Para Siswa Tak Akan Pernah Sama

Para Siswa Tak Akan Pernah Sama

Para Siswa Tak Akan Pernah Sama

Via: thecornerstoneforteachers.com

Jumat, 20 November 2015

Memang ada siswa yang sama? Yang kembar pun ada bedanya, ‘kan?

Kadang, ya, kalau sedang menghadapi siswa yang sesuai dengan keinginan, kita pasti berharap “andai semua siswa seperti ini”. Tapi sayangnya, harapan itu tak akan pernah tercapai. Simpel. Mereka memang berbeda satu sama lain.

~

Jumat.

Saatnya daku mengajar rombongan belajar “Prosessor 1”. Kalau biasanya mereka hadir semua, kini Eli yang tidak datang. Dari keterangan yang daku dapat, dia tengah sakit. Ah, mudah-mudahan Allah Swt segera memberi kesembuhan padamu, ya. Aamiin..

Seperti di kelas-kelas lain, daku juga penasaran dengan antusiasme mereka belajar Microsoft Powerpoint. Yang daku sorot adalah tingkat kreativitas mereka. Maksudnya… apa mereka tipikal orang yang suka mendesain, mengatur warna, memperindah sesuatu, dsb.

Daku memiliki ketertarikan tersendiri pada seni visual atau potografi, tapi tidak menguasainya. Jadinya daku hanya menjadi penikmat. Daku juga sekaligus menjadi pengagum siapa saja, yang sekiranya karya seninya sesuai selera. Mereka beruntung sudah dianugerahi bakat seperti itu.

Nah kalau melihat kelas Prosessor 1, tentu hasilnya tak sama. Ada yang mendesain bahan presentasi dengan detail, ada yang spekulatif atau mencoba teknik ini-itu dan ada yang ala kadarnya, dengan alasan pengin sederhana saja. Hummm… mereka tak sama, bukan? Mungkin ada yang kurang tertarik dengan desain-mendesain?!

Kalau di kelas CPU 1 ada Mira, di sini Nur yang rajin mengucapkan ‘terima kasih’ begitu kami bubar. Daku berharap ucapan sederhana itu berangkat dari hati, bukan sekadar kata-kata belaka. Bagiku, pelafalannya sangatlah bermakna.

~

CPU 2.

Daku yang sudah mulai merasa dekat dengan mereka, sudah begitu nyaman menyampaikan materi. Sangat kuapresiasi kedatangan Genta yang tepat waktu. Dari minggu kemarin, dia sudah menyatakan akan lebih rajin. Begitupun dengan Dina dan Tia, yang sempat bela-belain tidak pulang dan memilih tidur di mushola demi datang pada waktunya.

Untuk kelas ini, Genta nampaknya sangat antusias. Daku tersenyum melihat hasilnya, yang tak lain merupakan desain atas idenya sendiri. Tia nampak masih kebingungan, tapi rasa ingin tahunya terus membuat dia mencoba-coba. Beda lagi dengan Dina, yang sepertinya kurang tertarik. Dia masih mencoba, namun tidak sekeras yang lainnya.

“Dina sukanya ceramah, Bu,” kata Genta.

“Dia itu sudah kayak ustadzah.”

“Enggak!” sanggah Dina.

“Iya!”

“Daku hanya memotivasi, kok!”

Tia tak banyak komentar, hanya ikut tertawa ketika pertikaian itu mulai lucu dan aneh. Dan, adu mulut yang terjadi membawa pada kesimpulan lain. Ternyata Dina juga suka menulis. Tapi dengan polosnya dia bilang,

“Tapi enggak bisa yang panjang-panjang, terus hanya berisi apa yang dirasakan atau sekadar motivasi gitu, Bu.”

Fakta baru yang daku temukan tentu menarik. Ternyata muridku kurang tertarik pada dunia gambar atau desain, tapi lebih condong ke menulis. Daku berkata padanya agar terus menulis, mengembangkan bakat, ikut lomba dan belajar lagi. Kelak, semoga dia menjadi penulis yang sukses dan menginspirasi. Apapun jenis tulisannya, yang penting membawa manfaat bagi dirinya dan orang lain.

Ketika proses latihan sudah berlangsung cukup lama, datang Sintia. Daku agak kurang nyaman dengan keterlambatan, namun ia masih memiliki waktu untuk mengambil haknya. Daku juga mesti mengapresiasi usahanya untuk hadir. Tapi kedatangannya di last minute tak mengubah durasi waktu. Ibaratnya… meski siswa datang pada pukul 16.00 WIB, maka ia hanya akan belajar selama 30 menit kalau memang kelasnya bubar pada 16.30 WIB.

Dan daku mesti senantiasa mengingatkan; semua siswa tidak sama.

Siswa yang telat kadang seperti keberatan kalau waktu belajarnya hanya sebentar (bagi dirinya), tapi daku mesti belajar tegas. Daku tidak memarahi atau menyuruhnya datang tepat waktu di kemudian hari. Cukup dengan menerapkan tindakan ini, sudah cukup mewakili nasihat panjang tentang waktu.

Well, perbedaan akan kita temukan di manapun. Jangan pernah berharap bisa mendapatkan atau menghadapi siswa yang ‘senada’. Tak semuanya bandel, tak semuanya membangkang, tak semuanya malas, tak semuanya begitu. #RD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *