5 Alasan Kenapa Kita Tidak Mesti Takut akan Ketakutan

5 Alasan Kenapa Kita Tidak Mesti Takut akan Ketakutan

5 Alasan Kenapa Kita Tidak Mesti Takut akan Ketakutan

By: Banksy via IG: @deeannrose

“Satu-satunya hal yang mesti kita takuti adalah ketakutan itu sendiri…” – Presiden Franklin Roosevelt.

~

#KamiTidakTakut, #AkuEnggakTakut, #JakartaBerani, dsb, menjadi hashtag yang sangat popular pasca tragedi Sarinah beberapa hari kemarin. Hal ini cukup menarik, mengingat “biasanya” orang akan langsung ingat akan hashtag “Pray for…”. Ya, “PrayForJakarta” pun sempat mengemuka, namun kemudian tergantikan popularitasnya oleh hashtag-hashtag tadi.

Apa Iya Kita Enggak Takut?

Daku pribadi sempat mengernyit. Gimana enggak takut, kita menghadapi teroris lho?,  kita enggak lagi main petasan, tapi bom loh!, warga Jakarta jadi saksi baku-tembak secara live, loh!, dsb. Mereka sudah punya banyak alasan untuk merasa takut dan trauma. Mereka mendengar dentuman keras, menyaksikan kocar-kacirnya banyak orang, melihat darah atau luka, melihat muka teroris yang kemudian bunuh diri, dsb.

Nulis hashtag saja gampang, apalagi kalau kita bukan warga yang ada di TKP (Tempat Kejadian Perkara). Yang ada di luar TKP bisa nulis status facebook, ngetweet atau mosting di Instagram dengan situasi aman, bahkan tanpa asap putih atau bau mesiu.

menebarkan ketakutan

By: Banksy via IG: @deeannrose

Manipulasi Rasa Takut

Daku yakin… meski hashtag yang menyatakan keberanian terus digaungkan, namun rasa takut itu tetap ada. Sudah lumrah. Manusia memang memiliki beberapa ketakutan dasar. Takut akan kematian, takut kehilangan anggota tubuh atau merasakan sakitnya, takut berpisah dengan orang-orang tercinta apabila menjadi korban, dsb.

Takut Akan Sesuatu yang Belum/ Tidak Terjadi

Liciknya rasa takut, selalu menakut-nakuti kita akan sesuatu yang tidak real. Takut ujian atau interview kerja padahal belum hari H, takut menjadi tua padahal sekarang masih muda, takut bicara di depan khalayak padahal audiensnya hanya mendengarkan saja, dsb. Sebagian besar rasa itu dimunculkan oleh pikiran dan perasaan.

Takut, Tapi Mesti Dihadapi dan Dilawan

Fenomena ini yang tengah terjadi sekarang. Terror ada di mana-mana dan entah siapa dalang utama di baliknya. Mau ISIS, kelompok radikal lain, oknum, dsb. Semuanya sama-sama bikin resah, menipiskan rasa nyaman, mencoreng rasa percaya, dsb. Jahat. Bikin kita, sebenarnya, takut.

Namun “ketakutan yang menjadi-jadi” itulah yang menjadi tujuan mereka. Mereka terus menebar ancaman sebagai bentuk eksistensi dan bertujuan agar kita takut. Karenanya, daku salut terhadap mereka yang menginisiasi gerakan “berani” dan “melawan”. Sebab, memang hanya itulah “senjata” untuk melawan ketakutan. Kalau terlalu menuruti rasa takut, terlalu memanjanya, ketakutan itu akan jumawa.

kenapa kita harus berani melawan ketakutan

“Kepal Bunga Mawar” di Vigan City, Filipina. Artis tak diketahui. Via IG: @deeannrose

5 Alasan Kenapa Kita Mesti Berani Melawan Ketakutan

Kejadian pemboman serta baku tembak kemarin sejenak membuat perhatian kita terfokus menjadi satu. Yang sedang bekerja, sedang sekolah, sedang belanja maupun yang sedang santai-santai langsung pengin tahu apa yang tengah terjadi.

Kita saling bersimpati. Berbagai hashtag meluncur, termasuk juga #SafetyCheckJKT yang memastikan wilayah aman di ibukota. Belum dengan hashtag-hashtag dengan positive vibes-nya yang kentara. Kita seperti “berpelukan” untuk berbagi kenyamanan dari jarak jauh.

Semuanya prihatin, ikut cemas, takut dan seperti kata pejabat-pejabat… kita juga mengutuk. Namun sekali lagi, ada yang sampai bikin orang-orang asing tertarik… bahwa kita malah mempromosikan aksi keberanian dan perlawanan. Walau hanya hashtag atau tulisan-tulisan motivasi, tapi oh… terlihat sekali niat kita untuk saling tegar dan menguatkan.

Ada beberapa alasan kenapa kita mesti terus berjuang menghadapi dan melawan ketakutan:

#1. Karena Potensi dan Kekuatan Kita Bisa  Menurun

Terlalu menuruti rasa takut bisa melumpuhkan kekuatan kita. Yang hadir bukan optimis, malah rasa pesimis. Tak hanya itu… takut juga bisa menurunkan level keberanian, rasa cinta, kebahagiaan, motivasi dan hal positif lain. Kalau sudah “diperbudak” rasa takut… biasanya ada yang tak utuh dengan pikiran, perasaan, sikap atau keputusan diri sendiri.

#2. Karena (Sebenarnya) Rasa Takut itu Harus Dihadapi

Kita tak bisa kabur dari rasa takut. Rasa itu selalu memburu. Kita bisa “menjauh”, tapi rasa takut itu selalu ada, tak pernah sirna. Misalnya kita takut ke kamar A karena ada kecoa. Kita bisa saja pindah ke kamar B, menjauhi kecoa dan menenangkan ketakutan.

Tapi belum berarti kita jadi benar-benar berani. Rasa takut itu masih ada. Kejadian itu bisa terus berulang. Kita menjauh sebentar, lalu suatu saat akan berpapasan dengan kejadian serupa. Hal itu hanya bisa ditangani dengan cara dihadapi.

#3. Ketakutan Berlebihan Bisa “Sangat Menguras”

Rasa takut terkadang tidak masuk akal. Seperti takut akan kecoa, misalnya. Padahal secara ukuran badan, manusia lebih unggul. Lagipula kecoa tidak memiliki senjata api, racun berbisa, duri yang tajam, dsb.

Namun karena pikiran negatif, kita sudah jatuh di tangan hewan itu. Secara tidak langsung, kita sudah membuat mental dan emosional capek sendiri. Dalam hal ini kita bisa memilih sendiri; hidup dalam kurungan rasa takut dan perasaan/ pikiran negatif, ataukah hidup dalam aura keberanian disertai perasaan senang dan ringan.

#4. Karena Mayoritas Ketakutan Adalah Ciptaan Pikiran Sendiri

Sudah disinggung sebelumnya, kalau sesuatu yang kita anggap menakutkan kadangkala berasal dari “produk pikiran”. Padahal hal menakutkan itu sama-sekali tidak berbahaya.

Misalnya ketakutan hendak bertemu presiden atau orang penting lain. Ya kita tahu presiden itu tak akan tiba-tiba menampar atau menembak. Tapi kita tak bisa menghindari perasaan takut nanti terjadi hal-hal yang memalukan, takut salah ngomong, takut kancing baju lepas di depan presiden, dsb.

Ketakutan itu belum atau bahkan tidak terjadi, tapi pikiran sendiri sudah “ramai” memprovokasi. Dan kalau hal itu terlalu kita gaung-gaungkan, bukan tidak mungkin semuanya akan kacau. Kita akan gemetaran, sangat kikuk, blank, dsb.

#5. Karena Kita Memiliki Sandaran Yang Maha Kuat

Ironis, memang. Kita menakuti banyak hal, tapi kadang lupa sesuatu yang mestinya benar-benar membuat gelisah. Harusnya kita lebih ambruk ketika tak bisa melaksanakan perintah Allah Swt. Mestinya kita lebih takut ketika melanggar ketentuan-ketentuan-Nya.

Sebagai makhluk yang beragama, kita memiliki sandaran yang Maha Kuasa. Masalah boleh saja besar dan rumit, tapi pada akhirnya kita bisa kembali ke spot di mana bersimpuh dan memasrahkan diri itu bisa jadi sesuatu yang melegakan hati. Dan sejauh atau seberliku apapun perjalanan, pada akhirnya hanya padaNya kita kembali.

~

Kalau kata Pak Ahok sih, mereka yang sudah menebar rasa takut itu adalah pengecut. Jadi sebenarnya kita tak patut takut pada para pengecut. Kita tak nyaman, mereka yang menang. Sebaliknya ketika memilih berani, ketakutan itu bisa menipis sendiri. Demikian, 5 Alasan Kenapa Kita Tidak Mesti Takut akan Ketakutan. #RD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *