5 Alasan Kenapa Kopi dan Penulis Bisa Awet Menjalani Hubungan Baik

5 Alasan Kenapa Kopi dan Penulis Bisa Awet Menjalani Hubungan Baik

5 Alasan Kenapa Kopi dan Penulis Bisa Awet Menjalani Hubungan Baik

Via IG: @deeannrose

Kopi.

Para peminum kopi sedang dibuat resah. Akhir-akhir ini banyak banyolan terkait kopi. Ngopi di pinggir jalan, ketabrak Lamborghini. Ngopi di Starbucks, kena ancaman bom. Bahkan ngopi di kafe pun, takut kena racun sianida. Duh, mohon maafkan kalau candaan ini bikin sebagian orang jadi enggak nyaman?!

Daku ikut berduka-cita atas segala kemalangan yang terjadi akhir-akhir ini. Salah-satu yang paling hot ya terkait kasus kandungan sianida dalam segelas kopi itu. Sampai korbannya, Mirna, mesti meregang nyawa. Namun kali ini daku tak akan menggali lebih dalam. Biar kita serahkan saja pada pihak yang berwajib, untuk mengungkap misteri dibalik kasus pembunuhan dingin yang terbilang keji tersebut.

Bicara soal kopi, daku rasa diri ini mesti mengapresiasi minuman tersebut. Sebagai orang yang akrab dengan aktivitas menulis, daku tanpa sadar sudah menjalin hubungan lebih intim dengan kopi. Seperti ada chemistry sendiri, begitu.

Tapi daku yakin, masih banyak orang yang hobi menulis lain yang juga memiliki bonding khusus dengan kopi. Paling tidak ada beberapa alasan kenapa penulis dan secangkir kopi bisa berkolaborasi dengan baik. Jom!

#1. Kopi Menghalau Rasa Kantuk

Daku tak bisa menjamin kalau selepas minum kopi, mata kita akan terus-terusan terjaga. Tapi setidaknya, kandungan kafein pada kopi memang bisa mengurangi rasa suntuk atau kantuk. Hal ini tentu menguntungkan, sebab kita tak bisa menulis dalam keadaan tertidur, ‘kan? Hehe…

#2. Kopi Membantu Kita untuk Tetap Fokus

Distraksi, pikiran yang teralihkan atau malah “gagal fokus” adalah permasalahan sederhana namun serius yang bisa datang ketika proses menulis. Karenanya, kita memerlukan sebuah dorongan agar kinerja memori tetap stabil. Salah-satu yang bisa diandalkan yaitu secangkir kopi.

#3. Mental dan Pikiran Jadi Lebih Semangat

Ada rasa antusias tersendiri ketika kita tengah menulis, lalu sesekali menyeruput kopi. Rasanya otak itu tengah dalam keadaan yang prima. Otak seperti terangsang untuk bekerja, tapi dalam keadaan yang kita suka, tidak terpaksa. Jari menuliskan kata-kata dengan mengalir, dan otak siap membisikkan ide-ide fresh.

#4. Membuat Rutinitas Jadi Tidak Membosankan

Kegiatan menulis memang begitu terus secara berulang-ulang. Menyalakan perangkat, memijit-mijit keyboards, menuliskan berbagai kata, searching referensi, mengedit, merapikan dan tentu sambil ngopi. Terlihat membosankan, tapi sebenarnya tidak juga. Kopi seakan-akan mengalirkan energi tersendiri, apalagi kalau kita memang hobi nulis, hobi ngopi dan materi yang dituliskan adalah sesuatu yang bervariasi.

#5. Mood Jadi Lebih Baikan

Selain cokelat, kopi juga menjadi salah-satu minuman yang bisa mengurangi depresi. Kita juga bisa terhindar dari mood buruk. Sehingga proses menulis bisa berlangsung dengan ceria. Keceriaan itu bisa mendatangkan rasa positif, dan tentu pengaruh terhadap tulisan pun jadi lebih baik. Ndak baik juga kalau menulis dalam keadaan bersungut-sungut. Hehe…

Sebenarnya masih banyak faktor lain yang menyebabkan kenapa kopi dan penulis bisa terus lengket. Yang pasti, kita mencintai kopi dan tak peduli apakah kopi akan cinta balik atau tidak. Haha… terus juga, kopi memberikan apa yang terbaik bagi orang yang menyeruputnya. Mereka tak meminta balasan apa-apa. Hehe… peace.  5 Alasan Kenapa Kopi dan Penulis Bisa Awet Menjalani Hubungan Baik. #RD

6 Comments
  1. Marfa
    • deeann
  2. kangjum
    • kangjum
    • deeann
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *