Tak Semua Siswa Wajib Menyukai dan Menguasai Pelajaran Kita, ‘Kan?

Tak Semua Siswa Wajib Menyukai dan Menguasai Pelajaran Kita, ‘Kan?

 

Artist/ Photographer: Adrian Limani

Kamis, 29 Oktober 2015

Siswa sudah datang dan menunggu kita adalah pemandangan yang bikin bangga, tapi sekaligus membuat malu kalau memang terlambat. Hal tersebut terjadi padaku minggu lalu, di mana mereka sudah siap, sementara daku telat datang. Padahal waktu itu sedang santai.

Daku sedikit menyesal karena sudah terlalu percaya diri, kalau perjalanan akan dijamin lancar. Tak tahunya ada hal yang tak terduga dan membuat kedatanganku tak tepat waktu. Jelas-jelas, daku sudah mengecewakan kelas… CPU 1.

Karenanya, hari ini daku bersiap-siap sejak awal. Benar saja, kelas CPU 1 yang terdiri dari Ikhwan, Anggun, Sahbudin, Mira, Mia, Toto dan Yoga sudah ada. Dengan raut cukup serius, mereka nampak khusyuk pada layar laptop atau netbook masing-masing. Bikin daku tersenyum… mereka itu tak hanya selalu datang sebelum daku, tapi juga sangat kompak.

Kelas yang IPA ini awalnya cukup beku. Namun seiring berjalannya waktu, mereka bisa mencair juga. Daku lebih suka versi kedua tentunya.

“Kemarin Pak Rudi mengajarkan apa?” tanyaku, padahal sudah tahu.

Soal materi, daku dan Rudi selalu saling kontak soalnya. Daku hanya memancing sekaligus pengin mengerucutkan konsentrasi mereka. Agar fokus pada pelajaran yang hendak disampaikan.

“Kemarin fungsi IF sederhana, Teh,” mereka menjawab.

“Katanya rumus yang lebih susah akan diajarkan sama Teteh,” suara Ikhwan bikin daku menaikkan alis.

Kelas Dengan Antusiasme Tinggi Pada Pelajaran

antusiasme belajar para siswa

Setelah melihat latihan macam apa yang Rudi beri, daku jadi paham maksud ‘rumus yang lebih susah itu’. Haih… sekarang masuk penerapan fungsi IF Majemuk.  Dan ekhem… sensasi menerangkan di kelas ini agak lain.

Mereka begitu mengantisipasinya. Yang bikin dadaku mengembang, mereka juga menyiapkan pulpen dan buku bak wartawan yang tak mau kehilangan kesempatan untuk melengkapi catatan. Daku bicara atau menjelaskan, mereka mengabadikannya lewat tulisan. Untuk respons ini, daku sangat mengapresiasinya. Good job!

Soal demi soal mereka telan. Daku masih menerapkan teknik pemberian soal dari mudah – sedang – sulit – rumit (kalau ada). Untuk level yang terakhir, daku pancing dengan hadiah kecil. Sebagai mood booster juga, sebenarnya. Dan, cara ini cukup efektif.

Daku beri soal, yang terlihat sederhana namun mengecoh. Seru juga melihat kompetisi diantara mereka. Untuk memecahkan soal, tidak hanya siapa yang paling cepat, melainkan siapa yang paling tepat. Daku set alarm atau durasi mereka ketika memecahkan tantangan tersebut.

Sayang memang, tak ada yang berhasil menjawabnya dengan baik, benar dan tepat. Rata-rata dari mereka sudah mengerjakannya dengan baik dan benar, namun karena ada tanda yang kurang, jadinya jawabannya tidak tepat. Hehe…

Daku semakin ‘terhibur’ ketika mereka sebal dan gregetan ketika jawaban tepatnya diungkap. Kekeliruan mereka hanya secuil, namun efeknya cukup besar. Daku sekaligus pengin mengajarkan betapa hal remeh itu tidak boleh diremehkan. Sesuatu yang sepele tidak boleh disepelekan.

Apa Semua Siswa Wajib Menyukai dan Menguasai Pelajaran?

Tidak Siswa Wajib Menyukai dan Menguasai Pelajaran

Via: thepassblog.blogspot.com

Tibalah kelas CPU 2…

Ada Milah, Ajeng, Ai, Nurul, Rizki dan Diman. Daku mengernyitkan dahi menghadapi kelas ini. Yang satu ini kurang kompak secara kehadiran. Jadinya yang sudah tahu konteks, ada yang remang-remang dan ada juga yang masih blank.

Sebelum kelas dimulai, daku interogasi dulu mereka, apakah menghadiri pemberian materi yang diberikan Pak Rudi. Benar saja, hasilnya beragam. Risikonya, tentu daku mesti ‘membongkar’ ulang materi yang sudah disampaikan pada beberapa diantara mereka. Hal itulah yang kadang bikin proses belajar jadi kurang asyik.

Tapi daku sangat mengapresiasi kehadiran dan antusiasme mereka. Terlihat sekali ketika soal diberikan, mereka mau berusaha untuk memecahkannya. Hanya saja… gerakan mereka terkesan kurang ‘luwes’. Terlihat ada keraguan. Daku yakin semua itu dipengaruhi oleh kehadiran sebagian dari mereka yang tidak full.

Untuk menambah semangat, daku terapkan strategi seperti pada CPU 1. Ya, ada hadia kecil bagi salah-satu diantara mereka yang mampu menaklukan soal. Cara itu cukup efektif, sebab mereka semakin mencoba dan mencoba. Yang mengagumkan, kegagalan demi kegagalan justeru menggiring pada rasa penasaran. Tiap kali ditanya “nyerah, enggak?”, dengan gemasnya mereka menolak. Ini pertanda bagus. Daku suka.

Seperti di CPU 1, tak satu pun anak-anak CPU 2 yang mengetahui jawabannya. Tak apa-apa sih, daku sudah menebaknya. Haha… Bagaimanapun, sebagian besar dari mereka terlihat sekali belum paham konsep fungsinya. Terlihat masih bingung. Jadinya eksekusi soal pun terkesan bersifat spekulatif atau coba-coba.

Pulang dari tempat les, langkahku serasa ringan. Semangat, kemauan dan antusias siswa untuk belajar saja sudah bisa menjadi alasan bagi seorang pengajar untuk tersenyum.

Daku berusaha menerima kenyataan, kalau tak semua siswa wajib menguasai pelajaran kita. Barangkali mereka memiliki minat, keahlian atau passion lain. Hanya saja, usaha mereka untuk memahami materi sangat berpengaruh pada mood mengajar. Jadi semakin baikan. #RD

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *