10 Hal yang Hampir Hilang Ketika Internet Mulai Datang

Posted on

10 Hal yang Hampir Hilang Ketika Internet Mulai Datang

10 Hal yang Hampir Hilang Ketika Internet Mulai Datang
“The Roots” By Banksy #CMIIW via IG: @deeannrose

Ketika internet datang, perubahan apa yang dirasakan?

Bagi daku dan orang-orang lain yang sempat merasakan “hidup tanpa internet”, tentu bisa flashback, ya. Dulu belum bisa berkomunikasi lewat media sosial, belum pernah belanja online, belum main blog, belum bisa nyontek via google (ups!), dsb.

Mendengarkan musik masih lewat VCD/DVD, bermain masih di lapangan atau paling mewah itu menggunakan jimbot, komunikasi jarak jauh hanya lewat telepon atau surat, dsb.

Tapi begitu internet eksis, woah… perubahan yang terjadi begitu drastis. Kedatangannya membuat banyak hal perlahan pergi melayang.

Internet menawarkan berbagai hal yang sangat menggiurkan, termasuk juga mesin pencarian secanggih Google. Mereka memperkirakan kalau dalam 1 detik, orang-orang merequest atau meminta sekitar 40.000 informasi tentang segala hal. Kalau ditotal berarti mereka melayani sekitar 3,5 milyar request pencarian per hari! Etdah!

Nah, mudah dan praktisnya internet memberi dampak besar pada beberapa hal yang pernah eksis sebelumnya. Mereka adalah…

#1. Perpustakaan

perpustakaan
Pict via: dkit.ie

Sampai daku menulis postingan ini, bangunan perpustakaan memang masih eksis. Namun aktivitasnya anjlok secara signifikan. Info tokoh penting tak lagi dicari lewat buku biografi, melainkan lewat “tante” Wiki. Rangkuman materi pelajaran sudah tersebar di situs-situs pendidikan. Tak perlu buku atlas untuk menelusuri peta dunia, sebab di Google Image atau Map sudah sangat detail. Begitupun dengan buku-buku bacaan lain yang sudah berubah wujud jadi e-book.

~

#2. Koran dan Majalah

koran dan majalah
Via: phoenixchamber.com

Memang, berita televisi sudah lama hadir dan berhasil mencuri perhatian pemirsa. Namun koran dan majalah masih bisa eksis. Yang harian, mingguan atau juga bulanan. Rumah-rumah pribadi atau kantoran menjadi pelanggan agar tak ketinggalan. Namun sekarang, nampaknya orang tinggal memilih mengetik di kotak pencarian google via komputer atau smartphone, lalu dalam satu klik, berita yag diinginkan langsung terpampang.

~

#3. Toko Buku

toko buku
Via: moodiereport.com

Toko buku memiliki nasib hampir serupa dengan perpustakaan. Bangunannya mulai sepi dikunjungi pelanggan. Sekarang pilihan utama orang lebih ke buku digital dulu. Kalau pun mesti membeli bentuk fisiknya, berbagai toko buku online sudah siap sedia melayani calon pembaca.

~

#4. Toko Musik

toko musik
Via: stuff.co.nz

Daku bisa maklum kalau sebagian musisi kurang suka dengan kemajuan teknologi, sebab peluang pembajakan atau pencurian karya semakin terbuka lebar. Orang sudah ogah-ogahan membeli karya musik dalam bentuk fisik. Masih mending kalau mendownload di tempat resmi dan berbayar, sekarang kita sangat tergoda dengan free download. Menikmati karya musisi tanpa bayar sama-sekali.

Di samping kaset atau CD, dulu juga suka ada bulletin atau majalah khusus musik. Isinya berupa lirik-lirik lagu, kunci gitar, profil musisi/ band, tangga lagu atau sekadar gossip tentang mereka. Sekarang rasanya sudah tidak ada. Semua itu, lagi-lagi, bisa dengan mudah kita temukan di internet. Eh, bahkan MTv yang dulu jadi salah-satu tayangan favorit pun drop. Youtube lebih menggiurkan.

~

#5. Surat-Menyurat Secara Fisik

surat menyurat fisik
Via: engadget.com

Surat-menyurat masih terjadi di zaman internet. Namun bentuknya saja yang berubah, jadi digital. Tak perlu kertas, tinta, amplop, perangko, kelopak bunga yang mongering, jejak airmata atau poto yang diselipkan.

Sebagian dari kita sudah mengandalkan e-mail. Selain tulisan, kita bisa mengirim berbagai lampiran dan bisa mentransferkannya dengan sekali klik saja. Durasi waktunya pun tak lagi sehari atau seminggu. Cepat sekali!

~

#6.  Wartel dan Buku Telepon

buku telepon
Via: leavcom.com

Ketika daku kecil, orang-orang dewasa di sekitarku melakukan komunikasi yang waktu itu terbilang keren. Mereka tinggal pergi ke wartel, memijit angka-angka tertentu, tersambung dan berbincang. Demikian juga dengan para tetanggaku yang berpunya.

Mereka memiliki buku telepon khusus yang enggak boleh dicoret-coret atau disobek-sobek. Isinya berupa deretan angka dengan nama-nama penting di pinggirnya. Sekarang, sudah datang smartphone dengan internet dan berbagai media sosialnya. Semua itu sudah jadi fenomena langka.

~

#7. “Kelas”

kelas diganti dengan belajar online
By: Martin

Kelas menjadi salah-satu unsur penting dalam pembelajaran apapun. Mungkin semua sekolah masih tak menerapkan sistem online untuk suatu kegiatan belajar-mengajar. Namun beda lagi dengan kegiatan belajar lain, seperti kursus-kursus. Sekarang sudah banyak penawaran kursus online, baik itu khusus pelajaran atau skill lain semacam menulis, ngeblog, photoshop, dsb. Tak perlu kelas.

~

#8. “Rasa Malu”

selfie kekinian
Via: shutterstock.com

Daku juga jadi mikir sendiri, bisa berani berpose dengan mimik wajah yang kadang aneh. Dijelek-jelekkin atau dibikin enggak seperti gaya poto biasa. Mohon maaf yang sebesar-besarnya. Tapi bisa kita lihat, wajah-wajah yang terlihat innocent bisa memposting poto atau video berani di media sosialnya. Belum lagi ada juga yang memilih selfie di tengah-tengah musibah seperti kebakaran, kecelakaan, atau di tengah tangisan para pengungsi bencana.

~

#9. Privasi

privasi akibat internet
Via: newyorker.com

Untuk membuat akun tertentu, kadang kita mesti menghadapi isian kolom. Mereka menanyakan nama lengkap, alamat, tempat kerja, nomor telepon, golongan darah, status, siapa keluarga kita, dsb. Begitu diklik, saat itu juga kita sudah terbuka pada seluruh dunia.

Bahkan tanpa disadari, kita sendiri yang “terhipnotis” membagikan segalanya. Entah berupa poto ketika di kamar atau kloset pribadi (dengan menghadap cermin besar :p), update tentang keberadaan kita di mana saja, bagaimana aktivitas kita di media sosial, menebar potret anak/ keponakan/ cucu kita yang masih bayi, dsb.

~

#10. Ketidakpedulian Terhadap Urusan Orang Lain

terlalu peduli urusan orang lain akibat internet, stalking
Via: hercampus.com

Semenjak ada internet, ketidakpedulian jadi hilang. Kita jadi sosok yang sangat peduli urusan orang lain. Hal ini bisa baik, tapi bisa juga sangat buruk. Ya… waktu kita sering terkuras ketika terlalu larut stalking akun seseorang, atau menjadi pemerhati postingan sebuah akun dengan berbagai komentarnya atau sekadar “merasa butuh” untuk meninggalkan jejak berupa komentar dan tanda like di berbagai akun.

Jujur, daku merasa… daftar dalam postingan ini masih perlu tambahan, yang banyak. Bagaimanapun, sudah terlalu banyak yang hilang ketika internet mulai datang. Tapi demikianlah, 10 Hal yang Hampir Hilang Ketika Internet Mulai Datang. #RD


2 thoughts on “10 Hal yang Hampir Hilang Ketika Internet Mulai Datang

  1. Hah…. yg saya bgt itu ada di ebook dan musik. Dulu pas msh sekolah msh suka bgt nongkrong di perpustakaan dan membaca berjam2, sekarang gak lg krn udah ada d tgn, ebook gampang bgt diunduh, murah, praktis juga.

    Kalo musik, dulu yg plg inget bgt waktu msh jmnx radio tape, byk sih kaset bajakan tp gak ada teksx, trus pas lg gandrung2x ama lagu pop barat dan krn terdorong rasa ngoyo pengen sik nyanyi capcus bhs inggris, mk dakupun rela menabung dan menyisihkn sdkt uang beasiswa buat beli kaset tape original di Duta Suara (toko kaset yg keren punya di jamanx yg konon afa cabangx dimana2).

    Haha…. jd ketahuan deh saya sdh setua apa!!

Comments are closed.