Terlalu Baik itu Sama Dengan Terlalu Bodoh dan Enggak Baik?

Terlalu Baik itu Sama Dengan Terlalu Bodoh dan Enggak Baik?

Terlalu Baik itu Sama Dengan Terlalu Bodoh dan Enggak Baik

By: Banksy via IG @deeannrose

Siapa yang terlalu baik, terlalu bodoh dan berakibat enggak baik sama dirinya?

Siapa, ya?

Karakter utama dalam sebuah sinetron, mungkin?

Ha ha ha… bercanda. 😀

~

Orang baik itu sangat banyak. Tapi banyak yang tak menyadarinya. Mungkin kita lebih fokus pada titik nodanya, dibanding ruang lain yang ‘lebih bersih’.

Ceritanya daku sedang menjaga kios bersama Mimih. Kalau enggak ada pembeli, kami bisa mengobrol apa saja. Cuma daku lupa lagi sedang membicarakan apa ketika seorang kyai berpeci putih datang.

“Mau nyari kitab?”

“Oh, kalau kitab mah di kios sebelah,” Mimih menunjuk ke arah kanan dengan jempol kanannya.

“Hmm… kalau peci, ada?”

“Ada,” Mimih yang menjawab, “Mau merek apa?”

“Yang bagus sih, apa?”

“Di sini adanya xxxx,” jelas Mimih yang dijawab anggukan oleh konsumen, “Nomornya berapa, biasanya?” Beliau melanjutkan.

“Lima.”

“Kecil amat,” ini suara hatiku.

Peci pun dikeluarkan. Beliau nampak melihat-lihatnya sekilas, mencobanya, lalu memasukannya kembali dengan senyuman. Tanda kalau barang yang dicari sesuai dengan kehendak, terus nomornya juga pas.

“Berapaan?”

“Ya sudah, empat puluh lima ribu saja.”

“Kenapa enggak lima puluh aja?”

“Eh?”

“Kita ini dulunya temenan, Neng,” kata Sang Kyai, menunjuk dirinya dan Mimih.

“Oh gitu ya, Pak?” Daku sebelumnya sudah tahu, tapi enggak tahu ternyata bakal sekikuk ini menanggapinya. Beliau kyai dan kami jarang bertemu, mau njawab apa?!

“Nah, ini uangnya,” Beliau menyerahkan uang sebesar seratus ribu.

Mimih lalu memberikan kembalian sebesar lima puluh lima ribu rupiah. Sambil tersenyum dan menyerahkan pecahan uang lima ribu rupiahnya, sang kyai bilang,

“Udah lima puluh ribu aja.”

Mimih berterima kasih dengan setengah berseru, sebab sang kyai sudah berlalu. Kami lalu saling lirik dan geleng-geleng, diam-diam mendoakan kalau semua pelanggan akan seperti beliau. 😀

~

Catatan menjadi orang yang sangat baik atau terlalu baik

Pict on Street Art Utopia via IG @deeannrose

Kalau dipikir-pikir, apa Kyai itu terlalu baik? Untuk kasus ini, daku rasa… iya. Kami sudah menetapkan harga, tapi beliau malah memberi lebih. Kalau pembeli kebanyakan sih pasti sebaliknya, berusaha menurunkan harga serendah mungkin dari yang sudah ditetapkan.

Kenapa seseorang bisa begitu baik?

Daku kurang tahu. Hatinya dan Allah Swt yang lebih tahu. Itu urusannya. Kita hanya menerka-nerka, tak bisa memvonisnya… oh dia tulus, oh dia modus. Tapi lebih baiknya berprasangka positif saja.

Apa orang yang terlalu baik itu… bodoh?

Hah, apa Pak Kyai yang dicontohkan dalam tulisan ini bodoh? OMG!

Atau contoh lain, panutan kita Nabi Muhammad Saw, yang masih baik meski sudah diejek gila – diancam mau dibunuh – diludahi – dilempar – bahkan tidak diakui sebagai Rasul. Apa Beliau…? Astaghfirullaaah.

Apa orang yang terlalu baik itu… enggak baik?

Dia terlalu baik, kok jadi enggak baik? Hehe…

Apa tujuan orang yang terlalu baik?

Uhmmm… pertanyaan yang cukup privat dan butuh penggalian (sumur) secara mendetail. Hanya pribadinya yang bisa menjawab. Tapi kalau dibagi dua, tujuannya ada yang murni karena Allah Swt dan ada juga yang menyimpan maksud.

Untuk tujuan pertama, biasanya yang bergerak itu hati. Bawaannya refleks. Kalau bisa menolong, ada kepuasan tersendiri meski kita mesti menderita. Intinya… dia murni pengin gabung sama kalangan manusia yang disebutkan dalam hadist riwayat Ahmad, Thabrani dan Daruquthni:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.”

Untuk tujuan yang kedua, biasanya kita (diam-diam) mendamba balasan. Ada harapan kalau sesuatu yang kita beri atau perbuatan baik yang kita persembahkan akan mantul. Namun biasanya ekspektasi ini akan menghadiahi kita dengan rasa kecewa manakala semua itu tak terwujud.

Apa ruginya jadi orang baik?

Pemain sinetron yang menderita dan sering nangis karena kebaikannya saja… pada endingnya tetap bahagia. Hehe…

Ruginya jadi orang baik itu apa, ya? Mungkin karena ia sering dicurigai tentang ketulusannya. Orang juga sering salah-paham, menganggapnya memang baik atau malah bodoh. Banyak juga yang ‘memanfaatkannya’, khususnya ketika hati dan akal pikirannya itu oleng. Karena pada saat itulah, dia lemah.

Catatan menjadi orang baik

Pembahasan mengenai hal ini terlihat simpel, tapi njelimet juga, ya. Satu topik ini bisa mendatangkan berbagai opini. Bukan hal mengherankan kalau ada yang tidak sependapat. Catatannya:

  • Motivasinya hanya Dia semata.
  • Menjadi orang baik bukan berarti luput dari ketidakbaikan, ya.
  • Jangan jadi beban yang membahayakan dan mengundang rasa sakit berlebih.
  • Ingat-ingat untuk baik terhadap diri sendiri juga.
  • Mesti akrab dengan kecurigaan dan kendornya kepercayaan orang.
  • Sebisa mungkin menepikan sikap terlalu berharap.
  • Kebaikan bukan untuk diingat-ingat atau dihitung-hitung.

Pada akhirnya…

Terlalu baik sama Si A, bukan berarti kita harus berharap kebaikan dari Si A juga. Berbuat baik dengan memberi materi, bukan berarti kita akan mendapat imbalan berupa materi lagi. Atau berbuat baik dengan sikap positif, bukan berarti kita akan mendapat balasan berupa respons positif juga.

Tapi satu yang pasti, kebaikan (dan juga keburukan) pasti akan mendapat balasan. Balasannya itu… bisa menyerbu dari berbagai penjuru. #RD

3 Comments
  1. oh andrian
    • deeann
  2. imma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *