Bahasa Itu Enggak Beli, Ngerespons Dong!

Bahasa Itu Enggak Beli, Ngerespons Dong!

ilustrasi postingan Bahasa Itu Enggak Beli, Ngerespons Dong!

Street Art The Beatles by Mr Brainwash [London] via IG: @deeannrose

Bisa kita bayangkan kalau bahasa itu dikenakan tarif. Tiap menjawab “iya”, “enggak” atau sekadar mengangguk-menggeleng berbayar. Woah…

Bersyukur sekali sebab imajinasi liar tersebut (maksudnya bahasa yang berbayar) itu enggak ada. Jadinya kalau kita punya organ mulut, dikaruniai kemampuan untuk berbicara, memahami bahasa dan bisa berkomunikasi, kita bisa bilang “mau”, “enggak mau”, “oke”, “ogah”, dsb dengan semaunya.

Demikian juga kalau yang (maaf) tuna wicara, tentu bisa memakai gesture atau bahasa tubuh. Entah dengan mengangguk, menggeleng, melambaikan tangan, dsb. Yang penting jika ada seseorang yang mengajak berkomunikasi, kita siap merespons. Tidak cuek atau mengabaikan. Sakit, soalnya.

Hal inilah yang sering daku dengar dari para sopir angkot. Sebagai salah-satu dari angkoters atau transportasi umum-er, daku sering menjadi saksinya. Misalnya beberapa waktu yang lalu, ketika daku menggunakan jasa angkutan tersebut. Si sopir dan seorang ibu sampai sering memberi komentar atas kelakuan beberapa calon penumpang.

Tin… Tin… Tin…

“Pulang, Neng?”

“Hayuk!”

Berbagai kalimat ajakan sering diajukan Pak Sopir, termasuk juga dengan menyebutkan daerah tujuannya. Seperti sopir-sopir lain, beliau juga melontarkan ajakan tersebut ke tengah keramaian. Khususnya ke anak-anak sekolah, atau sekadar kelompok kecil ibu-ibu di pinggir jalan.

Kami lihat anak-anak sekolah itu bergeming. Enggak bilang “ya”, “tidak”, menggeleng atau minimal melambaikan tangan, tanda enggak mau naik ke angkot. Yang sedang ngobrol tetap ngobrol, ada juga yang tetap sibuk dengan gadgetnya, ada yang memalingkan muka atau sekadar diam saja.

“Ya ampuuunn!” Si sopir berseru, cukup keras untuk didengar dari luar, “Ini anak-anak biaya lahirannya mahal kali, ya?! Sampai enggak sudi ngomong segala?!”

“Iya ya, Mang? Padahal sekolah sih sekolah…” komentar seorang ibu.

Nah loh, bawa-bawa sekolah segala… [ini suara hatiku].

“Lahirannya dioperasi Caesar, kali?” ibu-ibu lain gabung, “Makanya pilih-pilih orang kalau mau ngejawab?!”

Istilah medis juga kebawa… [masih suara hatiku juga]

Kami tertawa.

“Iya, ngasih ongkos paling berapa, tapi tingkahnya itu lho! Hiiiy… tinggi banget!” seru Pak Sopir, meluapkan isi hatinya.

“Emang anak-anak zaman sekarang, ya?!” sahut si ibu-ibu.

Perjalanan berlanjut. Kembali, si sopir menepikan mobilnya. Rupanya ada ibu-ibu. Sambil menggunakan tangan kanan, sopir mengajak dengan bercada. Pahit sekali. Sebab dua ibu itu tidak merespons. Tidak beda jauh dengan anak-anak sekolah sebelumnya.

“Ngomong atuh, Bu! Mau ya mau! Enggak ya enggak! Susah pisan!” ini bukan suaraku atau Pak Sopir, tapi seorang ibu-ibu.

Daku otomatis melihat ke arah ibu-ibu tersebut. Terperangah dengan aksinya. Beliau yang ngeh lalu bilang dengan kasual,

“Saya ikut panas, Neng!” katanya sambil tetap melihat ke arah ibu-ibu tanpa respons itu, “Tinggal ngerespons aja apa susahnya, sih?!”

“Iya bener, Bu,” seorang ibu bergabung, “’Kan ada peribahasa Sunda kalau bahasa itu…”

“Enggak beli,” si ibu-ibu yang barusan berseru melengkapi kalimatnya.

Obrolan masih berlangsung. Saling timpal. Termasuk sang sopir yang juga ikut bergabung.

Daku jadi menyimpulkan, kalau sopir angkutan umum akan baik-baik saja jika penumpang yang ditawarinya menolak. Tapi ia “tidak akan baik-baik saja” jika ajakannya tidak diacuhkan sama-sekali. Itu lebih sakit dan orangnya akan merasa tidak dihargai.

Daku tidak menyalahkan anak-anak sekolah atau ibu-ibu, kok. Enggak semuanya begitu. Yang baik, ramah dan rendah hati juga banyak. Hanya sebagian saja yang masih hobi “khilaf”.

Intinya, kita mesti saling mengingatkan. Bukan kita saja yang punya hati dan perasaan, orang lain juga. Peace! #RD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *