Mengajar di “White Light” Day

Mengajar di “White Light” Day

Mengajar di “White Light” Day

By: Elise Gravel on IG @deeannrose

Jumat, 27 November 2015

“White Light”, album terbaru milik The Corrs rilis hari ini. Uh, daku enggak bisa ngapa-ngapain selain menjelajah media sosial. Pilihannya jatuh ke instagram. Daku pengin tahu, akun-akun fans The Corrs akan meng-update apa.

Sebagian besar dari mereka pamer. Ada yang menunjukkan bukti download via i-Tunes, ada yang selfie bareng bukti fisiknya, ada yang membagikan seuprit lagu barunya, dsb. Banyak juga yang berbagi komentar.

Uh, daku sudah sangat siap untuk menikmati karya mereka. Kabarnya ada 12 track, dengan 1 lagu instrumental. Daku belum tahu semua. Yang daku tahu, proses menyerap karya mereka bukanlah hal sulit. Paduan vocal atau tinwhistle-nya Andrea, gitar atau pianonya Jim, drum atau bodhrannya Caroline serta biola atau backing vocalnya Sharon. Semuanya selalu menjadi harmoni yang indah. Oh, apalagi Andrea juga kabarnya memainkan ukulele. Woah!

Di fesbuk tak jauh berbeda, kecuali yang berpoto bareng kasetnya. Di hari rilis itu, sepertinya, belum ada warga Indonesia yang sharing poto bersama album “White Light”. Bahkan tempat daku pesan CD pun belum. Setelah dikonfirmasi mengenai kapan pengiriman paket pesanannya, mereka mengatakan akan dilakukan hari Senin. Kebetulan pihak Warner Music Indonesianya baru mengirimkan paket pada Sabtu (28 November 2015). Karena itu, daku masih harus gregetan. Menunggu pesanan itu datang.

Moodku hari ini terbilang sangat baik. Jadi pengin menebar senyum ke orang-orang. Haha… Hal ini tentu jadi modal bagus, sebab siangnya daku bakal mengajar. Hehe…

Album White Light The Corrs, scream

IG: @deeannrose

Daku malah datang sebelum anak-anak sampai. Nah, ternyata begini rasanya kalau mesti menanti di tempat kursus. Heuheu… tapi daku sengaja datang lebih awal. Ada pekerjaan lain yang mesti diselesaikan. Jadi sambil menunggu anak-anak, daku mengetik dulu di ponsel. Lumayan… meski sedikit, asal bisa nyicil. Daripada tidak sama-sekali, toh?

Materi hari ini masih tentang Microsoft Power Point 2007. Materinya lumayan bikin pengajar bersantai lebih lama. Anak-anak biasanya akan larut dalam aktivitas otak-atik desain atau animasi. Begitu juga dengan anak-anak Prosessor 1; Ina, Ica, Vera, Tiara, Opi, Een dan Lulu. Eli dan Nur tidak hadir.

Selain menjadi penulis, daku pengin sekali ada adik kandung atau adik didik yang cinta dan menguasai dunia seni. Dan lewat materi yang penuh dengan hias-menghias atau mendesain ini, daku bisa ‘mengintip’ bakat seni tersebut. Yang bisa daku lakukan hanyalah memberi waktu sepenuhnya pada mereka, memberi kebebasan dan memuji atau mengapresiasi hasil kerjanya.

Membaca Blog Berjamaah

Tibalah jam belajar untuk Prosessor 2…

Yang datang baru kaum adamnya; Genta, Ade Salman dan Anjas. Itupun sudah masuk terlambat. Padahal daku pengin semuanya tepat, agar pulangnya tidak ngaret juga. Dan ketika daku sudah menunaikan sholat dzuhur, lalu kembali ke ruang belajar, ternyata Tia dan Dina baru datang. Ckckck…

Gimana, ya. Daku tidak suka murid yang datang terlambat. Bukan karena apa-apa. Daku rasa mereka sendiri yang rugi, sebab tak aka nada penambahan waktu. Terkecuali kalau pihak pengajar yang telat, pasti waktu pulangnya juga molor.

Karena itu, dengan berat hati daku perintahkan Dina dan Tia untuk menulis sebagian latihannya saja. Jadinya pekerjaan mereka tidak utuh. Tapi mau bagaimana lagi, daku juga mesti mempertimbangkan murid-murid yang sudah datang. Meski demikian, daku tetap berterima kasih karena dua murid perempuan itu sudah menjadi yang paling rajin.

Kedekatanku dengan kelas ini semakin hari, daku rasa, semakin baik saja. Dulu rasanya Prosessor 2 adalah kelas yang ‘paling jauh’, namun sekarang chemistry-nya sudah lumayan berkembang. Kami pun bisa leluasa bercanda, walau tengah dalam kegiatan belajar-mengajar.

“Dee Ann Rose, enggak salah ini pasti Si Ibu,” Anjas berkomentar di tengah-tengah upaya penyelesaian tugas, “Ini soalnya pasti buatan Si Ibu, ya Bu?” lanjutnya.

“Siapa lagi?!” Daku menjawab, rolled eyes.

Daku memang membubuhkan “Dee Ann Rose” dan www.rosediana.net pada soal. Tapi daku tidak menjelaskan keduanya. Baru Anjas saja yang memerhatikan hal tersebut dan menanyakannya padaku.

Pertanyaan itu kemudian sambung-menyambung ke blogku. Mereka bertanya ini-itu. Tentang blog, tentang isinya, tentang keuntungan apa yang didapat dari ngeblog, dsb. Sampai-sampai mereka membacakan salah-satu postingan, di mana daku menceritakan tentang mereka sendiri. Bayangkan. Oh, so awkward, bukan?! 😀

“Ih… kok diceritain semuanya sih, Bu?!” gerutu Dina yang memang sempat daku sebut-sebut.

“Kenapa? Enggak mau, ya?”

“Enggak sih…”

“Ha ha ha…”

Anjas, Genta dan Ade Salman masih saling membaca dan mendengarkan apa yang daku tuliskan. Tulisan yang polos, mengalir apa adanya. Mereka terus saja tertawa. Menertawakan apa sih, Nak? Orang kalian sendiri yang sedang diceritakan?! Haha…

Tapi ada momen, di mana daku melihat tawa mereka yang lepas. Rasanya adem. Nyaman di hati. Anjas, Genta dan Ade Salman ganteng juga kalau sedang terbahak-bahak. Begitu juga dengan Dina dan Tia, yang kecantikannya muncul kalau sudah tertawa. :p

~

Nah, daku juga tak tahu kenapa “White Light” sempat teralihkan ketika mengajar. Padahal begitu sampai ke rumah, daku kembali ingat media sosial dan mengupdate info apa yang bisa dinikmati. Di twitter, Jim Corr nampak mengupdate tweet. Katanya,

“Corrs album brings White Light to a Black Friday 😀 x”

Tapi Jumatku enggak hitam kok, Om. Beruntung sekali, suasana sedang senang dan White Light pun datang. ^_^ #RD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *