan tempat les tidak jauh. Jadinya belum juga setengah jam, daku sudah nyampé di tekapé. Tapi begitu masuk ruang belajar, dahiku sempat mengerut ketika ada 2 laptop yang menyala tanpa pemiliknya. Hmm…

“Yoga sama Toto ke mana?”

“Sibuk, Teh,” timpal Ikhwan, “Mereka jadi panitia LDKS.”

“Oh…” Daku lanjut menulis judul latihan yang hendak dibahas; fungsi if kombinasi.

Sebenarnya hak anak juga untuk tidak hadir. Daku tidak mengalami kerugian. Tapi daku sangat menyayangkan. Bukan karena absensi mereka saja yang kosong. Daku tak peduli tanda ceklis. Yang daku khawatirkan hanya ketertinggalan mereka. Itu saja. Apalagi kelas CPU 1 selalu hadir semua. Dari awal.

Tapi baru saja menggerutu dalam hati, tiba-tiba Toto dan Yoga datang. Mereka memutuskan untuk ikutan. Daku jadi lega. Paling tidak, pertemuan kami tidak terpotong.

Salah-satu alasan kenapa mengajar di kelas ini selalu semangat karena, motivasi mereka itu bisa daku rasakan. Mereka terpompa untuk belajar, jadi daku pun semakin berenergi untuk mengajar. Eh, maksudnya untuk sekadar berbagi. Daku juga antusias ketika memberi soal sekaligus hadiah berupa pulsa 5 ribu pada dia yang berhasil.

Seperti yang kuduga, mereka begitu kompetitif. Mira, Mia, Anggun, Sahbudin, Ikhwan, Toto dan Yoga larut dalam upaya memecahkan soal. Ada yang berusaha bertanya-tanya dan ada juga yang memilih mandiri dulu. Bibirku sempat menyeringai ketika alarm yang daku pasang sebentar lagi akan berbunyi. Sampai kemudian,

“Yeay, udah, Teh!” Yoga berseru kegirangan.

Dua soal yang daku berikan sudah dia jawab. Awalnya daku kurang setuju proses pengerjaan soal keduanya. Tapi daku terima saja dan menganggap dialah ‘pemenangnya’. Tak disangka, dia langsung membenarkan caranya, sesuai dengan kemauanku.

~

Nah loh, sudah sampai ke jam kedua. Rombongan belajar CPU 2. Malah mereka sudah berkumpul ketika daku masih asyik dengan CPU 1. Dan, rasa laparku terlupakan~

Proses belajar-mengajar di CPU 2 juga hampir senada. Toh materi yang disampaikan memang selalu sama. Jadinya daku seperti melakukan pengulangan, walau ada beberapa yang disesuaikan.

Kelas ini lebih ramai. Dan mereka selalu memanfaatkan tawaran yang daku berikan; mendengarkan musik ketika mengajar. Beda dengan CPU 1, yang kadang memilih suasana hening. Jadinya sekarang kami belajar ditemani alunan “All of Me” versi Chanyeol. Ai yang memutarkan mp3-nya. Sebenarnya bosan dengan lagu itu, tapi kalau mereka maunya itu, ya sudah~

Sering tersembul canda juga di sini. Ada saja sumbernya. Tapi dengan begitu, kelas jadi terkesan begitu rileks.

Daku juga lempar penawaran yang sama pada kelas ini. Dan seperti minggu kemarin, mereka juga begitu antusias. Daku pribadi sangat mengapresiasi usaha keras siswa laki-lakinya, Diman dan Rizki. Mereka belajar cukup cepat. Daku memang sudah merasa lega ketika keduanya memutuskan untuk terus hadir dan perhatian di kelas.

“Yang pertama mah udah nih, Teh,” kata Rizki, sedikit mencengangkan kawan-kawannya.

“Hebat kamu, Ki!” Milah berseru.

Begitu melihat hasilnya, daku tersenyum dan mendaratkan tepukan dukungan di pundak Rizki,

“Sudah benar, tinggal kedua. Ayo!”

Dia terlihat semakin semangat. Demikian juga dengan teman-temannya yang terus berusaha memecahkan soal. Nurul, Winda, Ajeng, Diman, Ai dan Milah. Tapi nampaknya Diman yang terus memburu Rizki. Entah kenapa dengan para siswinya. Mereka seperti ke-distract sesuatu. Haha…

Ah… waktu bergulir dengan lancar. Tak ada satu pun dari mereka yang bisa memecahkan soal kedua seperti CPU 1. Tak ada-apa. Bukan masalah besar, sebab daku lihat mereka sudah berusaha keras dulu. Kecuali kalau mereka santai-santai, tapi sudah melambaikan bendera putih. Hehe…

Tapi daku senang dengan perasaan ini. Dalam artian puas pasca menyudahi pembelajaran. Jadinya tidak ada ‘oleh-oleh’ berupa sesuatu yang pengin disampaikan atau ada yang mengganjal, gitu. Yang ada, daku menemui tanda-tanda baik terkait kemajuan proses belajar mereka.

~

Gini-gini juga, daku selalu terpikirkan akan tindakan yang dianggap kecil dari guru atau pengajar, tapi justeru berefek besar bagi siswanya. Daku rasakan betul ketika menjadi siswa. Hehe… Tindakan kecil itulah yang perlahan namun pasti mendekatkan hubungan guru dan siswa. Misalnya dengan:

  • Tersenyum,
  • Mendengarkan keluh-kesah mereka,
  • Merespons panggilan,
  • Menyentuh,
  • Memberi pujian,
  • Memilih kata-kata yang sekiranya tidak membuat mereka tersinggung atau,
  • Tertawa pada apapun joke mereka. Segaring apapun.
  • Dsb.

Tak perlu kita sepelekan hal-hal yang dianggap sepele itu. Sebab pada dasarnya, semua tindakan itu membawa pengaruh besar bagi kita. Daku jadi merasa ‘nyambung’. Kami seperti saling menerima.

Mudah-mudahan bisa dipertahankan. Syukur-syukur kalau semakin dikembangkan. Aamiin… #RD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *