Cabut Gigimu Sebelum Tercabut Kebahagiaanmu

Cabut Gigimu Sebelum Tercabut Kebahagiaanmu

cabut gigi, cerita cabut gigi, pengalaman cabut gigi, cabut gigi tidak sakit, cabut gigi bahagia, cabut gigi geraham berlubang, setelah cabut gigi, cabut gigi tanpa rasa sakit, cabut gigi geraham, biaya cabut gigi, cabut gigi geraham bawah

Via: worldartsme.com [Edit]

“Sebanyak apapun aset kekayaanmu, setinggi apapun jabatanmu, seenak apapun musik kesukaanmu, atau selezat apapun makanan dan minuman yang tersaji di hadapanmu, semuanya berubah jadi tidak asyik kalau gigi merasa sangat sakit…”

~

Pertengahan bulan Januari 2016 kemarin, daku mendapat kabar kalau kakak ipar dilarikan ke puskesmas setempat. Daku pun segera menengok. Begitu memasuki area lorong perawatan pasien saja, bau khas obat-obatan langsung menusuk. Kadang-kadang bikin enggak nyaman. Apalagi, kebetulan daku tengah merasakan nyeri di gigi.

“Kenapa enggak sekalian periksa aja, atuh?” saran Mimih setelah kukeluhkan gigi geraham bagian kanan bawah, “Mumpung di sini. Kalau disengajain ‘kan suka males?!” bujuknya.

It makes sense.

“Kalau dicabut, gimana?” Daku bertanya tak pada ahlinya, “Takut, ah!” akuku.

“Enggak bakal, ah!” ujar Mimih penuh ketidakyakinan, “Yang penting periksa saja dulu, daripada nanti teh sakit terus?!”

Awalnya daku mencari alibi untuk menghindari proses pemeriksaan gigi. Galau juga. Pengin sembuh, tapi enggan diperiksa, sebab takut musti dicabut. Tapi kalau dibiarin juga percuma. Rasa nyerinya semakin menjadi. Apalagi daku tidak meminum penawar sakit gigi apapun. Sampai akhirnya… daku pun bersedia.

Dokter giginya laki-laki. Beliau dibantu asisten perempuan yang terus saja ngomong. Daku senang sebab dokternya terlihat mantap. Tapi daku kurang percaya pada orang yang mendampinginya. Maksudnya bagaimana, ya? Kurang meyakinkan, begitu.

Sesuatu yang daku takutkan pun terjadi. Dokter memvonis musti cabut gigi. Dan, daku yang sangat kaget pun menyatakan ketidaksiapan. Ciut benar! Ini bakalan jadi agenda cabut gigi perdana dalam hidupku.

Waktu itu kondisi giginya memang sedang sakit, jadi agenda ngeles-ku diterima. Beliau pun hanya memberikan obat Amoxillin 500mg dan Paracetamol. Namun sebelum daku pergi, beliau tak lupa menyerukan sesuatu yang mendadak bikin daku cemas,

“Siap-siap ya, Neng, ketemu lagi hari Senin!”

No!!!

~

Mitos Dicabut Gigi

mitos cabut gigi, cabut gigi saat sakit, cabut gigi saat sakit gigi, cabut gigi sakit tak, cabut gigi sakit atau tidak, cabut gigi sakit gak, obat cabut gigi ampuh, pereda sakit gigi, cabut gigi tidak sakit, proses cabut gigi

Amoxillin 500mg dan Paracetamol benar-benar ampuh meredakan sakit gigiku. Diulang, me-re-da-kan, bukan mengobati. Daku jadi tak terganggu lagi dengan rasa nyeri, ngilu, dan juga sakit kepala. Lebih lagi biayanya murah. Hanya daftar ke puskesmas, dibuatkan kartu anggota, dan dikenakan biaya 5000 saja. Woah, terima kasih banyak!

“Senin” yang diserukan dokter tak pernah terjadi. Daku tidak datang lagi untuk sesuatu yang mereka sarankan, ya, cabut gigi itu. Alasannya… oke, yang paling pertama karena daku masih takut. Kedua, keluhan gigiku tak lagi menyiksa. Ketiga, daku tidak mau saja.

“Nanti teh dikasih obat baal,” begitu kata kakak yang sudah berpengalaman, “Pipi kita ditampar sekeras apapun enggak bakal terasa.”

“Oke,” Daku tak mencium ada yang membahayakan dalam proses tersebut.

“Selanjutnya disuntik, terus…” perkataan kakak daku potong.

“Disuntik?” pertanyaanku dijawab dengan anggukan, “Disuntik apanya, gitu?” Daku membayangkan area lengan atau paha.

“Ya gusinya atuh! Ugh! Rasanya sakiiit banget!” jawab kakak sambil mendramatisir mimik muka, dan dia langsung menyeringai ketika melihatku berubah pucat, “Kita teh bakalan dipegangin sama empat asisten dokternya, meronta-ronta juga percuma, terus giginya dicabut paksa deh pakai palu kecil. Muahahaha…

So evil!

Daku tak ikut ketawa, tapi merasa mantap untuk mengurungkan diri agar tidak dicabut gigi. Sudah salahku untuk tidak curhat sama kakak yang satu ini. Tidak menolong pisan!

Tapi rasa sakit pada gigi kian lama kian mengganggu. Daku baca-baca di internet. Intinya kalau soal menangani gigi yang bermasalah dan sudah harus dienyahkan, tidak ada jalan lain selain dicabut. Daripada sakit terus? Daripada menyebar ke gigi lainnya?

“Yang enggak mau dicabut kita sendiri, yang sakitnya juga kita sendiri…”

Itu yang ada dalam pikiranku.

“Dicabut gigi itu enggak bisa diwakilkan. Kita musti lebih berani untuk menghadapinya sendiri.”

Hal lain ada dalam pikiranku.

Daku seperti sedang mengadakan diskusi umum dalam pikiranku sendiri. Ada yang tidak setuju dicabut, dan ada juga yang mengkampanyekannya. Pihak yang kedua pun menang. Tepat pada hari Senin (15/02/16), daku menyatakan kesiapan untuk dicabut gigi.

Sempat terpikirkan untuk datang ke dokter gigi khusus, yang kebetulan berdekatan dengan lokasi lembaga kursus, tempat daku mengajar. Namun Mimih bilang, yang praktik di puskes pun sama saja dokter gigi. Menurut beliau, daku sudah terlanjur diperiksa di sana. Lagipula, prosedur dicabut gigi pasti akan sama, gitu-gitu juga. Biayanya pun diprediksi jauh lebih murah.

Dengan memantap-mantapkan diri dan mengulang-ulang basmalah, daku pun bersiap mendatangi puskesmas. Secara kebetulan, kakakku yang lain datang. Beliau menawarkan tumpangan yang segera daku sambut.

“Kalau daku sudah di dalam, enggak apa-apa pergi juga,” Daku takut kakak punya urusan lain, “Nanti pulangnya mah banyak ojek atau naik angkot.”

“Enggak,” tukasnya tegas, “Takut…”

“Takut apa?” Daku merasa ada yang tidak beres.

“Mau siap-siap saja, takut nanti Si Iyang menjerit,” jelasnya dengan roman wajah yang datar tanpa dosa dan beban, “Kalau ada Aa mah ‘kan enak.”

Glek!

Daku sudah tanggung ada di muka puskesmas. No way harus balik lagi dan menunda niat yang nyalinya ditumpuk sejak lama. Ugh!

~

Proses, Biaya, dan Obat Setelah Dicabut Gigi

foto dicabut gigi, cabut gigi geraham bawah, biaya cabut gigi, cara cabut gigi berlubang, efek cabut gigi, proses cabut gigi, cabut gigi saat sakit, cabut gigi geraham kanan bawah, mitos cabut gigi, cabut gigi di puskesmas, cabut gigi dokter gigi

Via: cliparthut.com

Sebisa mungkin daku menenangkan diri ketika sudah memasuki ruangan dokter. Lututku melemas begitu melihat kalau dokternya perempuan dan sendirian. Tapi bukan asisten atau yang sedang praktik. Hanya saja tak ada dokter laki-laki yang sebelumnya sudah memeriksaku.

“Yah! Kenapa baru ke sini sekarang?” tanya sang dokter setelah melihat tanggal periksaku sebelumnya, “Mustinya pas obat habis langsung ke sini, ih kamu mah!”

Siapa sangka, interaksi yang berawal dari omelan itu membuatku merasa nyaman. Sang dokter yang tentu sudah berpengalaman berkomunikasi dengan pasien memang bisa mencairkan kecanggungan. Yang perlu daku lakukan adalah memberi kepercayaan penuh padanya, kalau dia bisa bekerja secara profesional dan… dan, tak akan menyakitiku. Huhu…

Proses dicabut gigi itu… pertama-tama dokter meminta kita membuka mulut dan memastikan gigi mana yang hendak dicabut. Kita kemudian dipinta untuk berkumur dulu. Setelah itu, beliau seperti mengoleskan semacam obat bius.

Lalu, beliau menyiapkan jarum suntik. Karena daku takut berubah pikiran, maka kututup mataku agar jarum tersebut hilang dari pandangan. Melihat kegelapan rasanya lebih baik ketimbang menyaksikan ujungnya yang lancip, yang sedang dihunuskan pada area mulutku.

Daku ingat perkataan kakakku dan mimik mukanya yang menakut-nakutiku, kalau disuntiknya itu adalah proses yang paling sakit. Ya, daku merasakan ada tekanan berlebih pada gusiku. Tapi sensasinya masih bisa ditolerir. Enggak sakit, kok! Aaargh..! Daku jadi mengecam diri yang sudah takut berlebihan pada sesuatu yang belum terjadi.

“Tunggu dulu sampai baal, ya,” ujar sang dokter.

“Berapa lama, Bu?”

“Lima sampai sepuluh menitan, lah,” katanya mengira-ngira.

Daku benar-benar pengin semuanya berjalan dengan cepat. Kalau sudah mantap melakukan sesuatu, lalu kemudian ada sesuatu lain yang mengulurnya, rasanya kurang enak. Tapi daku kemudian memainkan ponsel, yang memang selalu berhasil menyita perhatian.

Oh, obatnya mulai bereaksi. Area yang disuntik itu terasa menebal atau membesar. Bibir juga serasa enggak simetris. Aneh, pokoknya. Sensasi baal pun mulai menghampiri. Benar kata kakak, dicubit pun enggak kerasa.

“Puyeng, enggak?” wajah dokter tiba-tiba ada di depanku.

Daku tak langsung menjawab, melainkan merasakan sendiri. Daku pusing enggak, sih? Haha… Sepertinya terlalu konsentrasi pada proses cabut gigi, sehingga puyeng pun tak dirasakan.

“Enggak, Bu.”

“Oke. Siap, ya?!”  Beliau meminta konfirmasi dan daku rasa wajar kalau tubuh ini mendadak letoy.

Daku hanya mengangguk. Anggukannya lebih ke… anggukan pasrah-mau-gimana-lagi ketimbang anggukan mantap. Phew!

“Kalau sakit, bilang, ya!”

Ya iyalah!

“Mungkin itu teh obatnya belum menjangkau semua area yang mau dicabut,” tuturnya lagi, yang daku timpali dengan singkat saja.

Beliau mengeluarkan alat, dan lagi-lagi daku menutup mata. Namun khusus yang satu ini, daku sempat mengintip. Wilayah gigiku diusik sedemikian rupa. Daku merasakan tekanan kuat, gimana saja kalau dicabut. Dan kakakku sebenarnya benar juga, gigi kita memang dicabut secara paksa. Tapi karena pengaruh obat, rasanya tak sakit seperti yang sudah daku sangkakan. Mitos!

Daku hampir bernapas lega sebab dokter berhenti menangani gigiku, tapi tubuhku bersandar lagi setelah beliau bilang,

“Nanti dulu, mau memastikan enggak ada yang tersisa.”

Daku mengapresiasi usahanya untuk bekerja secara total dan profesional. Enggak kebayang kalau ada yang masih tersisa. Walau seuprit, tetap saja jadi sumber sakit. Daku pun pasrah. Segala sesuatu juga ada waktunya. Daku mesti memercayai sang dokter.

Alhamdulillah selesai. Gigiku dijejali kapas yang sudah diberi obat. Daku menggigitnya, tak terlalu kuat juga tak terlalu lemah. Kuapresiasi diriku sendiri yang sudah keluar dari zona nyaman, memberanikan diri. Hehehe… ada kebahagiaan tersendiri.

Kita dikenakan biaya tambahan sebesar empat puluh ribu rupiah, jauh lebih murah ketimbang harga yang diajukan dokter gigi. Katanya mencapai ratusan ribu. Setelah menyerahkan kuitansi, daku melihat dokter juga membuat resep obat.

obat sakit gigi, obat dicabut gigi, amoxillin, paracetamol, amoxillin and paracetamol, obat sakit gigi di apotik, obat sakit gigi di puskesmas, obat sakit gigi berlubang, obat sakit gigi paling ampuh, obat gusi bengkak, obat sakit gigi darurat, resep obat sakit gigi

“Mau dikasih obat, Bu?”

“Iya lah…”

“Kapan kapasnya bisa dibuang?”

“Tiga puluh menitan dari sekarang.”

“Sesudah dibuang, jangan makan dan minum dulu ya, Bu?”

“Hmm… iya baiknya jangan dulu.”

“Berapa lama?” tanyaku lagi, “Sehari?”

Ibu dokter tertawa.

“Enggak atuh, Si Neng mah! paling setengah jam.”

Daku mengernyit membayangkan diri langsung makan atau minum, sementara sensasi rasa obat masih terasa di mulut. Eeew!

Setelah mengucapkan terima kasih dan pamitan, daku membayar di tempat pendaftaran. Setelah itu menyerahkan resep obat dan menunggu panggilan. Tak lama, tiga jenis obat sudah ada di tangan.

Ada Amoxillin 500mg yang fungsinya sebagai antibiotik atau penawar infeksi bakteri. Jumlahnya 10 biji, diminum 3x sehari. Lalu ada Paracetamol yang posisinya sebagai analgetik, atau pereda rasa nyeri yang nyaman di lambung, apalagi kalau kita ada riwayat penyakit maag. Jumlahnya juga 10 dan mesti diminum 3x sehari. Yang terakhir warnanya kuning. Daku kurang tahu. Mungkin, ya. Mungkin semacam obat anti inflamasi atau yang mengatasi pembengkakan atau radang.

~

Begitulah pengalaman dan cerita dramaku ketika memutuskan untuk cabut gigi. Hehe… daku sarankan untuk menuruti opsi ini jikalau dokter yang memeriksa sudah menyarankannya. Yang lebih menyiksa itu sebenarnya bukan proses ketika cabut giginya, tapi rasa nervous dan ketakutan berlebih, bahkan sebelum proses berlangsung. Cabut Gigimu Sebelum Tercabut Kebahagiaanmu. Fighting! #RD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *