Sesekali Menjadi Orang yang Tidak Tahu Diri

6 Keuntungan Kalau Kita Menjadi Orang yang Tidak Tahu Diri (Sesekali)

6 Keuntungan Kalau Kita Menjadi Orang yang Tidak Tahu Diri (Sesekali)

By: Alex Cherry via IG: @deeannrose

“Jadilah orang yang tahu diri…”

Daku kembali mengingat pesan seorang guru semasa MTs/ SMP pada kami murid-muridnya. Dulu nasihat tersebut terkesan sarkastik. Tapi semakin lama, pesan tersebut semakin terasa… sulit untuk diterapkan.

Lupakan dulu orang-orang yang kita anggap tidak tahu diri. Mereka yang kita anggap sedang lupa bagaimana caranya bersyukur, berterima kasih atau menunjukkan apresiasi. Kita bicara tentang diri sendiri dulu. Sebab, ada momen di mana kita baru sadar “betapa tidak tahu dirinya diri ini”.

Itu yang kini tengah membelengguku.

Katakanlah… daku memiliki sosok yang sudah sangat banyak menolong. Dia adalah sahabat, kakak, mentor dan senior, yang semuanya berstatus “hebat” untuk ukuran seorang manusia. Daku menghormati, menyegani dan menyayanginya.

Namun di suatu hari, daku melakukan sesuatu yang sangat mengecewakan sosok itu. Tak wajar kalau dia tak merasa kecewa berat. Karena itu dia meluapkan rasa kecewanya. Daku sebelumnya sudah menghadapi bagaimana kemarahannya. Namun yang sekarang terasa sekali… dia kecewa berat, sampai memintaku untuk “mandiri”, lepas dari keterikatan dengannya.

Daku sendiri rasanya tak akan terbiasa untuk “lepas” darinya. Jadi, meski dia yang meminta, dakunya saja yang tak rela. Belum juga bikin bangga, sudah bikin kecewa dan mau “berpisah” begitu saja? Ah…

Di titik itu, daku tak mencengkeram kerah siapa-siapa. Yang terdekat saja; diri sendiri. Malah, seperti ada yang sudah memukul kepalaku sendiri sambil bilang, “kamu enggak tahu diri!”

Daku langsung kacau. Tarian jemari di tuts keyboard begitu berantakan. Pikiran dan perasaanku jangan ditanya. Semuanya sempoyongan.

Daku menjadi orang yang tidak tahu diri dan kesadaran itu membawaku pada…

#1. Daya Ingat yang Menguat

Ketika belum sadar kalau kita ini “sedang tidak tahu diri”, kita cenderung lupa. Namun begitu sadar, kita langsung ingat segalanya. Khususnya terhadap apa yang sudah diberikan secara detail. Tak melulu yang bersifat materi atau kebendaan. Lebih dari itu. Dorongan, arahan, tempat bersandar, rasa percaya diri, dsb. Dari siapapun itu.

#2. Berimajinasi

Sikap tak tahu diri kadang mengarahkan kita pada bayangan “gimana kalo”. Bagaimana kalau sikap kita sudah terbilang keterlaluan, bagaimana kalau hubungan pun pecah begitu saja, bagaimana kalau kita tak memiliki kesempatan untuk berusaha lebih baik lagi, dan “gimana kalo” lainnya. Kita bisa imajinasikan, bagaimana kalau hal itu terjadi. Pasti ada perbedaan yang kentara kalau hidup kita tanpa mereka yang sudah dikecewakan.

#3. Semakin Mengapresiasi

Begitu sadar betapa tidak tahunya diri ini, kita langsung ingat akan kebaikan-kebaikan yang pernah dirasakan. Kebaikan yang tanpa pamrih. Kebaikan yang kita abaikan. Namun kini kebaikan itu mulai kita renungkan dan apresiasi.

#4. Merasa Bersalah

Dihantui rasa bersalah adalah salah-satu siksaan besar dalam hidup. Meski tak ada luka gores, tak berdarah atau tak terbakar, namun hati ini merasa sakit. Hati merasa selalu risau. Tapi derita ini membawa kita pada kesadaran kalau diri inilah yang salah. Tak perlu menuding keadaan atau orang lain.

#5. Meminta Maaf

Butuh mental kuat atau keberanian lebih untuk meminta maaf. Apalagi terhadap orang dekat. Kita mesti mengesampingkan ego atau harga diri. Padahal memohon maaf sama sekali tak membuat derajat diri jadi anjlok, ya?! Tapi begitulah hikmah ketika kita sadar betapa tidak tahunya diri ini… kita jadi sudi untuk mengakui kesalahan dan bahkan meminta maaf.

#6. Termotivasi untuk Lebih Baik

Kesadaran kalau kita sudah tahu diri menjadikan diri ini termotivasi. Khususnya untuk lebih… tahu diri, tentunya.

~

Segala sesuatu bisa dipandang dari arah positif, ya. Selalu ada hikmah dari segala tindakan, termasuk ketika kita sedang tidak tahu diri. “Menguntungkan”, tapi sikap tidak tahu diri ini sangat tidak diinginkan.

Well, menjadi orang yang tidak tahu diri… sesekali (saja). Jangan sampai berulang kali. Kalau bisa, jangan lagi-lagi. #RD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *