6 Catatan Utama tentang Sumber Rasa Bahagia

6 Catatan Utama tentang Sumber Rasa Bahagia

6 Catatan Utama tentang Sumber Rasa Bahagia

By: Joel Robison via IG: @deeannrose

Bahagia, atau kebahagiaan.

Topik ini sudah dibahas banyak orang. Memang, semenjak usia kita bisa mencerna berbagai hal abstrak (termasuk bahagia-kebahagiaan), tema ini menjadi pembahasan yang selalu menarik. Ada yang mengupas tips supaya bahagia, alasan kenapa tidak bahagia atau tanda-tanda orang yang berbahagia.

Apakah kita ini sudah bahagia?

Sering kita lihat, seseorang yang hatinya diremukkan kehidupan, tapi kok masih bisa menyunggingkan senyuman. Ada juga orang yang berlimpah teman dan kekayaan, tapi kok sering terlihat sesenggukan di pojokan. Kadang tak bisa kita pahami, orang yang tajir nan populer pun bisa stress karena tuntutan hidup, bisa terjebak narkoba karena pengin lari dari kenyataan, bisa jadi pemabuk berat karena jengah dengan dunianya, dsb.

Benar kata orang, kalau uang atau materi bukan penjamin kebahagiaan. Benar juga, kalau di balik senyum dan tawa seseorang pasti ada kepedihan atau masalah besar. Intinya… sesedih apapun kondisinya, kita tidak benar-benar sendirian.

Di sini, daku bukanlah pakar kebahagiaan yang memiliki semua kunci untuk merasa puas. Heck, daku masih sering dibuat bertanya-tanya tentang hal ini. Pengin menulis dan sharing saja… kalau ternyata ada hal-hal tertentu yang selalu berhasil menjadi sumber kebahagiaan. Apa saja?

Jom!

#1. Menjalani Hubungan yang Sehat

Hubungan yang sehat bukan berarti yang dekat atau yang sering bersama-sama. Lebih dari itu. Hubungan yang bikin bahagia berdiri karena kemurnian, bukan karena modus. Dan hubungan di sini cakupannya luas; hubungan dengan Allah Swt, hubungan dengan keluarga, orang tua, saudara, tetangga, pasangan, sahabat, teman, hewan peliharaan, dsb.

Sadar atau tidak, hubungan atau relasi menjadi salah-satu kebutuhan hidup. Hampa rasanya jika kita tidak terhubungan dengan siapapun, apalagi dengan Tuhan YME. Kalau hubungan itu terjalin karena keikhlasan, maka feedback-nya… kebutuhan kita akan terpenuhi. Kita memberi, kita menerima. Kalau sudah begitu, kebahagiaan menjadi sesuatu yang mudah datang.

#2. Bisa Berterima Kasih

Semua orang pasti diberi keberkahan atau karunia hidup, tapi tak semua bisa menyukurinya. Semua orang juga pernah merasakan kebaikan orang lain, tapi begitu banyak yang tidak berterima kasih. Padahal bersyukur atau sikap tahu berterima kasih itu sangat bermanfaat.

Kita lebih peka terhadap anugerah Allah Swt, atau kebaikan-kebaikan dari makhluk hidup. Kehidupan pun jadi terasa lebih bermakna dan berbahagia. Kita juga jadi lebih bijak. Rasanya selalu berpikir ulang untuk mengeluh atau mengutuk hidup, sebab disadari atau tidak, kebaikan yang diterima selalu lebih besar dari keburukannya.

#3. Kebersamaan dengan Orang-orang “Positif”

Daku pernah mengungkapkan, kalau bareng-bareng dengan orang yang hobi mengeluh itu bisa bikin mood anjlok atau energi jadi terkuras sendiri. Sebaliknya, berada di tengah orang-orang yang positif bisa menularkan rasa positif juga. Mereka tertawa, kita ikut tertawa. Mereka tersenyum, kita ikut tersenyum. Mereka pantang menyerah, harapan kita juga jadi tak mudah patah.

Begitulah kekuatan dari kebersamaan, tentu dengan orang-orang pilihan. Tapi bukan berarti kita membatasi pergaulan, hanya saja… kita berhak ‘mencomot’ segelintir orang untuk jadi sahabat atau saudara.

#4. Menolong Sesama Makhluk Hidup

Setelah memberi bantuan (dengan tulus ikhlas), ada rasa tersendiri yang muncul. Kita jadi merasa puas, merasa bahagia, merasa jadi lebih bermakna, merasa dibutuhkan dan merasa lebih percaya diri. Padahal bisa saja bantuan yang kita berikan itu bersifat sederhana.

Entah membantu menyeberangkan seseorang, mengelus kepala kucing sampai ia mengantuk nyaman, memberi sebuah permen sampai seorang anak tersenyum girang, meminjamkan uang pada orang yang benar-benar butuh, mendengarkan curahan hati teman sampai ia merasa plong, dsb.

#5. Lebih Mengingat Kebaikan Orang Lain Daripada Kejahatannya Pada Kita

Sekeras apapun gelombang hidup, kita pasti memiliki banyak orang untuk disyukuri eksistensinya. Atau sedatar-datarnya hidup, kita pasti memiliki orang yang membuat keadaan jadi tak nyaman. Tapi manusia bukanlah malaikat, yang terus berbuat baik tanpa cacat. Manusia juga bukan iblis, yang terus-terusan berbuah jahat tanpa sentuhan kebaikan.

Sebagian besar dari kita sangat mudah melupakan kebaikan orang. Anehnya, keburukan orang itu justeru menempel dalam memori. Semakin kita mengingat kejahatannya, sikap negatif dan kebencian dalam hati semakin tinggi. Sebaliknya… semakin fokus mengingat kebaikannya, kita semakin mengapresiasi orang-orang di sekitar. Rasanya jadi pengin menebar ‘rasa terima kasih’, pengin membuat mereka nyaman dengan keberadaan kita.

#6. Meluangkan Waktu untuk “Me Time”

“Me Time” adalah waktu khusus untuk menyendiri, seakan-akan badan-hati-pikiran kita saja yang ‘kumpul’. Hal ini bisa dilakukan di segala kesempatan. Entah ketika mendirikan sholat, ketika membuka jendela kamar di malam hari untuk bertatapan dengan langit, ketika melakukan perjalanan sendirian, dsb.

Momen itu memberi kesempatan pada untuk ‘berdialog’ dengan hati dan pikiran sendiri. Kita juga jadi lebih bisa ‘me-refresh’ keadaan emosi, mental bahkan spiritual sendiri. Namun tentu agenda ini tidak kita terapkan sepanjang waktu, sebab pada akhirnya kita akan kembali terhubung dengan orang lain. Bagaimanapun, bersosialisasi atau menjalin hubungan dengan yang lain juga menjadi kebutuhan.

Kata orang, hidup adalah perjalanan. Dan, sebuah perjalanan pasti terasa menyenangkan apabila dilalui dengan senyum kebahagiaan. Detik ini kita bisa memilih, hendak menempuh perjalanan dalam keadaan berbahagia atau tetap bermuram durja? Kalau lebih peka, alasan untuk tersenyum itu ternyata tak terhingga. Demikian, 6 Catatan Utama tentang Sumber Rasa Bahagia. #RD

4 Comments
  1. itz fariz
    • deeann
  2. marfa
  3. deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *