5 Catatan Utama Ketika Dunia Membawa Kabar Duka

5 Catatan Utama Ketika Dunia Membawa Kabar Duka

5 Catatan Utama Ketika Dunia Membawa Kabar Duka

By: Loui Jover via IG @deeannrose

Datangnya kabar duka itu kadang enggak “ngetuk pintu dulu”. Mereka main serobot saja. Siap enggak siap. Kita dan mereka harus saling hadap.

Hhh…

~

“Assalamu’alaikum, selamat pagi…”

Meski daku sedang ngotak-ngatik ponsel, namun telingaku masih awas. Suara penyiar radio yang menyapa kok bukan “Teh R”? Sebagai salah-satu penggemar radio, khususnya yang ada di Kuningan-Jawa Barat, daku masih ingat betul kalau jam itu jadi jadwal beliau membawakan acara pembahasan obat-obatan tradisional dibumbui dengan lagu-lagu Sunda.

“Kok malah suara Kang A…?” Daku bertanya sama Mimih dan mimik muka beliau juga sama bingungnya, “Beliau ‘kan sudah bawain acara tadi pagi?!”

“Oh… Teh R ‘kan baru nikah?!” Daku menjawab pertanyaanku sendiri, tahu kalau minggu kemarin banyak penelepon yang mengucapkan selamat atas rencana Teh R untuk naik ke pelaminan, “Pantesan… masih pengantin baru. Mungkin masih libur.”

“Oh iya…” timpal Mimih, singkat saja.

Jadi Teh R itu termasuk penyiar yang memiliki banyak penggemar. Sering sekali, pengirim sms atau penelepon laki-laki berusaha menarik perhatiannya. Suara beliau merdu, orangnya ramah, ekspresif, ceria, responsif dan bisa membawakan acara dengan baik.

Nah, jadi sambil menjaga kios di pasar, radio memang menjadi alat hiburan yang bisa daku dan Mimih nikmati berdua. Dulu daku suka membawa speaker kecil, namun sering dibuat bingung ketika pengin mendengar The Corrs, The Beatles, Kelly Klarkson atau lagu-lagu dari penyanyi lain, tapi takut kurang cocok bagi Mimih.

Radio menjadi solusinya. Beliau itu suka sekali lagu dangdut dan sudah menetapkan beberapa saluran radio tertentu sebagai langganannya. Kalau daku lebih suka dengan lagu-lagu Sundanya. Daku kurang sreg aja mendengar lagu-lagu dangdut yang kekinian. Kecuali yang zamannya H. Rhoma Irama, Caca Handika, Yunita Ababil, Ikeu Nurjanah, Evi Tamala, dsb.

“Mohon maaf, untuk sekarang Kang A yang membawakan acara,” ujar Kang A, seolah-olah tahu apa yang ada dalam pikiran para pendengar, “Teh R sedang kapapaténan…

Seperti penyiar lain, beliau juga nyerucus terus. Namun memakai Basa Sunda, soalnya acara yang dibawakan memang bertemakan Sunda. Namun dari apa yang beliau katakan, kata “kapapaténan” sangat mengejutkan. Kapapaténan itu kurang lebih artinya sedang berduka, sedang kehilangan atau… sedang menghadapi musibah meninggal.

Tanda tanya tentang siapa yang meninggal terjawab sudah ketika penelepon pertama hadir. Seperti suara penyiar, suara penelepon yang satu ini juga sangat familiar. Beliau memang jadi fans setia yang pasti hadir sebagai penelefon.

“Ikut berduka ya Kang sama Teh R,” katanya, “Emang siapa itu teh Kang yang meninggalnya?”

“Suaminya, Bu…”

“Suami?” jangankan sang penelepon, daku saja sudah ternganga tak tercaya, “Laki-laki yang nikahin Teh R beberapa hari lalu?”

“Muhun, Bu..”

“Kita teh ketemu ‘kan waktu ondangan? Yang itu, Kang?”

“Iya, Bu, yang itu…”

“Tapi, ‘kan?! Dia…” getar dalam suaranya enggak bisa disembunyikan.

“Iya, Bu, kami juga sangat terpukul…”

“Ya Allah… mereka ‘kan baru berumah tangga…” ada jeda, “Belum seminggu atuh, ya? Baru lima harian, gitu?”

“Iya, Bu, iya…”

“Gimana ceritanya itu teh, Kang?”

“Akang juga enggak tahu, Bu,” kali suara penyiarnya yang bergetar, “Tahu-tahu dapat kabar sudah koma, lalu meninggal…”

“Ya Allaaah…”

~

Daku yakin, siapapun pendengarnya pasti akan sama-sama tersentak. Mengetahui seseorang menjadi pengantin baru, yang ada dalam pikiran kita mungkin tentang euphoria. Mereka sedang dalam keadaan sukacita.

Tapi begitulah kabar duka. Datang kadang tak tahu sopan-santun. Tak peduli si manusia masih sedang betah atau tidak, kalau sudah waktunya… ya sudah.

Daku tak yakin bisa sekuat itu ketika ditinggalkan salah-satu orang yang dicintai secara mendadak. Apalagi ketika kita membayangkan masa depan yang panjang, jalan hidup yang membentang dan banyaknya kesempatan untuk mengukir memori-memori terbaik.

Kabar duka pastinya sering membawa efek tersendiri. Wajar adanya. Namun ada beberapa catatan yang perlu kita perhatikan:

#1. Depresi

Sedih, airmata, rasa stress atau mungkin depresi adalah sesuatu yang lumrah hadir di hati orang-orang yang kehilangan. Namun bukan hal baik juga apabila semua itu terus mengakar.

Mesti ada pihak yang lebih kuat, yang meloloskannya dari derita rasa depresi. Ada yang bersifat sementara, dan ada juga yang merasakannya sepanjang waktu. Dari bangun tidur sampai mau menutup mata lagi. Hal ini tentu sangat mengusik aktivitas dan efektivitas keseharian.

#2. Rasa Percaya Diri Drop

Kita bisa langsung mémblé. Menganggap tak ada gunanya lagi untuk hidup, manakala orang yang dicintai sudah tiada. Itu yang daku tangkap dari sebuah berita kriminal. Kisahnya sangat menyayat.

Tentang seorang ibu (suaminya entah kemana) dengan 3 orang anak. Ibu tersebut dibunuh dan si cikal yang berteriak-teriak kalau pembunuhnya mesti dihukum berat. Ia bilang, hidup dan perjuangannya yang keras sudah tiada berguna lagi kalau orang yang pengin mereka bahagiakan sudah berpulang. Lebih lagi dengan cara yang tak semestinya.

#3. Halusinasi/ delusi

Sering kita dengar ada orang yang melihat sekelebat bayangan, mendengar suara, atau membaui aroma tubuh orang yang sudah meninggal. Sebagian orang memercayai kalau arwahnya memang tengah berkunjung. Tapi sebagian lain menganggap kalau semua itu hanya halusinasi. Itu karena kita sudah terbiasa dengan hadirnya orang itu. Hal ini sangat bittersweet. Menyedihkan sekali.

#4. Proses Penerimaan

Sulit. Sangat sulit. Daku masih ingat saja ketika kakak meninggal. Waktu itu seakan ada kepercayaan kalau beliau itu sebenarnya masih hidup. Apa yang terjadi hanya mimpi. Bagaimanapun, beliau masih terlalu muda dan terlalu dibutuhkan untuk berpulang.

Seiring berjalannya waktu, yang lama sekali, daku mesti belajar menerima kenyataan atau takdir hidup. Kalau beliau itu milik Allah Swt, dan pasti akan kembali pulang pada-Nya. Demikian juga dengan daku dan manusia-manusia lainnya, yang segera menyusul kemudian.

#5. Move On

Meninggalnya seseorang yang kita cintai bukan berarti hidup ini berakhir. Hanya saja… hidup akan terasa lebih berbeda. Dan kita mesti menyesuaikan perbedaan itu. Mesti terbiasa dengan tiadanya sosok yang sudah kembali ke pemilik-Nya, sambil berharap suatu saat kembali dikumpulkan di tempat yang layak. Aamiin.

Move on di sini benar-benar mencakup segalanya. Lebih menghargai hidup, belajar kembali berbaur di dunia sosial, mencoba membuka hati lagi, berusaha memercayai dunia lagi dan kembali bersandar pada-Nya atas lanjutan langkah hidup kita.

~

Kita bisa tengok sekitar. Jika orang-orang yang dicintai masih ada dan bernapas seperti biasanya, sebisa mungkin untuk memantapkan tekad. Bahwa kita akan menjadi yang terbaik bagi mereka. Sebab, siapa tahu… #RD

4 Comments
  1. widia.pratiwi
    • deeann
  2. Gisa Astania
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *