Alasan Kenapa Artis Bisa Terlibat Bisnis Prostitusi dan Bersedia Dibenci atau Dibully

Alasan Kenapa Artis Bisa Terlibat Bisnis Prostitusi dan Bersedia Dibenci atau Dibully

Alasan Kenapa Artis Bisa Terlibat Bisnis Prostitusi dan Bersedia Dibenci atau Dibully

By: @oriolangrill via IG @deeannrose

Kenapa sih, artis bisa terjerumus dalam bisnis prostitusi? Mereka ‘kan (katanya) sudah hidup mewah dan berkecukupan? Emang, uangnya buat apa?

Kenapa juga, sebagian dari mereka hobi menciptakan sensasi, yang justeru mengundang banyak haters dan bullying? Sebenarnya tujuan mereka apa?

Uh, daku bertanya-tanya sendiri pasca memerhatikan topik yang kini tengah panas. Entah di televisi, headline media massa atau di media-media sosial. Responsnya beragam, tapi sebagian besar penuh cacian terhadap artis yang terlibat. Kata-kata atau komentar yang keluar sudah tidak disaring. Yang blak-blakan, kasar, kotor dsb, lengkap sudah.

Sebenarnya isu ini bukan sesuatu yang baru. Mungkin sudah jadi hal tabu. Mungkin juga sudah jadi ‘rahasia umum’ tersendiri. Dulu juga berita ini sempat menyeruak. Hanya saja, segala sesuatunya semakin terbuka dan detail.

Di sini, daku sengaja tidak membuat daftar “10 alasan kenapa artis tergoda bisnis prostitusi” atau “100 penyebab kenapa artis melebarkan sayap ke bisnis yang terlarang”, dsb. Kita daku tidak berhak men-generalisasikan penyebab kenapa seseorang, siapapun itu, bisa terjun ke dunia prostitusi. Alasannya bisa banyak. Satu individu bisa memiliki berbagai alasan.

Beberapa diantaranya yaitu karena…

  • Menjadi jalan pintas untuk mendapat bayaran yang langsung besar.
  • ‘Memanfaatkan’ masa muda dan keadaan yang sedang cantik-cantiknya.
  • Pengin memenuhi kebutuhan pokok hidup.
  • Sebagai upaya membantu hidup keluarga dan saudara.
  • Tertuntut kebutuhan yang sebenarnya tidak pokok, tapi dianggap sangat penting. Entah pendidikan, modal bisnis, perawatan tubuh, produk branded, dsb.
  • Gaya hidup yang terlanjur glamour.
  • Dia menjadi korban eksploitasi oknum.
  • Pergaulan dengan kelas tinggi yang mesti diseimbangi.
  • Memenuhi ketergantungan atau kecanduan akan sesuatu. Misalnya obat-obatan terlarang, minum-minuman keras, acara-acara pesta, dsb.
  • Pengin menaikan pamor atau popularitas secara instan.
  • Hanya sebatas kepuasan pribadi.
  • Bingung hendak bekerja sebagai apa.
  • Capek dengan pekerjaan yang berat, tapi upahnya kecil.
  • Tuntutan dari pihak luar, sehingga bisa terancam apabila tidak nurut.
  • Mengalami pelecehan di masa lalu, namun terjebak dalam aksi ‘balas dendam’ yang keliru.
  • Sangat memerdulikan kehidupannya dan sudah mengabaikan apapun komentar orang tentang dirinya.
  • Sudah hilang kepercayaan terhadap segala hal.
  • Dsb.
  • Dsb.
  • Dsb.

Alasan lain bisa terungkap. Lebih dari yang sudah dituliskan di sini. Tapi yang disayangkan… orang langsung men-judge; pasti karena buta materi, pasti karena sudah tak tahu malu, pasti karena hidupnya memang (maaf) sudah jadi sampah, dsb. Well, semuanya bisa jadi benar. Tapi semuanya bisa jadi juga sangat keliru.

Bagaimanapun, kita tidak benar-benar tahu. Bukan hak kita juga, untuk memberikan label atau menghakimi seseorang. Semua penghakiman alangkah lebih baiknya diserahkan pada yang berhak, hanya pada-Nya.

Lagipula, mencaci tidak berarti membuat segala benang kusut ini jadi tiba-tiba terurai. Segala komentar kasar atau bullying justeru bisa menarik topik atau permasalahan lain. Jadinya, kita seperti menyembur minyak tanah di tengah-tengah bara yang sedang menyala.

Wah, bisa saja ada orang yang mengasumsikan postingan ini sebagai ‘pembelaan’. Daku tak bisa berbuat banyak untuk hal itu. Tapi daku yakin, pembaca yang bijak akan benar-benar memahami maksud dari tulisan ini. Hehe… mohon maaf jika ada yang tidak berkenan, ya. #RD

4 Comments
  1. Fakhruddin
    • deeann
  2. Hastira
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *